Memahami Komunikasi Interpersonal dan Menerapkannya dalam Relasi Berpasangan

Pernahkah kita mendengarkan pernyataan bahwa keluarga harmonis bersumber dari komunikasi yang baik antar individu dalam suatu keluarga? Komunikasi yang dimaksudkan bukan hanya tentang dialog atau percakapan dengan satu sama lain. Komunikasi juga bisa menyangkut komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi yang dilakukan oleh orang-orang secara tatap muka, yang hal ini dapat memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik reaksi verbal maupun non verbal (Mulyana, 2008). Dalam perkembangan teknologi yang semakin maju, perilaku komunikasi-pun semakin mudah direalisasikan. Dikutip melalui Artikel Universitas Medan FISIPOL, komunikasi interpersonal sendiri merupakan komunikasi yang dilakukan oleh dua individu yang saling bertukar pandangan, perasaan, dan sikap tentang masalah apapun. Melanjutkan dari sumber yang sama, komunikasi interpersonal dapat terjadi tidak hanya melalui tatap muka, namun hal ini dapat diterapkan melalui sambungan telepon/internet dengan adanya keterikatan emosional satu sama lain.

Melalui artikel ini kita akan memahami manfaat komunikasi interpersonal dalam hal keharmonisan pasangan. Sastropoetro (dalam Riana dan Sudhana, 2013, h.24) mengatakan bahwa komunikasi interpersonal yang baik dalam pernikahan mampu memelihara hubungan. Selain itu, komunikasi interpersonal yang sehat meminimalisir terjadinya situasi yang dapat merusak hubungan pasangan. Melihat definisi dan manfaat yang sudah dijelaskan sebelumnya, mari kita beralih pada bagaimana cara menerapkan komunikasi interpersonal kepada pasangan. Adapun aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam komunikasi interpersonal sebagai berikut (dikutip melalui buku Komunikasi Antar Manusia karya Josept A. Devito):

  1. Bersifat terbuka

Pernikahan adalah komitmen untuk menjalani kehidupan bersama. Kita perlu menyadari bahwa ketika sudah memutuskan berkomitmen dengan pasangan, kita bukan hanya membantu pasangan, namun juga bersedia menerima bantuan dari pasangan. Memiliki sifat yang terbuka akan membawa pasangan untuk bisa lebih mengerti kondisi satu sama lain. Luthfi (2017, h.53) mengatakan bahwa dengan komunikasi interpersonal yang terbuka, kegagalan dalam memahami pesan antar pasangan dapat diminimalisir. Melanjutkan dari sumber yang sama, dengan adanya keterbukaan satu sama lain, maka akan muncul sikap percaya suami terhadap istri maupun sebaliknya. Kepercayaan ini merupakan sebuah bukti bahwa masing-masing individu tidak akan saling mengkhianati (Luthfi, 2017, h.57). Mengerti kondisi satu sama lain ini merupakan salah satu dari pondasi relasi berpasangan.

  1. Bersikap positif & suportif

Sewaktu kecil, sebagian besar dari kita mungkin sering mendengar arahan atau anjuran dari orang tua untuk berperilaku positif. Salah satu perilaku positif yang mungkin kita sering dengar adalah jangan suka berkelahi ketika berselisih memperebutkan mainan atau membela diri sendiri ketika dirasa benar. Sayangnya, apa yang baik dan tidak baik untuk dilakukan juga dapat bergeser seiring berjalannya waktu. jika dulu kita didorong untuk mengandalkan orang tua, semakin dewasa kita belajar untuk semakin mandiri dan malah bisa menopang orangtua kita. apa yang baik dan tidak baik antara satu orang dengan orang lain juga dapat berbeda-beda tergantung dari faktor sosial, budaya, dan kepercayaan. demikian juga antara suami dan istri bisa jadi memiliki ‘standar kebaikan’ yang berbeda. Perbedaan mengenai apa yang baik dan tidak bisa jadi pemicu konflik. tapi bukan berarti hal itu tidak perlu dilakukan.

Ketika kita mengetahui adanya perbedaan dari kepercayaan baik-buruk yang dimiliki oleh pasangan dengan diri, perbedaan tersebut perlu dikomunikasikan satu sama lain untuk membentuk sistem keyakinan baru dalam keluarga (Meizara, 2008, h.43). Ketika pasangan melakukan perilaku yang dirasa mengesampingkan norma-norma yang berlaku di masyarakat, hal utama yang perlu diterapkan kepada diri kita adalah dengan merefleksikan perilaku tersebut. Refleksi itu bertujuan untuk melihat dampak apa yang akan dihasilkan dari tindakan yang diambil pasangan, memahami faktor eksternal yang mempengaruhi pasangan mengambil tindakan tersebut, serta membentuk skema solusi seperti apakah yang pantas meminimalisir dampak dari tindakan/perilaku yang diambil oleh pasangan. Setelah melakukan refleksi, langkah yang kedua adalah mengkomunikasikan dengan pasangan dalam kondisi tenang. Dengan melakukan komunikasi interpersonal, diharapkan diri kita dan pasangan dapat merasakan emosi yang dirasakan oleh masing-masing orang dan mengambil kebijakan terbaik atas apakah perilaku tersebut pantas dilanjutkan atau tidak. Berperilaku baik dan suportif kepada pasangan sah-sah saja. Namun, alangkah lebih baik jika kita menelaah terlebih dahulu perilaku yang dilakukan oleh pasangan tersebut (Widjaja, 2002). Ketika kita bisa memberikan perilaku baik dan suportif, maka salah satu pondasi relasi berpasangan yaitu berupa mengubah tingkah laku dapat direalisasikan (Deddy, 2005)

  1.  Empati

Empati termasuk dalam kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan berusaha mengambil perspektif orang lain (Baron & Branscombe, 2017, h.313). Membangun rasa empati di dalam komunikasi interpersonal sangat berguna bagi masyarakat, terutama dalam hal berpasangan. Fesbach (dalam Kusasi, 2014, h.43) menyebutkan bahwa empati memiliki aspek kognitif dan emosi. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa dengan berempati pada perasaan dan pemikiran pasangan dapat menurunkan suatu konflik, dan meningkatkan masing-masing peserta relasi untuk memecahkan masalah. Keadaan tersebut sangat berguna ketika terjadi konflik dalam pernikahan pada pasangan, kesadaran akan pemecahan masalah pada kedua belah pihak akan timbul dikarenakan masing-masing peserta relasi memiliki empati, dengan kata lain kehadiran empati dapat mengurangi persoalan dan membantu permasalahan yang terjadi dalam berelasi baik kepada dunia luar atau dalam konteks relasi berpasangan (Lisa, dkk, 2016).

  1. Kesetaraan Hak

Dalam berelasi dengan orang lain, kita perlu memahami komponen kesetaraan yang berperan dalam relasi tersebut, terutama dalam relasi berpasangan. Kesetaraan yang dimaksudkan adalah kesetaraan hak. Rahmawati A. (2015, h.3) menuturkan bahwa masyarakat seringkali memposisikan laki-laki lebih mendapatkan hak-hak istimewa, sedangkan perempuan sebagai kaum kelas dua. Hak-hak istimewa disini yaitu berupa hak mendapatkan pendidikan yang tinggi, hak tidak mengasuh anak, hak berkarir. Istilah yang mungkin sering kita dengar sehari-hari adalah ‘Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, toh nantinya juga di dapur’ ‘Laki-laki tidak perlu mengurus anak, cukup cari nafkah saja.’ Padahal sebenarnya, setiap orang memiliki hak mendapatkan pendidikan yang cukup serta mengasuh anak atas landas tanggung jawab yang diemban. Masing-masing individu dalam relasi perlu mendapatkan perlakuan yang setara baik berupa mendapatkan perilaku didengarkan maupun mendengarkan, dicintai ataupun mencintai, mendapatkan sentuhan atau melakukan sentuhan, memahami dan dipahami,  serta komponen lain yang membuat relasi tersebut menjadi relasi yang terbuka, harmonis, dan menjunjung tinggi rasa empati satu sama lain. Kita perlu menumbuhkan kesadaran untuk memberikan feedback positif kepada pasangan sama halnya seperti mereka memberikan hal positif kepada kita (Fadilah, dkk., 2011).

Dari empat komponen diatas, dapat kita pelajari bersama bahwa dalam komunikasi interpersonal, bukan berpatok pada seberapa sering kita melakukan percakapan dengan pasangan. kita perlu memahami mengenai komponen-komponen penopang komunikasi interpersonal berupa perilaku keterbukaan, memberikan sikap positif dan suportif, empati, dan memiliki kesetaraan dalam pemerolehan hak antar pasangan. Empat komponen tersebut perlu dilatih terus menerus, agar tercapainya komunikasi interpersonal yang sehat. Dari komunikasi interpersonal yang sehat ini, tidak menutup kemungkinan akan muncul relasi interpersonal yang sehat antar pasangan.

Ditulis oleh: Rudy Gunawan – Mahasiswa Psikologi Universitas Ciputra
Sumber gambar: Love vector created by macrovector – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed