Menghadapi Kematian dan Kedukaan

Ketika ada kehidupan, maka akan ada kematian. Ditinggalkan oleh orang terdekat terkadang membuat kita terpuruk. Sama seperti beberapa contoh kasus kedukaan, yang membuat anggota keluarga mereka juga merasakan duka yang mendalam. 

Sebagian besar kita sudah pernah mendengar kasus kecelakaan yang dialami oleh Kobe Bryant dan anaknya kan? Atau mengetahui tentang tragedi tenggelamnya Kapal Sewol di Korea? Bahkan mungkin teman-teman sudah mengetahui tentang tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada bulan Oktober lalu? 

Tidak hanya kasus-kasus yang sudah disebutkan yang membuat keluarga menjadi berduka,  kehilangan seseorang akibat penyakit tertentu dan kelalaian manusia juga dapat terjadi dan ditemui di kehidupan kita. Misalnya, kehilangan anggota keluarga akibat COVID-19. 

Tentunya kita tidak menginginkan fenomena tersebut terjadi, namun hal yang harus menjadi fokus kita adalah bagaimana cara kita untuk kembali resilien ketika mengalami kedukaan, khususnya dalam keluarga. 

Peran keluarga sangat penting ketika sedang dalam keadaan berduka. Keberadaan keluarga yang berada di samping kita dan support kita selama proses healing dari kedukaan membantu kita lebih resilien. Hal ini tentunya membantu setiap anggota keluarga untuk move on dan melanjutkan kehidupan tanpa anggota yang telah meninggal. 

Adanya ketidakseimbangan peran akibat kedukaan turut dapat mengancam resiliensi pada keluarga, seperti contoh ketika kehilangan sosok ayah maka peran kepala keluarga serta pencari nafkah pun hilang. Selain itu apakah teman-teman juga pernah menemui seseorang yang menyalahkan keadaan, Tuhan, maupun orang lain saat berduka?

Nah, hal tersebut juga turut menjadi faktor yang mengancam resiliensi. Ada juga tradisi budaya berduka yang dapat ditemui pada setiap daerah maupun negara lain. Seperti tidak boleh menangis, tidak boleh menunjukkan emosi, dan juga membahas anggota yang meninggal. Padahal nyatanya akan sangat bahaya apabila emosi yang kita rasakan selalu dipendam. 

Kalau tradisi berduka di daerah teman-teman seperti apa nih?

Selain hal yang mengancam resiliensi tadi, pastinya ada juga hal yang menguatkan resiliensi pada keluarga berduka. Seperti dengan adanya dukungan fisik dan emosional dari para anggota keluarga, religiusitas dan adanya keinginan dalam diri untuk menjadi keluarga yang resilien.

Oleh karena itu resiliensi pada keluarga yang sedang berduka memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga ketahanan dan keharmonisan keluarga. Bagaimana ya caranya? 

  1. Tidak melarikan diri dan tidak melawan kedukaan. Tetap menghadapi kenyataan kedukaan dan setiap anggota keluarga memiliki kewajiban untuk bekerja sama agar bertahan di fase kedukaan. 
  2. Meluangkan waktu untuk berkumpul dengan anggota keluarga. Tujuannya adalah mengutarakan pemikiran dan perasaan yang dimiliki selama fase berduka, sehingga dapat saling terbuka, mentoleransi, dan menunjukkan empati pada respon kedukaan yang mungkin berbeda.
  3. Mendiskusikan rencana bersama anggota keluarga untuk menyesuaikan diri terkait kehidupan kedepannya dengan mengatur rencana maupun strategi baru. Misalnya, membahas tentang keuangan atau pergantian peran akibat anggota keluarga yang sudah tiada. 
  4. Menghadapi kenyataan bahwa kita tetap harus melanjutkan kehidupan di tengah kondisi dan goncangan hidup maupun psikis yang ada. 

DAFTAR PUSTAKA

Hussin, N.A.M., Guardia, J., & Aho, A.L. (2018). The use of religion in coping with grief among bereaved Malay Muslim parents. Mental Health Religion & Culture, 21(2), 1-13. http://dx.doi.org/10.1080/13674676.2018.1500531

Nasution, E. S. (2022). Resiliensi terhadap kedukaan masyarakat Indonesia dalam menghadapi  pandemi COVID-19. JP3SDM, 11(1), 55-69. 

Ladiba, G.C., & Utami, M.S. (2020). Resiliensi single working mother pasca suami meninggal. Happiness, 4(1), 1-16. 

Lai, W., Li, W., & Chiu, W. (2021). Grieving in silence: Experiences of bereaved Taiwanese family members whose loved ones died from cancer. European Journal of Oncology Nursing, 52. https://doi.org/10.1016/j.ejon.2021.101967

Ludik, D., & Greeff, A. P. (2020). Exploring factors that helped adolescents adjust and continue with life after the death of a parent. Journal of Death and Dying, 1-21. https://doi.org/10.1177/0030222820923905

Thomas, J. K., Titlestad, K. B., Stroebe, M., & Dyregrov, K. (2020). Drug-related death bereavement: A commentary by Kelly Thomas on Titlestad, Stroebe, and Dyregrov’s article: How do drug-death-bereaved parents adjust to life without the deceased? A qualitative study. OMEGA – Journal of Death and Dying, 82(1), 165-172. https://doi.org/10.1177/0030222820946550

Penulis: Sherly Yuriko Kato, Sheren Reggyna Herawan, Jessica, Grace Santosa

Sumber Gambar: https://unsplash.com/photos/cQ-66Evaf5g

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed