Mempelajari Teknik Konseling untuk di Rumah

Parents, anak-anak kita menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring dengan beranjaknya usia mereka. Ketika memasuki masa sekolah, anak-anak mulai melihat tantangan pertemanan dan tanggung jawab pendidikan. Memasuki usia SMP dan SMA, mereka mulai mengenal percintaan. Memasuki usia kuliah, mereka menghadapi lingkup pertemanan yang lebih luas dan juga tantangan karir. Setiap tantangan yang dihadapi anak bisa menjadi batu loncatan, atau malah resiko. Hal ini sangat bergantung pada bagaimana kita mempersiapkan dan mendampingi mereka selama proses pertumbuhannya.

Selain anak-anak, kita juga mungkin diperhadapkan dengan anggota keluarga lain yang membutuhkan dukungan dan dampingan. Suami yang menghadapi stress kerja, anggota keluarga besar yang sedang bertengkar dengan pasangan, dll. Bagaimana kita dapat berperan untuk membantu mereka?

Kita mungkin sering mendengar peran konselor dalam membantu individu menghadapi permasalahan mereka. Konselor professional memiliki izin praktik, dan tentu tidak semua orang bisa mendapatkannya. Tapi meskipun demikian, kita bisa mempelajari teknik-teknik konseling guna membantu anggota keluarga menang melewati masalah.

Menurut KBBI, konselor memiliki arti orang yang melayani konseling; penasihat; penyuluh. Konseling sendiri sebenarnya diartikan sebagai proses dimana sang konselor menyediakan waktu, perhatian, penghargaan kepada orang yang berperan sebagai klien. Tujuannya, agar klien dapat menggali, menemukan dan memperjelas cara-cara untuk lebih berdaya dalam menghadapi permasalahan (British Association for Counselling, 1991).  Dalam hal ini, peran konselor dan konseling ini lah yang ingin kita terapkan di rumah, dengan lingkungan yang lebih familiar untuk setiap anggota keluarga.

Konseling memiliki beberapa keterampilan dasar. Berikut adalah keterampilan konseling yang bisa kita pelajari dan terapkan guna menjadi “penolong” di rumah.

Hadir

Hadir (to attend) yang dimaksud adalah menjadi hadir secara fisik maupun psikologis untuk orang lain. Dalam hal ini, Ketika kita mendengar ada anggota keluarga kita yang sedang menceritakan masalah, kita menjadi hadir sepenuhnya untuk mereka. Selain membantu kita untuk benar-benar memahami mereka, attending menunjukan bahwa kita menganggap cerita mereka penting untuk diperhatikan.

Apakah kita hadir sepenuhnya atau tidak untuk mereka dapat dilihat oleh orang lain. Berikut adalah hal-hal yang dapat kita lakukan untuk benar-benar hadir untuk mereka:

  1. Posisi badan tidak tertutup (contoh: melipat tangan) dan condong ke depan (menunjukan bahwa kita ingin mendengarkan mereka)
  2. Adanya eye contact
  3. Fokus
  4. Usahakan mengurangi Bahasa tubuh yang menunjukan ketidaknyaamanan seperti, menggerak-gerakan kaki, mengetuk-ngetuk meja, dll.

Aktif mendengarkan

Sering kali, mendengarkan dianggap seperti aktivitas yang sederhana dan pasif (hanya menerima apa yang orang katakan). Tapi pada hakikatnya, mendengarkan adalah kegiatan aktif yang tidak mudah dilakukan. Mendengarkan secara aktif membutuhkan kita untuk fokus, tidak hanya pada kata-kata yang dikeluarkan, tapi juga memperhatikan Bahasa tubuh anggota keluarga, dan sensitif pada perasaan dan kebutuhan mereka. Dari mendengarkan secara aktif, kita jadi lebih mampu untuk berempati.

Bagaimana menunjukan kepada anggota keluarga bahwa kita mendengarkan mereka secara aktif?

  1. Menunjukan gesture attending
  2. Sesekali berikan respon sederhana secara verbal seperti “Oh, begitu”, “Lalu apa yang terjadi?” atau dengan Bahasa tubuh seperti anggukan.

Memberikan respon empati

Hadir sepenuhnya dan mendengarkan dengan aktif memampukan kita untuk merespon dengan empati. Seringkali ketika kita mendengarkan anggota kita bercerita, kita tidak menunjukan bahwa kita benar-benar mengerti apa yang mereka sampaikan. Padahal, proses ini sangat penting. Menjawab dengan “Sudah lah, hanya begitu saja. Kamu harus kuat” akan memberikan hasil yang berbeda dengan ketika kita menjawab seperti ini “Jadi kamu sedih karena merasa ditinggal teman-temanmu, ya? Mama mengerti yang kamu rasakan, memang tidak nyaman ya. Adakah hal yang bisa membuatmu menjadi pribadi yang lebih kuat?”.

Memberikan respon empati dapat dilakukan dengan menyimpulkan apa yang mereka rasakan atau mereka alami. Dalam hal ini, kita merefleksikan kembali apa yang telah anggota keluarga kita sampaikan dengan Bahasa yang berbeda. Biasanya, respon empatik dapat dilakukan dengan kalimat ini:

              Oh, jadi kamu merasa______ karena ____ ya?

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memberikan respon empatik adalah:

  1. Pastikan kita menggambarkan emosi dengna tepat. Kecewa tidak sama dengan marah, demikian juga sedih berbeda dengan kecemasan. Pastikan kita benar-benar memahami emosi yang saat ini mereka rasakan.
  2. Memperhatikan perilaku untuk mengetahui perasaan anggota keluarga.
  3. Menggunakan cara yang bervariasi untuk menunjukan bahwa kita memahami perasaan anggota keluarga.

Pelajari lebih lengkap mengenai teknik-teknik konseling untuk penolong dalam “Buku Ajar Psikologi Konseling

Referensi

SETIAWAN, J. L., AISAH, B., & WULANSARI, O. D. (2020). BUKU AJAR PSIKOLOGI KONSELING. Penerbit Universitas Ciputra.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: House photo created by gpointstudio – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed