Intimasi dalam Relasi

Intimasi dalam relasi….

Apa itu ya?

Ketika bicara soal intimasi… banyak orang langsung mengasosiasikan dengan relasi intim.. yang konotasinya adalah relasi seksual.

Apa sih intimasi itu? Dan bagaimana membangun intimasi dalam suatu relasi?

Sebenarnya intimasi bicara soal kedekatan psikologis atau kedekatan emosional antara satu pihak dengan pihak yang lain. Nah, karena intimasi ini bicara soal kedekatan emosional yang sangat mendalam, maka intimasi ini sering diletakkan dalam konteks relasi yang spesial juga, yaitu dalam relasi pernikahan. Jadi relasi intim ini bukan bicara hal yang general, tetapi bicara soal relasi timbal balik antara 2 insan, biasanya memang dalam konteks suami istri. Hal ini melibatkan unsur pikiran, perasaan, maupun perilaku. Ketiganya saling mendukung untuk terciptanya kedekatan secara psikologis.

Ada berbagai pandangan mengenai intimasi.

Namun secara umum intimasi itu mengandung relasi timbal balik antara 2 pihak. Jadi ada mutualisme dan kolaborasi antara 2 pribadi yang terlibat dalam relasi tersebut.
Dengan kata lain, kalau saya dekat dengan dia, tapi dia tidak dekat dengan saya, tidak terjadi intimasi.

Nah bagaimana sih ciri-ciri adanya intimasi?

Dalam suatu relasi yang memiliki intimasi, masing-masing pihak yang terlibat dapat menyatakan dirinya apa adanya, serta peduli satu dengan yang lain.  Masing-masing pihak dalam relasi itu dapat mengungkapkan dirinya apa adanya, menjadi dirinya apa adanya, dan dapat menerima atribut maupun pandangan dari pihak lain, tanpa ada perasaan was-was. Dalam intimasi, ada keterbukaan diri, ekspresi kasih sayang, serta kecocokan antara satu pihak dengan pihak lain. Dengan demikian dua pihak itu  menjadi kohesif, kompak, dekat, akrab, dan intim.

Van den Broucke (1995) menyatakan bahwa intimasi dalam relasi suami istri melibatkan perasaan dekat secara emosi, adanya penerimaan dan dukungan terhadap ide-ide dari pasangan, serta ada kesepakatan mengenai aturan-aturan yang mengatur interaksi. Yang lebih menarik adalah, individu-individu dalam intimasi itu dapat menjadi diri sendiri, tidak perlu berpura-pura, dan siap berbagi ide dan perasaan dengan pasangan, dan relasi dengan pasangan bersifat eksklusif.

Bagaimana cara meningkatkan intimasi?

Sekalipun pernikahan berjalan bertahun-tahun, tidak semua pasangan dapat mencapai intimasi dalam relasi dengan pasangan. Ada lho yang pernikahannya jalan terus, tapi relasinya kering dan tidak ada kehangatan di dalamnya. Bagaimana cara membangun intimasi? Yuk perhatikan 2 tips penting di bawah ini.

  • Menerima keterbatasan dan kelemahan diri

Terkadang suami atau istri sulit mencapai intimasi, karena tidak berani mengemukakan dirinya apa adanya. Mengapa? Karena takut dinilai negatif.

Ada kalanya suami atau istri merasa dirinya buruk, memiliki banyak kekurangan, dan tidak sempurna. Hal ini membuatnya merasa kurang aman, kurang percaya diri, serta kurang nyaman menceritakan dirinya, pikiran, maupun persaaan-perasaannya kepada pasangannya.

Kurangnya kemampuan menerima keterbatasan dan kelemahan diri inilah yang sering menjadi penghambat utama untuk menjadi diri sendiri dan mengungkapkan diri secara terbuka kepada pasangan.

Perasaan was-was dan perasaan terancam selalu menghantui, dan selalu ada perasaan I am not good enough. Karena itulah salah satu cara untuk dapat meningkatkan intimasi adalah dengan menerima keterbatasan dan kelemahan diri sendiri, sehingga kita mampu menjadi diri sendiri.

  • Menjadi pendengar yang empatik

Intimasi berawal dari keterbukaan diri, artinya masing-masing pihak dapat menyampaikan pikiran dan perasaannya dan menjadi dirinya sendiri.

Pada kenyataannya tidak jarang para suami atau para istri takut untuk menceritakan perasaannya, pikirannya, ataupun pengalamannya. Mengapa?

Karena takut mendapat komentar negatif! Takut disalahkan! Takut disudutkan! Takut diungkit-ungkit oleh pasangannya.

Jadi salah satu cara untuk membangun intimasi dalam relasi adalah dengan belajar mendengarkan dan menerima apa yang disampaikan pasangan kita. Kita buang jauh-jauh tuntutan, kritikan, dan komentar negatif. Hal ini akan memudahkan pasangan untuk menjadi dirinya sendiri dan terbuka.

Sesungguhnya ketika kita belajar menjadi pendengar yang baik dan menerima apa yang disampaikan pasangan kepada kita, maka ini juga menciptakan perasaan aman bagi diri kita sendiri, sehingga kita juga akan lebih mudah untuk menyampaikan pandangan dan perasaan kita, tanpa takut dinilai atau dikritik oleh orang lain.

Selamat membangun intimasi ………….

Referensi

  • Lafontaine, M. F., Hum, L., Gabbay, N., & Dandurand, C. (2018). Examination of the Psychometric Properties of the Personal Assessment of Intimacy in Relationships with Individuals in Same-Sex Couple Relationships. Journal of GLBT Family Studies, 14(4), 263–294. https://doi.org/10.1080/1550428X.2017.1326017
  • Moore, K. A., McCabe, M. P., & Stockdale, J. E. (1998). Factor analysis of the Personal Assessment of Intimacy in Relationships Scale (PAIR): Engagement, communication and shared friendships. Sexual and Marital Therapy, 13(4), 361–368. https://doi.org/10.1080/02674659808404254
  • Schaefer, M. T., & Olson, D. H. (1981). Assessing Intimacy: The Pair Inventory. Journal of Marital and Family Therapy, 7(1), 47–60. https://doi.org/10.1111/j.1752-0606.1981.tb01351.x
  • Van den Broucke, S., Vandereycken, W., & Vertommen, H. (1995). Marital intimacy: Conceptualization and assessment. Clinical Psychology Review, 15(3), 217–233. https://doi.org/10.1016/0272-7358(95)00007-C

Ditulis oleh: Prof. Dra. Jenny Lukito Setiawan, M.A., Ph.D., Psikolog
Sumber gambar: Wedding photo created by freepik – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed