Seni Meminta Maaf dalam Relasi

Seni Meminta Maaf dalam Relasi

Never ruin an apology with an excuse

Benjamin Franklin
Afro-american couple going through hard times in their relationships. guilty unfaithful young man keeping hands pressed begging his angry wife to forgive him for infidelity, trying to sweet talk her Free Photo

Maaf adalah kata-kata yang sering kita dengar dan gunakan. Dari naturnya, permintaan maaf dilontarkan oleh pihak yang melakukan  kesalahan (pelaku) kepada pihak yang terluka (korban) untuk mendapatkan pengampunan. Sejak kecil kita diajarkan bahwa meminta maaf adalah etika penting dalam kehidupan. Meminta maaf merupakan strategi untuk merestorasi hubungan yang rusak akibat konflik atau kesalahan.

Dalam keseharian, meminta maaf sering kali tidak mudah. Pernahkah Anda mendengar pernyataan ini: “Maaf saja tidak akan menyelesaikan masalah”? Atau mungkin kita pernah mengalami sendiri, bagaimana permintaan maaf tidak selalu berbuah pengampunan. Dalam relasi keluarga atau dengan pasangan, tidak diampuni setelah meminta maaf akan menjadi sumber masalah baru yang rumit. Sebagai contoh, Joni lupa menjemput Shinta pulang dari kantor karena Joni harus lembur bekerja. Joni meminta maaf pada Shinta, namun Shinta tetap merasa kesal. Shinta merasa Joni tidak tulus meminta maaf. Joni merasa Shinta tidak pengertian. Kemudian pertengkaran suami istri tersebut akan melebar pada masalah prioritas (Joni tidak memprioritaskan Shinta) dan kurangnya pengertian (Shinta bisa pulang sendiri, tidak pengertian pada Joni yang harus bekerja keras hari itu).   

Faktanya, efektivitas permintaan maaf sangat ditentukan dari bagaimana korban melihat dan menilai pesan tersebut (Hereli & Eisikovits, 2006). Permintaan maaf, meskipun hanya berupa kata-kata, sebenarnya terdiri dari komponen yang lebih kompleks, seperti emosi/ perasaan dari pelaku, empati, dan pertanggungjawaban dari pelaku untuk korban. Bagaimana permintaan maaf bekerja?

Permintaan maaf memperbaiki reputasi

Kesalahan yang dibuat seseorang akan memberikannya image negatif di hadapan korban. Itulah sebabnya, sering kali kesalahan yang berulang membuat korban sulit percaya lagi pada pelaku. Permintaan maaf secara tidak langsung merefleksikan pesan bahwa pelaku tidaklah seburuk/ sejahat itu. Dari contoh di atas, permintaan maaf Joni mengandung pesan seperti ini: Joni mungkin lupa untuk menjemput Shinta, tapi Joni bukanlah Joni si “Tukang Lupa Jemput”.  Dalam artian, kita menjadi fokus pada perilaku yang salah, dan bukan pelaku secara personal.

Adanya tanggung jawab

Permintaan maaf tidak akan lengkap tanpa tanggung jawab. Tanggung jawab adalah bentuk mengembalikan rasa percaya korban pada pelaku. Dengan bertanggung jawab, pelaku sadar jika ia melanggar etika/ kesepakatan, dan sebisa mungkin akan menghindarinya di kemudian hari (Scher & Darley, 1997). Kepercayaan timbul dari keyakinan bahwa saat menghadapi situasi yang sama, pelaku akan melakukan apa yang benar. Ketika pelaku bertanggung jawab, pelaku juga mengurangi efek negatif dari kesalahan yang ia buat pada korban.

Beberapa hal yang berkontribusi pada sulitnya memaafkan orang lain adalah:

  • Korban tidak yakin pelaku menyadari kesalahannya
  • Korban tidak yakin pelaku dapat menghindari kesalahan yang sama di kemudian hari

Hal ini dapat menyebabkan korban lebih memilih untuk memutuskan relasi dengan pelaku daripada harus memaafkan dan beresiko terluka untuk hal yang sama.

Menyamakan “status”

Aspek lain yang membuat permintaan maaf efektif adalah kerendahan hati. Ketika ada yang melukai dan dilukai, korban biasanya selalu berada pada posisi yang lebih inferior (lebih rendah, lebih lemah, tidak lebih kuat, dirasa lebih tidak mampu melawan) daripada pelaku. Contoh, dari cerita di atas, Shinta tidak dapat melakukan apa-apa saat apa yang Joni lakukan melukainya (melupakannya). Joni lebih memiliki kontrol atas apa yang akan melukai dan tidak melukai Shinta (menjemput atau tidak menjemput).

Proses ini tentu tidak mudah. Ketika pelaku meminta maaf, pelaku menegaskan bahwa memang benar ia telah melakukan kesalahan. Sama seperti mengakui kelemahan, mengakui kesalahan kadang membuat individu merasa terekspos dan terancam. Semakin tidak mudah jika hal ini dilakukan oleh orang yang memiliki otoritas (seperti suami pada istri, atau orangtua pada anak).

Penting untuk Meminta Maaf

Seperti yang telah disebutkan di atas, meminta maaf adalah upaya untuk merestorasi hubungan. Permintaan maaf terkadang tidak bisa digantikan hanya dengan mengirim hadiah, atau berperilaku seolah-olah kejadian tersebut tidak ada. Meminta maaf pada anggota keluarga atau pasangan memiliki tantangan lain yang kadang tidak disadari.

  1. Hubungan yang dekat

Hubungan yang dekat tidak terbangun tanpa ekspektasi untuk saling mengerti. Tidak menutup kemungkinan, hubungan yang dekat menghalangi pelaku meminta maaf karena berharap anggota keluarga akan mengerti. Joni berharap Shinta mengerti bahwa mereka butuh uang tambahan dalam keluarga. Kerja lembur adalah salah satu cara untuk mendapatkannya.

Hal lain yang sering muncul adalah menggabungkan kesalahan dengan sifat/ kepribadian. “Aku adalah orang yang seperti ini. Dari dulu omonganku kasar” kata suami pada istri. Kata-kata yang kasar tentu melukai orang yang mendengar, dan sekalipun itu adalah watak suami, hal itu tidak dapat dibenarkan.

  1. Persepsi akan otoritas dalam keluarga

Otoritas sering kali menghalangi kita untuk meminta maaf. Bagi beberapa orang, otoritas menggambarkan kekuatan yang didapatkan dari rasa kagum, kemampuan yang tinggi, dll. Dalam keluarga, hal ini menjadi tantangan bagi orangtua.

Tapi meskipun demikian, meminta maaf merupakan salah satu cara untuk menunjukan bahwa relasi yang telah terjalin lebih berharga daripada ego, status, maupun kekuasaan.  

  1. Intensitas bertemu yang tinggi

Mungkin lebih mudah bagi kita untuk meminta maaf saat merusak barang orang lain. Lebih sulit jika kita mengakuinya pada orang yang sering bertemu dengan kita. Contoh, seorang kakak merusak mainan adiknya. Sang kakak lalu berkata “Nanti aku beliin lagi, gitu aja menangis”. Sang kakak bisa saja bertanggung jawab, tapi ia tidak meminta maaf. Padahal tanggung jawab tidak dapat bekerja sendiri.

Intensitas bertemu yang tinggi cenderung membuat individu sulit mengakui kesalahan. Apalagi intensitas bertemu yang tinggi tidak diimbangi dengan hubungan keluarga yang sehat. Hal ini dikarenakan pelaku maupun korban yang tidak memiliki relasi yang baik, memiliki bibit saling tidak percaya. Joni mungkin curiga Shinta akan “menggosipkan” dia dengan teman-temannya. Atau Shinta mungkin akan berperilaku berbeda di rumah. Bisa jadi Shinta akan membandingkan dia dengan laki-laki lain, dsb. Joni yang sering bertemu dengan Shinta akan sering juga diingatkan pada kecemasan-kecemasan tersebut.

Referensi
  • Hareli, S., & Eisikovits, Z. (2006). The role of communicating social emotions accompanying apologies in forgiveness. Motivation and Emotion30(3), 189-197.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
SUmber gambar: People photo created by wayhomestudio – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed