Menumbuhkan Inisiatif Anak

Sebagai orangtua, pernahkah Anda merasa kesulitan membuat anak konsisten dalam belajar? Atau pernahkah Anda mengeluh karena sulit rasanya meminta mereka belajar? Mengapa sering kali kita harus marah atau mengingatkan mereka berkali-kali sebelum mereka melakukan sesuatu?

Inisiatif anak dalam memulai sebuah perilaku disebut dengan regulasi diri. Regulasi diri mencakup aspek motivasi, kognitif, perilaku, dan  emosi. Anak dengan regulasi diri yang baik akan secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran tanpa harus ada orangtua atau guru sebagai pemberi instruksi. Mereka juga memiliki target dan mampu memonitor progress, perencanaan, dan perilaku untuk dapat mencapai target tertentu.

Salah satu kunci penting dalam regulasi diri adalah motivasi. Motivasi menentukan apakah anak akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Motivasi dibagi menjadi 2, yaitu motivasi internal dan eksternal. Untuk membahasnya, mari kita mengambil contoh perilaku mengerjakan tugas sekolah.

  1. Motivasi Internal
    Motivasi internal adalah motivasi yang timbul dari aktivitas itu sendiri. Perilaku yang dilakukan dengan dorongan motivasi internal tidak membutuhkan reward lain diluar aktivitas tersebut. Ketika anak menikmati mengerjakan tugas, kita tidak perlu mengancam atau memberikannya hadiah agar mereka mau melakukannya. Mereka akan mengerjakan tugas karena mereka menyukai aktivitas tersebut.
  1. Motivasi Eksternal
    Motivasi eksternal adalah motivasi yang timbul karena ada sesuatu di luar aktivitas tersebut. Biasanya, anak-anak yang melakukan sesuatu karena motivasi eksternal mengejar reward atau menghindari hukuman. Contoh, anak mengerjakan tugas karena ia ingin mendapat nilai bagus di raport. Atau bisa jadi anak mengerjakan tugas karena ia tidak ingin dihukum oleh orangtua.

Regulasi diri akibat motivasi eksternal memang mampu membuat anak “bergerak”, hanya saja itu tidak cukup baik. Membuat anak mengerjakan tugas karena mereka menantikan hadiah atau menghindari hukuman dari orangtua tidak dapat membuat perilaku itu bertahan lama. Tapi aktivitas yang dilakukan karena anak mengerti nilai dari aktivitas tersebut akan memunculkan inisiatif.

Sebagai orangtua, tugas kita adalah membantu mereka untuk mengerti kenapa mereka harus melakukan sesuatu. Dalam hal ini, kita perlu membantu anak melihat bahwa mengerjakan tugas bisa jadi menyenangkan atau memberikan manfaat ketika mereka melakukannya. Bagaimana kita melakukannya?

  1. Membentuk lingkungan yang mendukung otonomi

Dalam salah satu penelitian yang dilakukan oleh Deci (1971; dalam Grolnick & Farkas, 2002) menunjukan bahwa memberikan reward (eksternal) kepada anak untuk aktivitas yang sudah memotivasi secara internal malah akan menurunkan motivasi internal tersebut. Meskipun intensi kita adalah baik, kita perlu belajar untuk membiarkan keputusan yang diambil anak untuk tetap menjadi keputusan mereka. Ketika kita memberikan reward untuk aktivitas (contoh: mengerjakan tugas) yang sudah termotivasi internal, secara tidak langsung kita mengatakan bahwa kita lah yang ingin mereka mengerjakan tugas, bukan mereka sendiri yang mau.

Mengembangkan otonomi anak secara bertahap sangatlah penting. Hal ini juga menunjukan bahwa mereka bisa, diperbolehkan, dan didukung untuk melakukan sesuatu di luar dari apa yang biasanya diperintahkan oleh orangtua. Apakah ini pemberontakan? Tidak selama kita memberikan koridor yang tepat. Dengan demikian, kita mengajarkan anak bahwa mereka tidak harus selalu menunggu instruksi kita untuk melakukan sesuatu.

  1. Mendukung kompetensi mereka dengan memberikan guideline atau peraturan spesifik yang dapat mereka ikuti.

Selain otonomi, anak juga memerlukan pemahaman yang jelas tentang bagaimana mereka seharusnya melakukan sesuatu dan apa dampaknya. Contoh, dalam mengerjakan tugas matematika. Kita perlu menjelaskan bahwa jika mereka tidak teliti, mereka akan mendapatkan jawaban yang salah. Atau misalnya menentukan jam mengerjakan tugas harus di bawah jam 10 malam agar mereka tidak terlalu capek keesokan harinya. Pastikan mereka mengerti mengapa peraturan ini dibuat.

Ketika anak sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu, adalah tanggung jawab kita sebagai orangtua untuk memfasilitasi mereka. Apalagi ketika mereka memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Guideline, peraturan dan konsekuensi yang jelas akan membantu mereka untuk lebih berani bergerak.

  1. Adanya kehangatan dan kepedulian dalam keluarga

Yang terakhir yang tidak kalah penting adalah adanya kehangatan dan kepedulian dalam keluarga. Ketika ada rasa aman dalam keluarga, anak akan lebih yakin untuk menginternalisasi nilai-nilai yang ditunjukan atau diinternalisasi oleh keluarga.

Referensi
  • Grolnick, W. S., & Farkas, M. (2002). Parenting and the development of children’s self-regulation. Handbook of parenting5, 89-110.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: School photo created by master1305 – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed