Faktor-Faktor yang Membuat Keluarga jadi Tahan Banting

Faktor-Faktor yang Membuat Keluarga jadi Tahan Banting

Tumbuh besar dalam keluarga yang memegang erat tradisi dan struktur hirarki keluarga membuat saya benar-benar menyadari kompleksitas resolusi konflik untuk sebuah masalah sederhana.

Saya masih ingat ketika saya harus pindah rumah di awal tahun. Salah satu anggota keluarga saya terkena Covid-19 dan harus rawat di rumah sakit. Pada saat yang bersamaan, kami yang sehat harus mengurus perpindahan rumah sebelum awal bulan. Situasi keluarga kami sangat tertekan dengan kekhawatiran akan kesehatan dan banyaknya hal yang harus kami lakukan. Proses perpindahan kami yang tertunda juga menambah tekanan untuk keluarga. Belum lagi keluarga besar meminta kami untuk memilih hari baik dan mengadakan perayaan di jam-jam yang sudah ditentukan. Semua tekanan tersebut menjadi lebih sulit mengingat yang mengharuskan kami adalah kepala keluarga besar. Kami tidak memiliki pilihan untuk menolak.

Masalah keluarga dan bagaimana kita mengatasinya tidak bisa lepas dari alur komunikasi, keseimbangan kuasa untuk mengambil keputusan, nilai, prinsip, kualitas hubungan, dan lingkungan di sekitar keluarga. Oleh sebab itu, dalam upaya menyelesaikan masalah tanpa merusak keharmonisan keluarga, kekuatan individu seorang diri saja tidak cukup. Menurut Benzies & Mychasiuk (2008), ada beberapa faktor pelindung yang dapat membantu keluarga menjadi lebih resilien dalam menghadapi masalah:

Individu

Individu yang kuat adalah pondasi untuk keluarga yang stabil dan supportive

National Council, 2007

Beberapa faktor pelindung individu berikut berkontribusi penting untuk ketahanan keluarga:

  1. Locus of control. Locus of control adalah persepsi seseorang akan apa/ siapa yang bertanggung jawab dalam sebuah kejadian (Battle & Rotter, 1963). Ada 2 tipe locus of control, yaitu internal dan eksternal. Individu dengan internal locus of control percaya bahwa mereka mampu mengontrol masa depan, mampu mengubah situasi, dan menciptakan situasi mereka sendiri. Sering kali dalam menghadapi masalah, kita mudah ter-discourage dan merasa tidak mampu mengontrol keadaan. Atau bisa juga kita merasa menjadi korban dari situasi dan menunggu seseorang bertanggung jawab. Agar penyelesaian masalah menjadi lebih efektif, seseorang perlu percaya bahwa ia mampu melakukan sesuatu untuk merubah keadaan.
  2. Regulasi Emosi. Individu dengan regulasi emosi yang baik cenderung tidak impulsive dan mampu melihat masalah dengan lebih jelas. Hal ini membantu mereka untuk melihat sumber masalah dengan objektif dan kemudian menemukan penyelesaian masalah yang lebih efektif.
  3. Sistem kepercayaan. Kepercayaan yang dipegang individu mampu meningkatkan sense or purpose dan pemaknaan dalam hidup. Mereka mampu melihat masalah sebagai proses pertumbuhan yang bermakna & memiliki tujuan. Hal ini mengurangi persepsi negatif akan masalah yang dihadapi.
  4. Self-efficacy. Self-efficacy adalah penilaian individu akan kemampuannya dalam mencapai sebuah target/ tujuan (Bandura, 1994). Penelitian yang dilakukan oleh Black & Ford-Gilboe (2004) menemukan bahwa self-efficacy anggota keluarga lebih berpengaruh pada Kesehatan keluarga daripada dukungan sosial.
  5. Kemampuan coping  yang efektif. Coping adalah cara seseorang untuk mengurangi tingkat stress/ emosi negative yang ia rasakan. Kemampuan coping yang efektif akan membantu individu untuk lebih tenang dan mengurangi perilaku negatif.
  6. Pendidikan, keterampilan, dan training. Faktor lain dalam individu seperti pendidikan dan keterampilan membantu individu untuk: lebih stabil dalam keluarga, dan menstimulasi anak secara kognitif sebagai bagian dari Latihan menyelesaikan masalah (Jackson et al., 2000; Serbin & Karp, 2004).
  7. Kesehatan. Ketahanan keluarga dipengaruhi oleh kesehatan anggota keluarga, baik fisik maupun mental. Anggota keluarga yang sehat mampu untuk mendukung/ membantu keluarga saat menghadapi masalah.
  8. Temperamen. Temperamen adalah respon emosi dan perilaku seseorang terhadap kejadian di sekitarnya (contoh: mudah tantrum atau lebih tenang). Anak-anak dengan temperamen yang mudah cenderung memancing reaksi positif dari orangtua.
  9. Jenis kelamin. Kita tidak dapat memilih jenis kelamin saat kita lahir, tapi dalam beberapa konteks, jenis kelamin sangat berpengaruh pada ketahanan keluarga. Contoh, laki-laki lebih rentan terhadap stress dari tanggung jawab menjadi tulang punggung keluarga. Ibu cenderung terbeban dalam hal rumah tangga dan pengasuhan.
Keluarga

Berikut adalah faktor pelindung yang bisa didapat atau ditingkatkan dalam keluarga.

  1. Struktur keluarga. Struktur keluarga sangat berpengaruh pada ketahanan keluarga. Keluarga dengan jumlah anggota yang lebih sedikit memiliki kendala keuangan yang lebih sedikit dibandingkan dengan keluarga dengan jumlah yang banyak. Keluarga yang utuh memberikan kesempatan anak untuk tumbuh dalam keluarga yang seimbang, dan ibu yang lebih matang dapat memfasilitasi anak untuk tumbuh dengan lebih baik dibandingkan ibu yang tidak siap.
  2. Stabilitas hubungan dengan pasangan. Relasi pasangan yang sehat akan membentuk lingkungan yang konsisten dan aman untuk keluarga. Sebagai orang terdekat, dukungan dari pasangan juga penting karena orangtua (sebagai pemegang otoritas dalam keluarga) biasanya menanggung beban keluarga lebih besar daripada anak-anak.
  3. Kesatuan keluarga. Kehangatan dan kesatuan keluarga adalah faktor protektif paling signifikan untuk keluarga dengan orangtua yang mengidap depresi. Ketika keluarga menghadapi masalah bersama-sama (bukan hanya masalah ayah/ ibu saja, bukan hanya masalah anak atau orang tua saja), ada support dan kepercayaan diri untuk keluarga tersebut menyelesaikan masalah yang dihadapi. Kesatuan keluarga juga meningkatkan kerjasama serta dorongan untuk saling terlibat membantu satu sama lain.
  4. Interaksi orangtua-anak yang suportif. Orangtua yang sering memiliki aktivitas Bersama anak cenderung melindungi anak dari potensi perilaku bermasalah (Hutchings & Lane, 2005). Ketika ada anggota keluarga yang mengalami masalah psikologis, keluarga yang dapat diandalkan dapat memberikan lingkungan yang aman untuk pemulihan (Greeff et al., 2006).
  5. Pengaruh dari keluarga asal. Keluarga besar juga merupakan sumber support atau tekanan bagi keluarga.
  6. Pemasukan yang stabil dan cukup. Finansial adalah faktor penting bagi keluarga. Pemasukan yang rendah memiliki potensi untuk menjadi sumber stress tambahan bagi keluarga (contoh: ada anggota keluarga yang sakit, namun keluarga tidak mampu untuk membayar rumah sakit).
Komunitas/ Lingkungan Sekitar

Interaksi sama seperti pipa. Ia dapat menyalurkan dukungan, atau pun hal-hal yang toxic. Dengan siapa keluarga/ individu berinteraksi sangat menentukan intake positif untuk keluarga saat menghadapi masalah.

  1. Keterlibatan keluarga dalam komunitas. Terlibat dalam komunitas membantu keluarga untuk mengakses kenalan ataupun informasi terkait yang dapat membantu keluarga melewati permasalahan yang dihadapi. Keterlibatan dalam komunitas juga membantu keluarga memiliki rasa kepemilikan dan penerimaan.
  2. Mentor yang mendukung. Mentor keluarga bisa merupakan keluarga/ pasangan/ orang lain yang mungkin pernah mengalami pengalaman serupa. Dalam hal ini, mentor dapat memberikan informasi atau arahan terkait strategi penyelesaian masalah yang dapat dilakukan oleh keluarga.
  3. Lingkungan yang aman, dan akses untuk sekolah dan Kesehatan. Lingkungan yang aman dan kondusif untuk pertumbuhan membantu keluarga untuk mengurangi kecemasan akan dampak negatif dari lingkungan. Hal ini juga memudahkan keluarga untuk mengakses support yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan permasalahan.
Referensi
  • Benzies, K., & Mychasiuk, R. (2009). Fostering family resiliency: A review of the key protective factors. Child & Family Social Work14(1), 103-114.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Family vector created by freepik – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed