Depresi dan Dukungan Keluarga dalam Membantu Pemulihan
Depresi dan Dukungan Keluarga dalam Membantu Pemulihan
Depresi dan stress adalah dua hal yang berbeda. Stress adalah kondisi dimana kita mengalami tekanan akibat perubahan tertentu dan belum mampu untuk melampiaskan/ menyelesaikannya. Depresi adalah kondisi dimana kita secara terus menerus merasa negatif terhadap diri sendiri dan lingkungan. Dorongan untuk menyakiti atau bunuh diri biasanya lahir dari perasaan negatif yang terus-menerus tersebut.
Meskipun stress dan depresi memiliki urgensi yang berbeda, sering kali kedua hal ini dianggap sama. Menyamakan depresi dengan stress membuat kita tidak peka pada kebutuhan dan cenderung meremehkan kondisi pengidap depresi. Sikap meremehkan bisa dimanifestasikan dalam bentuk kata-kata atau perilaku; seperti mengatakan kalau masalah yang mereka hadapi tidak berat, atau menunjukan sikap acuh pada apa yang mereka alami.
Dalam upaya pemulihan pasien pengidap depresi, peran keluarga tidak kalah penting dari bantuan profesional. Terkadang dalam prakteknya, keluarga menyerahkan peroses pemulihan pada konselor atau psikolog, dan cenderung bingung dengan apa yang dapat mereka lakukan. Membangun lingkungan keluarga yang supportive adalah langkah awal yang tepat. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang dapat dijadikan pertanyaan refleksi oleh keluarga:
- Apakah keluarga peduli pada anggota keluarga yang mengidap depresi?
- Apakah keluarga membantu individu meningkatkan self-esteem?
- Apakah keluarga kagum atau menghargai keahlian individu?
- Apakah keluarga memberikan kepercayaan bagi individu?
- Apakah keluarga menghargai individu sebagai pribadi?
- Apakah keluarga membangun hubungan yang dekat dengan individu?
- Apakah keluarga membantu individu meningkatkan self-worth?
- Apakah keluarga menerima individu secara keseluruhan?
Penderita depresi biasanya mengalami kesulitan dalam mempertahankan pertemanan. Mereka juga bisa menjadi bias saat merasa social support yang mereka terima tidak memuaskan (Nasser & Overholser, 2005). Respon seperti ini terkadang membuat keluarga maupun orang terdekat merasa kesulitan dalam memberikan dukungan untuk membantu mereka. Namun meskipun demikian, keluarga tidak boleh menyerah. Krause, Liang, dan Yatomi (1989) mengatakan bahwa ketidakpuasan itu tidak bertahan selamanya. Dalam penelitiannya, mereka menemukan bahwa selama dukungan tersebut diberikan secara konsisten, persepsi ketidakpuasan atas social support yang diterima akan berubah.
Membantu individu yang mengalami depresi untuk dapat melihat dukungan yang diberikan oleh keluarga sangatlah penting. Kita sebagai keluarga tidak boleh menyerah melakukannya. Nasser & Overholser (2005) mengatakan bahwa orang yang mengalami depresi mungkin merasa bahwa keluarga sudah seharusnya memberikan dukungan pemulihan. Memenuhi kebutuhan dukungan tersebut akan berperan signifikan dalam proses pemulihan mereka. Sedangkan di sisi lain, tidak terpenuhinya kebutuhan/ ekspektasi tersebut akan menghambat proses pemulihan.
Referensi
- Garber, J., Robinson, N. S., & Valentiner, D. (1997). The relation between parenting and adolescent depression: Self-worth as a mediator. Journal of adolescent research, 12(1), 12-33.
- Nasser, E. H., & Overholser, J. C. (2005). Recovery from major depression: the role of support from family, friends, and spiritual beliefs. Acta Psychiatrica Scandinavica, 111(2), 125-132.
- Vaux, A., Phillips, J., Holly, L., Thomson, B., Williams, D., & Stewart, D. (1986). The social support appraisals (SS-A) scale: Studies of reliability and validity. American Journal of Community Psychology, 14(2), 195-218.
Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi
Sumber gambar: Woman photo created by wayhomestudio – www.freepik.com
Others
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025
- Helping Clients Heal from Father Wounds July 16, 2025
- Bisa romantis tapi gak kompak ngasuh anak? July 3, 2025

