Ayo, Nikmati Waktu Berkualitas Bersama Keluarga!

Ayo, Nikmati Waktu Berkualitas Bersama Keluarga!

Keluarga seharusnya menjadi kelompok sosial yang paling utama bagi seorang anak. Berbeda dengan kelompok pertemanan, keluarga memiliki struktur dan peran yang tidak dapat digantikan oleh teman-teman seusia mereka. Peranan ibu dan ayah serta saudara sebagai tim membuat keluarga menjadi wadah yang lebih efektif dalam membentuk kepribadian anak. Namun sayangnya, seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan zaman, semakin sedikit waktu yang diluangkan oleh individu untuk quality time bersama keluarga. Waktu liburan, waktu makan malam ataupun waktu jalan-jalan mulai lebih banyak dihabiskan bersama dengan teman-sebaya atau diisi dengan kesibukan lainnya. Kini, selama tidak melakukan hal yang melanggar hukum, anggota keluarga boleh memiliki prioritas penggunaan waktu mereka masing-masing meskipun waktu bersama keluarga bukanlah yang utama.

Waktu yang dihabiskan bersama dengan keluarga di dalamnya terkandung rutinitas dan ritual keluarga. Rutinitas banyak berbicara mengenai aktivitas rutin yang dilakukan oleh orang tua dan anak-anak di saat saat tertentu (Spagnola & Fiese, 2007). Ritual keluarga lebih menggambarkan bagaimana identitas keluarga dituangkan saat menghabiskan waktu bersama (Segal, 2004). Ritual dan rutinitas keluarga memfasilitasi kehidupan, mengkomunikasikan nilai-nilai, dan memperkuat identitas keluarga.

Terlepas dari tren dan apa yang sudah dianggap biasa oleh masyarakat, menghabiskan quality time bersama dengan keluarga masih sangat penting. Selain untuk menjaga hubungan, manfaat lain dari quality time bersama keluarga adalah memberikan orang tua kesempatan untuk menunjang pertumbuhan yang positif pada anak. 

Manfaat rutinitas dan ritual keluarga

  • Memfasilitasi penyesuaian psikologis
    Anak-anak adalah pribadi yang akan terus belajar. Pertama-tama dimulai dari mempelajari hal-hal konkret yang ada di sekitar mereka, lalu masuk ke hal-hal abstrak seperti prinsip dan value, dinamika sosial, hingga kemudian mereka belajar untuk menetapkan identitas diri. Dalam setiap pembelajaran, baik orang tua dan anak akan menemukan dan melakukan banyak perubahan. Bossard dan Boll (1950) menemukan bahwa ritual keluarga memberikan stabilitas pada saat masa transisi dan stress yang dialami oleh keluarga. Melalui aktivitas yang dilakukan bersama, keluarga akan menguatkan identitas keluarga dan meningkatkan kesatuan (Yoon, 2012). Ritual keluarga memampukan orang tua untuk membantu anak mengstruktur suatu konteks dan mengembangkan penyesuaian psikologis yang efektif.
  • Memberikan perlindungan dan rasa aman
    Rutinitas keluarga dapat memberikan rasa aman pada anak (Arvidson et al. 2011; Crespo et al. 2013). Melalui rutinitas keluarga seperti makan malam, keluarga memiliki kesempatan untuk saling menukarkan emosi positif (Fiese, 2006), memperkuat kedekatan emosional antar angota keluarga, dan saling memberikan dukungan emosional (Crespo et al. 2013). Dalam rutinitas dan ritual keluarga, anggota keluarga dapat saling bercerita, memberikan respon positif dan secara nyata hadir untuk memberikan dukungan. Hal membuat keluarga menjadi lingkup sosial dan kuat untuk anak-anak bisa bercerita, termotivasi serta mendapatkan nasehat yang konstruktif.
  • Memfasilitasi perkembangan regulasi emosi
    Manfaat lain dari rutinitas dan ritual keluarga adalah membantu pembentukan regulasi emosi yang baik pada anak (Yoon, 2012). Beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukan bagaimana konteks keluarga (batasan, value, standart perilaku, dll) mampu melindungi mereka dari hal-hal yang dapat mengganggu proses emosi mereka (Yoon, 2012). Contoh sederhananya adalah bagaimana kita mengajarkan kapan seorang anak boleh merengek untuk meminta sesuatu, kapan ia tidak seharusnya menangis, tertawa, dll.
  • Memfasilitasi perkembangan kemampuan berbahasa
    Spagnola & Fiese (2007) menjelaskan bagaimana rutinitas dan ritual keluarga mampu membantu anak untuk mengambangkan kemampuan berbahasa. Dalam konteks makan malam keluarga, masing-masing dari anggota keluarga dapat belajar untuk mendengarkan kosakata, peka terhadap bentuk komunikasi verbal dan non-verbal orang lain, serta belajar untuk merespon suatu pertanyaan ataupun pernyataan dengan benar berdasarkan nilai atau prinsip keluarga. Tidak hanya itu, kegiatan keluarga yang memfasilitasi komunikasi antar anggota keluarga membantu anak untuk mempelajari perspektif baru dalam melihat suatu situasi. 

Menghabiskan waktu bersama keluarga memiliki dampak positif bagi anak-anak. Namun tidak hanya dari seberapa sering keluarga menghabiskan waktu bersama, bagaimana individu memaknai waktu bersama keluarga mereka juga sangatlah penting untuk personal growth mereka (Yoon, 2012).

Referensi
  • Arvidson, J., Kinniburgh, K., Howard, K., Spinazzola, J., Strothers, H., Evans, M., et al. (2011). Treatment of complex trauma in young children: Developmental and cultural considerations in application of the ARC intervention model. Journal of Child and Adolescent Trauma, 4(1), 34–51.
  • Bossard, J.H.S. & Boll, E.S. (1950). Ritual in Family Living: A Contemporary Study. Philadelphia, PA: University of Pennsylvania Press.
  • Bossard, J.H.S. & Boll, E.S. (1950). Ritual in Family Living: A Contemporary Study. Philadelphia, PA: University of Pennsylvania Press.
  • Chen, F. (2017). Everyday Family Routine Formation: A Source of the Development of Emotion Regulation in Young Children. Perspectives in Cultural-Historical Research, 129–143.
  • Crespo, C., Santos, S., Canavarro, M. C., Kielpikowski, M., Pryor, J., & Féres-Carneiro, T. (2013). Family routines and rituals in the context of chronic conditions: A review. International Journal of Psychology, 48(5), 729–746.
  • Fiese, B. H. (2006). Who took my hot sauce? Regulating emotion in the context of family routines and rituals. In D. K. Snyder, J. A. Simpson, & J. N.
  • Hughes (Eds.), Emotion regulation in couples and families: Pathways to dysfunction and health (pp. 269–290). Washington, DC: American Psychological Association.Yoon, Yesel, “The Role of Family Routines and Rituals in the Psychological Well Being of Emerging Adults” (2012). Masters Theses 1911 – February 2014. 965.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed