Mengapa Anakku Menjaga Jarak?
Mengapa Anakku Menjaga Jarak?

Hubungan antara orangtua dan anak kini memasuki era yang berbeda dengan sebelumnya. Dibahas dalam zoominar “Dekat dengan Anak di Era Digital” kemajuan teknologi membuat orangtua sulit untuk memahami dunia anak yang serba digital. Salah satu tips yang dibagikan oleh narasumber adalah mulai membangun quality time dengan anak di luar gadget mereka. Hal ini kemudian memunculkan sebuah pertanyaan menarik:
Apa yang akan kita bicarakan dengan anak kita ketika mereka tidak sedang bersama gadgetnya?
Beberapa di antara kita mungkin kesulitan untuk membuat anak bercerita. Kita harus memutar otak untuk bertanya, dan anak hanya menjawab singkat tanpa penjelasan lebih lanjut. Seberapapun usaha yang kita lakukan untuk membuat anak nyaman bercerita tentang pacar mereka, mereka tetap cenderung diam. Apa yang sebenarnya terjadi?
Kita kehilangan intimasi dengan anak
Intimasi tidak hanya berbicara mengenai kedekatan. Intimasi hubungan antara orangtua dan anak memberikan penerimaan, kehangatan, melibatkan sensitifitas, adanya apreasiasi untuk orang lain dan berdampak positif pada well-being anak dan orangtua.
Perlu kita sadari bahwa jumlah pertanyaan yang kita berikan pada anak tidak menggambarkan penerimaan, kehangatan, apresiasi, dan sensitifitas dengan sempurna. Dapat dikatakan, hal-hal tersebut tidak cukup diekspresikan melalui keingintahuan kita. Intimasi relasi kita dengan anak justru dibangun dari respon yang kita berikan untuk pernyataan atau cerita anak.
Penelitian yang dilakukan oleh Cyaton (2013) pada anak kelahiran Chinese – British menemukan bahwa anak kerap merasa bahwa orangtua tidak mau mendengar dan memahami kebutuhan/ keinginan mereka untuk mengekspresikan perasaan. Meskipun budaya masyarakat Tionghwa adalah budaya kolektif, orangtua sering kali dinilai menjaga jarak dan tidak hangat. Beberapa pemikiran seperti malu untuk menunjukan perasaan yang sesungguhnya atau takut dianggap lemah bisa menjadi tembok yang menghalangi kita terbuka pada anak
Faktor lain yang mempengaruhi intimasi adalah kehadiran kita dalam hidup anak. Kehadiran kita saat mereka senang senang (senang saat mereka senang) dan kehadiran kita saat mereka sedang menghadapi masalah. Beberapa pertanyaan seperti berikut dapat kita tanyakan untuk merefleksikan kehadiran kita dalam hidup anak:
- Apakah kita bersemangat ketika mereka menceritakan hobby mereka?
- Apakah kita antusias mendengarkan pengalaman baru mereka di sekolah?
- Bagaimana respon kita ketika mereka bercerita mereka menghadapi masalah dengan teman?
- Apakah respon kita membantu mereka cope atau resilien terhadap masalah?
Hadir untuk anak saat mereka menghadapi masalah bisa menjadi proses yang triky. Terkadang kita ingin mengajarkan anak kita untuk bertanggung jawab dan tangguh dalam menghadapi masalah. Tapi dalam prakteknya, terkadang kita mendorong mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri dan meminta mereka untuk tidak melibatkan kita dalam konflik tersebut. Contoh, saat anak bertanya meminta solusi, kita langsung mengebasnya dan meminta mereka memikirkan solusinya sendiri. Atau mungkin ketika anak bercerita bahwa ia putus dengan pacar, kita ingin menguatkan mereka dengan mengatakan bahwa yang mereka hadapi adalah masalah kecil. Tanpa kita sadari, hal itu membuat anak merasa bahwa cerita mereka tidak signifikan.
Cerita dengan orangtua kesannya seram sekali
Salah satu responden dari Cyaton (2013) mengatakan bahwa ia ingin anaknya melihat dirinya sebagai teman, dan bukan sebagai orangtua yang hanya mempedulikan isu ototitas dan penuntut. Tanpa kita sadari, ini memang sering menjadi tembok pembatas antara orangtua dan anak. Ketika kita menjadi orangtua, kita memiliki banyak alasan untuk meyakinkan mereka bahwa kita benar. Status kita sebagai orangtua bisa menjadi salah satu alasan tersebut.
Menuntut ketaatan penuh (tanpa bantahan atau pertanyaan balik), dapat efektif jika anak kita masih kecil. Tapi seiring bertambahnya usia, kita akan berada dalam kesulitan besar jika kita menggunakan metode yang sama terus menerus. Ada hal-hal yang anak kita belum bisa mengerti sekarang, oleh sebab itu upaya dari orangtua untuk memberikan pengertian sangatlah penting.
Berikut contoh untuk menjelaskan poin ini. Ada orang-orang yang melihat laki-laki yang menangis sebagai laki-laki yang lemah. Coba bayangkan apa yang akan terjadi pada seoarang anak laki-laki usia SMA yang sedang patah hati. Ia melihat pacarnya selingkuh dengan orang lain dan itu membuatnya terluka. Ia pulang dan terlihat oleh sang ayah bahwa ia menangis. Sang Ayah akan bertanya kenapa ia menangis. Lalu saat sang anak bilang bahwa ia menangis karena pacarnya selingkuh, sang ayah memintanya untuk tidak menangis karena ia laki-laki.
Pengertian adalah kunci untuk membuat semua perintah jadi masuk akal. “Karena kamu laki-laki” bukanlah penjelasan yang dibutuhkan oleh sang anak tadi. Alasan tersebut akan sulit dimengerti karena bukan tugas laki-laki untuk tidak menangis. “Jangan menangis, bersyukur kamu tahu sekarang bahwa ia tidak setia. Akan lebih berbahaya jika kamu baru tahu ketika mau menikah nanti” akan menjadi alasan yang lebih logis bagi sang anak untuk membuatnya mengerti dan berhenti menangis.
Ketakutan untuk bercerita pada orangtua juga dapat tumbuh dari interaksi tidak langsung. Hal ini bisa terjadi ketika kita sering membandingkan dengan orang lain. Beberapa orangtua berusaha memacu motivasi belajar anak dengan menyebutkan sederet prestasi yang diraih oleh anak orang lain. Jika hal tersebut dilakukan terus menerus, maka anak akan kesulitan bercerita tentang kesulitan belajarnya. Mereka akan cenderung tertekan dengan seluruh pencapaian yang diharapkan oleh orangtua. Bagaimana jika mereka tidak bisa mendapat nilai 100 seperti orang lain? Bagaimana jika mereka tidak lolos test ujian piano? Mereka akan bertanya-tanya apakah kita bisa tetap bangga dengan mereka, atau malah kecewa karena mereka tidak sebaik anak lain. Hal ini juga berlaku ketika kita menyepelekan perasaan dan pengalaman orang lain. Jika anak kita mengalami hal yang sama, mereka akan kesulitan untuk bercerita karena merasa kita akan menyepelekan hal itu juga.
Ekspektasi yang Tidak Sehat
Hal lain yang dapat menghalangi kedekatan kita dengan anak adalah ekspektasi yang tidak sehat. Ekspektasi yang tidak sehat bisa meliputi target pencapaian yang tidak sesuai kemampuan anak, atau mengharapkannya mengambil profesi yang tidak ia minati, dll. Sebagai orangtua, tentu kita memiliki standart dan harapan bagi anak kita untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Namun perlu kita cermati bahwa kita tidak boleh melupakan apa pendapat anak kita mengenai kehidupan lebih baik yang sebenarnya ingin mereka jalani.
Dalam penelitian Cyaton (2013), seorang orangtua berkata seperti ini “Ketika anak kami mulai berargumen dengan kami, saya sedih, tapi kami tidak bisa membiarkan mereka memiliki apa yang mereka mau. Saya sedih karena, sebagai orangtua kami memiliki standart, tapi jika anak kami memiliki standart yang berbeda atau tidak yakin bahwa standart kami yang paling baik, itu membuat saya sedih”. Menanggapi itu, Cyaton (2013) juga menyertakan hasil penelitian Salomon dkk (2002) yang mengatakan bahwa anak remaja-dewasa awal cenderung mengurangi keterbukaan mereka pada orangtua karena mereka mau melindungi diri mereka dari supervisi atau otoritas orangtua yang tidak diinginkan, dan untuk menghindari teguran, batasan, dan konflik. Penelitian yang sama mengungkapkan bahwa dengan menyimpan informasi, anak merasa memiliki privasi, power, dan identitas (meskipun pada akhirnya itu membatasi hubungan mereka dengan orangtua).
Sebagai orangtua, kita mungkin sudah menyadari bahwa kita tidak dapat selamanya mendikte mereka. Anak-anak kita memiliki identitas dan masa depan yang akan mereka jalani sendiri. Ketidakmampuan orangtua untuk menerima independensi anak sebagai pribadi yang otentik, serta keinginan untuk memiliki kontrol penuh akan berakhir pada konflik, anak yang frustrasi, dan kerusakan hubungan antara orangtua dan anak (Noller & Callan, 1991).
Spencer (1994) menemukan bahwa orangtua yang bersedia mendengarkan penjelasan anak tanpa menghakimi mereka bisa membangun hubungan yang lebih dekat, terbuka, dan intim dengan anak. Hal ini dikarenakan, mendengarkan penjelasan tanpa menghakimi membuat anak merasa dihargai sebagai individu. Ada koneksi dan proses saling mengenal antara anak dengan orangtua.
Generation gap memanglah tidak mudah. Sama seperti kita sepertinya sulit untuk memahami anak kita, mungkin anak kita juga sedang berusaha memahami keputusan dan tindakan kita. Kita dapat perlahan-lahan mengurangi jarak ini dengan memberikan contoh yang baik bagaimana untuk terbuka dan memberikan penjelasan yang konstruktif. Dengan demikian, hal ini dapat memacu anak untuk juga terbuka. Sebualh langkah awal sebuah kedekatan.
Referensi
- Clayton, C. L. (2014). ‘With my parents I can tell them anything’: intimacy levels within British Chinese families. International journal of adolescence and youth, 19(1), 22-36.
- Noller, P., & Callan, V. (1991). The adolescent in the family. Routledge: London.
- Solomon, Y., Warin, J., Lewis, C., & Langford, W. (2002). Intimate talk between parents and their teenage children: Democratic openness or covert control. Sociology, 36, 965–983.
- Spencer, T. (1994). Transforming relationships through ordinary talk. In S. W.Duck (Ed.), Dynamics of relationships (pp. 58–85). Thousand Oaks, CA: Sage.
Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Woman photo created by freepik – www.freepik.com
Others
- Photovoice: From Introduction to Publication 2026 April 30, 2026
- Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Emosi: Ketika Keluarga Tidak Lagi Terasa “Rumah” April 30, 2026
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025

