Komitmen dalam Pernikahan
“…Saya berjanji…”
“…menemani dalam suka dan duka…”
“…bersama hingga maut memisahkan…”
Ketika kita menikah, janji pernikahan adalah hal yang tidak boleh lupa untuk dilakukan. Janji pernikahan diucapkan dengan lantang di depan banyak saksi. Tidak heran ketika istri atau suami menangis mendengar pasangan mereka membacakan janji suci itu. Ketika kita menikah, kita meninggalkan kehidupan kita yang lama dan bersiap untuk membangun yang baru bersama dengan pasangan kita. Janji pernikahan merefleksikan emosi, kesediaan untuk menyerahkan hidup, dan komitmen untuk terus hidup berdampingan.
Komitmen yang dibuat saat pernikahan tidak hanya berbicara tentang “tetap berada dalam pernikahan”. Tapi ini juga mencakup komitmen untuk saling mendukung, saling membantu saat memasuki masa-masa sulit dan saling memahami. Komitmen menjadi titik awal dan pondasi sebelum aspek lain dalam pernikahan (seperti kepuasan pernikahan, dll) muncul.
Komitmen adalah sebuah keputusan yang menjelaskan mengapa individu terlibat dalam aktivitas-aktivitas tertentu secara konsisten. Dalam kasus pernikahan, komitmen menjelaskan adanya kegigihan untuk bersatu (Nock, 1995). Komitmen pada pernikahan membantu kita untuk mengerti: mengapa ada orang yang bertahan dalam pernikahan walaupun mengetahui pasangannya selingkuh; mengapa bertahan meskipun mengalami kekerasan; atau kasus-kasus lain yang membuat orang lain bertanya “mengapa tidak bercerai saja?”
Saat ini, bercerai sering kali menjadi solusi untuk konflik dalam pernikahan. Tidak jarang kita mengasosiasikan pasangan kita sebagai masalah itu sendiri, sehingga bercerai sama dengan berpisah dengan masalah. Kita juga mungkin menimbang-nimbang pro dan kontranya, seperti: daripada bertengkar setiap hari dan membuat sakit hati, daripada hidup seperti dipenjara, atau pertimbangan-pertimbangan lain.
Memang benar bahwa terekspose pada konflik setiap hari tidak baik untuk kesehatan mental. Dalam konteks keluarga, suami istri yang bertengkar setiap hari akan memberikan dampak negatif pada anak. Oleh sebab itu, bagi yang belum menikah, pastikan Anda sudah mengenal pasangan Anda dengan baik, bahkan saat di masa-masa terburuknya. Bagi yang sudah menikah, mari kita belajar bagaimana komitmen bekerja dalam pernikahan kita.
Di dalam pernikahan, komitmen memiliki 2 peran (Schoebi, Karney, & Bradbury, 2012):
- Untuk mendorong individu terlibat dalam perilaku yang mempertahankan pernikahan.
- Untuk mendorong individu tetap gigih bertahan dalam pernikahan.
Hasil penelitian Schoebi, Karney, dan Bradbury (2012) menunjukan bahwa terlibat dalam perilaku yang berguna untuk mempertahankan pernikahan akan memperlambat munculnya ketidakpuasan dalam pernikahan. Sedangkan pasangan yang gigih bertahan dalam pernikahan akan mendorong adanya perilaku yang konstruktif saat proses menyelesaikan masalah.
Komitmen dalam pernikahan juga memiliki “sisi taruhan”. Ketika kita memutuskan untuk menikah dan berkomitmen di dalamnya, kita akan mendapatkan keuntungan yang tidak bisa dapatkan di luar pernikahan. Keuntungan ini membuat bercerai jadi memiliki sisi kerugian. Contohnya adalah kebahagiaan saat mengasuh anak atau adanya relasi yang lebih intim dengan pasangan. Ketika bercerai, kita tidak dapat lagi menikmati waktu mengasuh bersama pasangan, atau kita kehilangan relasi intim kita dengan pasangan.
Semakin lama kita berkomitmen, maka semakin besar nilai keuntungan tersebut. Semakin besar nilai keuntungan tersebut membuat semakin besar pula potensi kehilangan ketika kita keluar dari pernikahan. Besarnya nilai potensi kehilangan akan mendorong kita untuk semakin berkomitmen.
Contoh, bagi individu yang menikmati kebersamaan dalam keluarga, kehilangan kebersamaan itu akan menjadi konsekuensi yang sangat berat. Apa lagi ketika adanya kehadiran anak membuat kebersamaan itu menjadi lebih bernilai. Hal ini akan mendorong individu untuk tetap bertahan (memegang komitmen) dan mengupayakan resolusi dalam mpernikahan.
Hal-hal yang hanya pernikahan bisa berikan ini memunculkan kebutuhan untuk saling bergantung, dan kemudian kebutuhan ini akan memunculkan kesatuan di dalam relasi suami-istri.
Referensi
- Nock, S. L. (1995). Commitment and dependency in marriage. Journal of Marriage and the Family, 503-514.
- Schoebi, D., Karney, B. R., & Bradbury, T. N. (2012). Stability and change in the first 10 years of marriage: Does commitment confer benefits beyond the effects of satisfaction?. Journal of personality and social psychology, 102(4), 729.
Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Flower photo created by prostooleh – www.freepik.com
Others
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025
- Helping Clients Heal from Father Wounds July 16, 2025
- Bisa romantis tapi gak kompak ngasuh anak? July 3, 2025

