
Sebagai orang tua yang memiliki anak lebih dari satu, seberapa sering Anda melihat anak Anda bertengkar satu sama lain? Seperti yang sebagian besar orang tua pernah alami, hal ini seringkali disebut dengan “sibling rivalry”. Sebenarnya hal ini adalah hal yang wajar terjadi di dalam sebuah relasi saudara tetapi akan menjadi berbahaya jika tidak dikelola dengan baik. Hal ini menjadi semakin sulit dalam keadaan sekarang dimana karena efek pandemi, frekuensi bertemu antar saudara menjadi semakin intens. Dilain sisi, sebenarnya relasi dengan saudara kandung merupakan sebuah hal yang penting. Ketika persahabatan datang dan pergi, relasi sebagai saudara tetap ada dan bisa dibilang sebagai relasi dengan durasi terlama dibandingkan relasi yang lain. Relasi dengan saudara kandung bisa dibilang sebuah relasi yang unik. Anda tidak bisa berpura-pura di depan saudara Anda. Anda berada dalam lingkungan yang sama, memiliki orang tua, dan mengalami berbagai pengalaman yang serupa. Hal inilah yang membuat relasi ini menjadi unik dan tidak ternilai. Karena itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui beberapa hal terkait dengan pertikaian antar saudara atau yang sering kita sebut “sibling rivalry”.
- Bukan pekerjaan Anda dan Anda tidak memiliki kekuatan untuk membuat anak-anak Anda mencintai satu sama lain. Usaha Anda untuk mengkontrol bentuk relasi mereka biasannya justru akan membuat relasi itu berakhir menjadi persaingan
- Bukan tugas Anda untuk menyelesaikan konflik diantara mereka. Jika Anda menempatkan diri untuk membenahi segalanya, maka Anak akan memposisikan anda sebagai wasit atau juri, dan mereka akan kehilangan kesempatan belajar menyelesaikan masalahnya sendiri
- Hal yang bisa kita lakukan sebagai orang tua adalah memastikan adanya aturan dan anak tetap aman. Biarkan Anak tahu bahwa tugas mereka adalah bermain bersama. Tugas Anda sebagai orang tua adalah memastikan mereka dalam keadaan aman secara fisik maupun psikologis. Semisal jangan biarkan anak Anda menggunakan kata-kata atau bahasa yang menyakitkan
- Hindari menjadi wasit. Berpihak disalah satu anak malah akan meningkatkan persaingan itu sendiri. Anak akan menginternalisasi siapa yang berperan sebagai aggressor, dan siapa yang menjadi korban
- Gunakan teknik “pause and problem solving”. Ketika mereka bertengkar karena satu hal, Anda bisa mengambil objek tersebut dan instruksikan anak-anak Anda untuk melakukan “meeting”. Biarkan mereka berdiskusi hal apa yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini. Ketika hal ini tidak berhasil, Anda bisa mengambil objek tersebut dan sampaikan bahwa akan diberikan kembali ketika suasana menjadi lebih tenang. Jika dirasa sudah berbahaya, pisahkan mereka secara fisik sampai semuanya kembali menjadi tenang.
Ditulis oleh: Ersa Lanang Sanjaya, S.Psi., M.Si.
Sumber gambar: People vector created by brgfx – www.freepik.com
Others
- Photovoice: From Introduction to Publication 2026 April 30, 2026
- Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Emosi: Ketika Keluarga Tidak Lagi Terasa “Rumah” April 30, 2026
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025

