Anak Melakukan Cyberbullying? Ini Alasannya

Bullying bukanlah kasus atau fenomena yang remeh. Bullying dapat membuat korban mengalami luka fisik dan masalah psikologis yang serius. Pada anak-anak, bullying biasanya dilakukan di sekolah ataupun dalam komunitas. Sayangnya, meskipun biasa dilakukan di dalam institusi atau lembaga pendidikan, bullying kerap kali terjadi tanpa terdeteksi/ ketahuan. Perilaku bullying dilakukan di area tanpa ada pengawasan orang dewasa dan mudah disembunyikan dengan mengancam korban.

Saat ini meskipun anak tidak lagi bertemu di sekolah, bullying dapat tetap terjadi melalui internet. Cyberbullying dilakukan dengan mengancam, menyakiti, mempermalukan atau membuat seseorang merasa tidak diterima secara sosial. Hal ini dapat dilakukan melalui fitur-fitur media sosial seperti chat/ group chat, community page, dll.

Beberapa penelitian menemukan bahwa perbedaan “kekuatan” antara individu yang satu dengan individu lainnya lah yang membedakan pelaku dengan korban cyberbullying. Kekuatan individu biasanya “dikumpulkan” dengan menilai dan mengakumulasi sumber daya yang dimiliki (seperti jumlah teman, koneksi, kekayaan, penampilan, kepintaran, kekuatan fisik, dll). Semakin banyak sumber daya yang dimiliki, maka semakin besar “kekuatan” individu.

Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa anak dengan “kekuatan” yang lebih besar masih melakukan cyberbullying pada anak yang dirasa lebih inferior. Berikut adalah beberapa alasannya:

  • Penggunaan internet

Penelitian menemukan bahwa semakin sering anak menggunakan internet untuk mengakses konten yang spesifik, semakin tinggi kecenderungannya untuk melakukan cyberbullying. Pelaku cyberbullying cenderung merasa mereka ahli tentang internet. Individu yang sering menggunakan internet hanya untuk chat 3.5x lebih cenderung menjadi pelaku.

Pelaku cyberbullying cenderung menjadikan individu yang terbuka soal kehidupan pribadi sebagai korban perilaku mereka. Individu yang terbuka soal kehidupan pribadi di media sosial biasanya tidak khawatir untuk mencantumkan data pribadi, seperti alamat atau nomor telpon di biodata mereka. Beberapa individu juga sering menceritakan pengalaman keseharian atau perasaan mereka di laman atau status media sosial. Hal-hal inilah yang bisa menjadi bahan ejekan atau hinaan bagi pelaku cyberbullying.

Mengapa frekuensi penggunaan internet membuat mereka menjadi pelaku? Hal ini dikarenakan kedekatan individu dengan pemicu perilaku membuat mereka menjadi mudah dan terdorong untuk melakukan kekerasan di dunia maya. Pemicu bisa berupa konten dengan kata-kata kasar, dan adanya calon korban kekerasan.

  • Masalah psikososial

Bagi anak-anak, masa transisi dari masa remaja ke masa dewasa adalah masa yang penuh tantangan. Selain mereka harus berhadapan dengan proses pertumbuhan mereka, mereka juga sering kali terekspos dengan hal-hal tidak baik dari internet. Hal-hal tidak baik ini bisa berupa konten spesifik ataupun general. Konten spesifik mencakup pornografi atau judi, sedangkan konten general bisa berupa dari dampak negatif lain dari internet yang bersifat umum (contoh: membandingkan diri dengan influencer di Instagram). Beberapa penelitian menunjukan bahwa baik konten spesifik maupun general sama-sama berdampak buruk bagi Kesehatan psikologis individu. Individu dapat mengalami kecemasan, depresi, merasa rendah diri, dll.

Masalah psikososial tentu berpengaruh mendorong munculnya perilaku cyberbullying. Respon individu terhadap masalah psikososial (seperti kecemasan, merasa sendiri, atau merasa rendah diri) bisa berupa penarikan diri, atau melakukan kekerasan guna membuat mereka merasa lebih baik. Kekerasan tersebut bisa berupa ejekan, mempermalukan, merendahkan, agar pelaku terlihat lebih baik daripada korban.

  • Agresi yang proaktif

Agresi yang proaktif adalah agresi yang dilakukan tanpa pemicu. Dalam hal ini, pelaku melakukan cyberbullying bukan sebagai respon untuk balas dendam pada korban. Individu yang melakukan agresi secara proaktif di internet biasanya juga melakukan agresi di dunia nyata. Meskipun tidak semua kasus demikian, namun keleluasan untuk bergerak secara anonim memudahkan individu yang memiliki dorongan agresif di dunia nyata untuk lebih mudah menyalurkanya di dunia maya.

  • Minimnya konsekuensi

Lingkungan tempat anak aktif di dunia maya juga sangat berpengaruh. Lagi, karena mudahnya pelaku melakukan cyberbullying dengan anonim, tidak ada konsekuensi sosial yang diberikan. Bagi individu yang tidak berada pada pengawasan norma yang ketat, perilaku kekerasan di internet biasanya dibiarkan begitu saja.

Selain tidak ada konsekuensi, pelaku bisa mendapat dukungan atas perilaku kasar yang ia lakukan. Contoh, Ketika pelaku menghina suara penyanyi dengan kata-kata kasar, lalu ada orang lain yang menyatakan bahwa mereka sepakat kalau suara penyanyi tersebut tidak enak. Dukungan ini tidak membuat jera, malah menjadi reward atas perilaku cyberbullying yang ia lakukan.

  • Ikatan yang tidak dekat dengan orangtua

Penelitian menunjukan bahwa 44% dari pelaku kekerasan online memiliki ikatan emosional yang lemah dengan orangtua mereka. Minimnya monitoring dari orangtua juga meningkatkan kemungkinan munculnya perilaku cyberbullying hingga 84%.

Orangtua biasanya tidak terlalu mengetahui aktivitas yang dilakukan anak mereka di internet. Orangtua juga mungkin tidak menyadari bahwa anak-anak mereka adalah korban dan atau pelaku dari cyberbullying. Padahal, secara keseluruhan, orangtua adalah pelindung terbaik anak dari pengaruh negatif sosial media.

Terkadang kita sebagai orangtua bingung bagaimana untuk melindungi anak di dunia maya. Akhirnya, kita memilih menggunakan metode restriktif, seperti mengurangi jam pemakaian internet atau gadget. Penelitian menunjukan bahwa meskipun metode restriktif juga penting dan efektif untuk beberapa kasus, hal tersebut tidak menanamkan pengertian dan resiko tindak kekerasan pada anak. Orangtua harus secara aktif menjelaskan konsekuensi dari perilaku dan memberikan penekanan pada konten positif dan manfaatnya bagi mereka. Orangtua juga dapat melakukan aktivitas bersama dengan anak di internet agar tidak melepas keterlibatan dengan apa yang mereka lakukan.

Referensi
  • Ang, R. P. (2015). Adolescent cyberbullying: A review of characteristics, prevention and intervention strategies. Aggression and violent behavior25, 35-42.
  • Makarova, E. A., & Makarova, E. L. (2019). Aggressive Behavior in Online Games and Cybervictimization of Teenagers and Adolescents. International Electronic Journal of Elementary Education12(2), 157-165.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi
Sumber gambar: Design vector created by freepik – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed