Sudahkah Anda Siap untuk Menikah?
Sudahkah Anda Siap untuk Menikah?
Salah satu pertanyaan yang kerap ditanyakan pada saat acara bersama keluarga adalah “Kapan menikah?”. Pertanyaan ini juga sering dijadikan bahan bercanda oleh anak-anak milenial saat mereka akan menghabiskan waktu yang lama bersama keluarga besar. Tidak sedikit yang pada akhirnya mengeluh karena setelah pulang dari acara keluarga, tuntutan mereka untuk menikah semakin tinggi. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (2016), ada sebanyak 340.000 anak perempuan di bawah usia 18 tahun yang menikah setiap tahunnya. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan angka usia pernikahan muda terbanyak kedua di ASEAN, dan peringkat ke-37 di dunia (berdasarkan data dari United National Development Economic and Social Affair).
Dipengaruhi oleh budaya yang dianut serta kondisi keluarga, usia ideal seseorang untuk menikah bisa berbeda-beda. Ada yang berpikir bahwa usia ideal adalah di bawah 18 tahun, di atas 18 tahun, setelah lulus perkulihaan, di bawah usia 25 tahun, dan sebagainya. Namun saat banyak keluarga yang berfokus pada usia ideal, mari kita melihat sejenak pada kesiapan psikologis dalam menghadapi pernikahan.
Pernikahan adalah salah satu cara untuk pasangan untuk berkomitmen, bersatu untuk memberikan struktur, makna, dan tujuan dalam kehidupan pasangan (Lavner & Bradbury, 2019). Menurut Monks et al. (dalam Fajriyah & Laksmiwati, 2014) remaja yang menikah akan memasuki masa baru dimana mereka harus menjadi dewasa saat mereka juga remaja. Hal ini membuat mereka tidak hanya harus mengemban tugas sebagai remaja (dalam hal ini mengonstruk identitas diri), namun juga permasalahan-permasalahan orang dewasa seperti mempertahankan hubungan pernikahan, menjalankan peran sebagai suami/ istri, dan membangun keluarga. Dalam prakteknya, remaja rentan untuk mengalami konflik antara keinginan untuk bebas dan bersenang-senang dengan kebutuhan untuk mengontrol diri dan lebih bertanggung jawab (Jahja, 2011). Hal ini bisa memberikan tekanan psikologis yang berat untuk remaja yang menikah dalam keadaan tidak siap (Utami, 2015; Octavia, 2014)
Pada masa transisi kehidupan ini, remaja yang menikah perlu memiliki kemampuan untuk melakukan penyesuaian dalam pernikahan (Wulansari & Setiawan, 2019). Locke & Wallace (1959) mendefinisikan penyesuaian pernikahan sebagai bentuk upaya individu untuk menghindari konflik dan meningkatkan kestabilan dalam pernikahan. Dalam hal ini, remaja yang menikah muda perlu diperlengkapi agar dapat menyesuaikan diri dengan baik.
Penelitian yang dilakukan oleh Wulansari & Setiawan (2019) menemukan bahwa kesejahteraan psikologis individu memiliki hubungan positif dengan penyesuaian pernikahan. Beberapa aspek dalam kesejahteraan psikologis yang mampu membantu individu untuk menyesuaikan diri dalam konteks pernikahan.
- Penerimaan diri
Individu yang menerima dirinya sendiri cenderung menyadari aspek positif dan negatif dalam diri dan lingkungannya, menjadi pribadi yang authentic, dan tidak berfokus pada penilaian orang lain terhadapnya (Carson & Langer, 2006). Dengan menerima diri sendiri individu cenderung lebih mudah untuk menerima lingkungan (Hadyani & Indriana, 2017), sehingga kemudian akan mampu untuk menerima pasangan, serta keluarga dari pasangan (Wulansari & Setiawan, 2019).
- Penguasaan lingkungan
Kemampuan menguasai lingkungan memampukan individu untuk mengontrol lingkungan mereka sehingga mereka dapat menentukan dan menyesuaikan lingkungan (Ryff & Keyes, 1995). Dengan mengatur lingkungannya, individu dapat meminimalisir konflik yang terjadi dalam pernikahan dan mencapai kestabilan dalam pernikahan (Karlina et al., 2013).
- Relasi positif
Individu yang memiliki kemampuan untuk membangun relasi yang positif akan cenderung melakukan penyesuaian di pernikahan dengan lebih baik (Wulansari & Setiawan, 2019). Ryff (1995) menjelaskan bahwa individu yang memiliki relasi positif dengan orang lain cenderung memiliki hubungan yang hangat, memuaskan, saling percaya, serta mampu untuk berempati dan akrab. Hubungan yang nyaman dan saling percaya antar masangan akan membantu individu untuk menyesuaikan pernikahan dengan lebih mudah (Karlina et al., 2013).
Referensi
- Carson, S. H., & Langer, E. J. (2006). Mindfulness and self-acceptance. Journal of rational-emotive and cognitive-behavior therapy, 24(1), 29-43.
- Fajriyah, & Laksmiwati, H. (2014). Subjective well-being pasangan muda yang menikah karena hamil. Character, 3(2), 1-9.
- Handayani, M. M., Ratnawati, S., & Helmi, A. F. (1998). Efektifitas pelatihan pengenalan diri terhadap peningkatan penerimaan diri dan harga diri. Jurnal Psikologi, 25(2), 47-55.
- Jahja, Y. (2011). Psikologi perkembangan. Kencana.
- Karlina, R., Avicenna, M., & Andriani, Y. (2019). Pengaruh Religiusitas dan Adult Attachment Terhadap Marital Adjustment pada Pasangan yang Baru Menikah. DAFTAR ISI, 207.
- Lavner, J. A., & Bradbury, T. N. (2019). Marriage and committed partnerships. In B. H. Fiese, M. Celano, K. Deater-Deckard, E. N. Jouriles, & M. A. Whisman (Eds.), APA handbooks in psychology®. APA handbook of contemporary family psychology: Foundations, methods, and contemporary issues across the lifespan (p. 445–461). American Psychological Association.
- Locke, H. J., & Wallace, K. M. (1959). Short marital-adjustment and prediction tests: Their reliability and validity. Marriage and family living, 21(3), 251-255.
- Octavia, D. (2014). Penyesuaian diri pada remaja putri yang menikah muda. Journal Psikologi, 116-122.
- Ryff, C. D., & Keyes, C. L. M. (1995). The structure of psychological well-being revisited. Journal of personality and social psychology, 69(4), 719.
- Utami, F. T. (2015). Penyesuaian diri remaja putri yang menikah muda. Psikis: Jurnal Psikologi Islami, 1(1), 11-21.
- Wulansari, O. D., & Setiawan, J. L. (2019). Hubungan antara Psychological Well-being dan Marital Adjustment pada Remaja. Psychopreneur Journal, 3(1), 36-46.
Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Others
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025
- Helping Clients Heal from Father Wounds July 16, 2025
- Bisa romantis tapi gak kompak ngasuh anak? July 3, 2025

