Apa yang Menyebabkan Work-Family Conflict?

Bekerja sambil mengurus keluarga memang tidak mudah. Kita mungkin masih harus memikirkan keluarga ketika kita bekerja, dan mengurus pekerjaan ketika sedang bersama keluarga. Hal ini menjadi lebih rumit ketika suami dan istri tidak memiliki pembagian peran yang jelas dan atau keduanya sama-sama bekerja.

Tuntutan pekerjaan dan tuntutan dalam keluarga sangatlah berbeda. Kebanyakan dari tuntutan-tuntutan tersebut juga tidak sejalan. Ketika kita memenuhi yang satu, kita jadi semakin jauh dari ekspektasi tuntutan yang lainnya. Contohnya ketika pekerjaan kita menuntut kita untuk lembur atau membawa pekerjaan ke rumah, maka kita mengorbankan waktu untuk keluarga. Adanya dua tuntutan yang bertolak belakang ini menyebabkan individu mengalami konflik peran.  

Work-family conflict adalah salah satu bentuk dari konflik peran. Konflik akan terjadi ketika partisipasi kita dalam pekerjaan membuat partisipasi kita di keluarga menjadi lebih sulit (Greenhaus & Beutell, 1985).  Menurut Greenhaus dan Beutell (1985), ada tiga penyebab utama terjadinya work-family conflict:

1. Konflik karena waktu

Setiap peran yang individu miliki pastinya akan berlomba-lomba untuk mendapatkan jatah waktu. Konflik karena waktu bisa terjadi dalam dua bentuk:
– Secara fisik kita tidak dapat berada di dua tempat yang bersamaan
– Tekanan atau dorongan untuk memikirkan tanggung jawab pekerjaan meskipun kita sedang berada di tengah-tengah keluarga secara fisik. Demikian juga sebaliknya.

Konflik waktu yang disebabkan oleh pekerjaan biasanya muncul dari tuntutan jam kerja. Bagi individu yang bekerja penuh waktu di suatu perusahaan, maka 8 jam per hari selama lima hari dalam seminggu akan terkuras untuk pekerjaan. Belum terhitung waktu untuk persiapan dan perjalanan. Jika pekerjaan mengharuskan untuk lembur, maka hampir separuh waktu yang individu miliki di hari itu terkuras untuk pekerjaan. Ini tentu menjadi masalah bagi keluarga dimana individu berperan sebagai suami/ istri, dan juga orangtua sekaligus.

Penelitian yang dilakukan oleh Herman dan Gyllstrom (1977) menunjukan bahwa tekanan work-family conflict yang disebabkan oleh waktu akan lebih besar bagi individu yang tidak memilki kontrol atas waktu kerjanya. Contoh, individu yang dipaksa lembur akan lebih tertekan dariapda individu yang memutuskan untuk lembur.

Bagi individu yang bekerja tapi juga berperan besar dalam pengasuhan, work-family conflict memiliki peluang muncul yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan tuntutannya sama-sama besar. Bagi keluarga yang tradisional, work-family conflict dihindari dengan pembagian peran seperti ayah yang bekerja, dan ibu yang mengurus rumah serta mengasuh anak. Dalam hal ini, ayah tidak terlibat dalam pengasuhan dan bisa fokus bekerja.

Konflik waktu yang disebabkan oleh keluarga biasanya berhubungan dengan karakteristik keluarga. Keluarga dengan anak-anak yang masih kecil menuntut waktu yang lebih banyak dari orangtua. Keluarga besar juga memberikan tuntutan waktu yang lebih besar daripada keluarga dengan jumlah kecil.

2. Konflik karena tekanan

Terkadang, dalam prakteknya, tidak mudah untuk memisahkan tekanan dari setiap peran yang kita miliki. Terkadang, stress kerja bisa terbawa dan terlampiaskan di rumah, demikian juga stress di rumah akan mempengaruhi kinerja kita. Meskipun kita berusaha professional dan tidak mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan, tapi kadang kala kita masih sering terpengaruh.

Konflik yang disebabkan oleh tekanan pekerjaan biasanya disebabkan oleh rendahnya dukungan, adanya konflik dalam relasi dengan rekan kerja, dan adanya tuntutan fisik dan psikologis dari pekerjaan. Ketika seseorang mengalami tekanan dari lingkungan atau kondisi pekerjaannya, maka ia cenderung mudah lelah, sensitif dan mudah marah, serta frustasi. Hal ini membuat individu sulit untuk mengejar kepuasan dari hal-hal diluar pekerjaan (seperti keluarga).

Nilai pekerjaan atau karir bagi individu juga sangat berpengaruh. Semakin penting pekerjaan/ karir bagi individu, ia akan semakin tertekan dari pengalaman-pengalaman negatif lingkungan kerjanya. Contoh, individu yang terancam kehilangan pekerjaan akan semakin tertekan karena kesalahan anak buahnya. Hal ini dikarenakan kesalahan itu membuat posisinya semakin terancam. Berbeda dengan individu yang merasa aman atau justru ingin keluar dari tempat dimana ia bekerja. Kesalahan anak buah mungkin tidak membuatnya setertekan itu.

Konflik yang disebabkan oleh tekanan keluarga biasanya disebabkan oleh dua hal:
– Kurangnya dukungan dari pasangan. Konflik cenderung lebih sering terjadi pada individu yang mengambil pekerjaan/ karir yang tidak didukung oleh pasangan dan keluarga. Ketika individu mengalami tekanan dalam pekerjaan, ketidaksetujuan pasangan dan keluarga akan membuat tekanna tersebut menjadi lebih buruk. Contohnya, individu tertekan karena tidak dihargai atasan, pasangan menyalahkan karena ia tidak seharusnya mengambil pekerjaan tersebut.
– Adanya masalah keluarga. Masalah keluarga juga membuat work-family conflict semakin runyam. Ketika kita mengalami tekanan dalam pekerjaan, kemudian ada masalah di dalam keluarga, kita dipaksa untuk fokus pada keduanya. Tekanan dari pekerjaan dan dari masalah keluarga akan menuntut kita meletakkan mereka di prioritas utama dan berebut waktu dan energi kita.

3. Konflik karena perbedaan perilaku dan karakteristik

Konflik karena perbedaan karakteristik peran juga sering terjadi. Hal ini dikarenakan, karakter yang diekspektasi di pekerjaan berbeda dengan apa yang keluarga inginkan. Contohnya, pekerjaan menuntut individu untuk memiliki karakter yang keras dan dominan, sedangkan di rumah ia dituntut untuk menjadi orang yang hangat dan menghargai otonomi anggota keluarga.

Dalam menyikapi potensi work-family conflict, pembagian peran dan kesepakatan suami istri sangatlah penting.

Apakah pekerjaan kita akan memakan banyak waktu kita bersama keluarga? Apakah keluarga kita keberatan dengan itu? Atau apakah keluarga kita mendukung apa yang kita kerjakan? Apakah itu sesuai dengan nilai-nilai keluarga?

Jika salah satu penyebab work-family conflict dirasa mulai atau akan mengganggu, hal ini perlu untuk dibicarakan. Suami dan istri perlu terbuka pada pro dan kontra hubungan pekerjaan dan dinamika keluarga yang saat ini sedang berjalan. Dengan demikian, lingkungan yang saling mengerti, memfasilitasi, dan mendukung akan tercipta.

Referensi
  • Greenhaus, J. H., & Beutell, N. J. (1985). Sources of conflict between work and family roles. Academy of management review10(1), 76-88.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: People photo created by yanalya – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed