6 Karakteristik Kepribadian Entrepreneurship untuk Anak
Dewasa ini, pergerakan entrepreneurship mulai banyak berkembang di Indonesia. Menanggapi dorongan pemerintah untuk memiliki min. 2% wirausaha, entrepreneurship kini telah menjadi bagian di dunia pendidikan. Beberapa program dari pemerintah, seperti Program Mahasiswa Wirausaha, dan kompetisi wirausaha berskala nasional dari beberapa perusahaan mendorong generasi muda untuk menjadi pembuka lapangan kerja.
Definisi entrepreneurship menurut Hisrich, Peterm dan Shepherd (2005) adalah proses menciptakan sesuatu yang baru dan berharga dengan mendedikasikan waktu dan usaha, mengalkulasi resiko finansial, psikologis, dan social, untuk mendapatkan pencapaian berupa uang, kepuasan personal, atau kemandirian. Oleh sebab itu, meskipun entrepreneurship sering dikaitkan dengan ide bisnis dan keuntungan, pada dasarnya entrepreneurship menekankan pada kebiasaan untuk berkarya dan berinovasi yang terus menerus. Hasil dari karya dan inovasi tersebut dapat berupa keuntungan objektif seperti finansial, dan juga bisa meliputi keuntungan subjektif—sesuatu yang dianggap bernilai di mata masyarakat (Setiawan, 2008).
Dalam pelaksanaannya, entrepreneurship masih lebih banyak diberikan pada jenjang pendidikan menengah atas atau kejuruan, dan di perguruan tinggi. Tapi tahukah bapak ibu bahwa entrepreneurship dapat diterapkan sejak dini? Rauch dan Frese (2007) menjabarkan 6 karakteristik kepribadian entrepreneurial, yaitu motivasi berprestasi yang tinggi, berani mengambil resiko, inovasi, otonomi, locus of control internal, dan efikasi diri yang tinggi.
1.Motivasi berprestasi yang tinggi
Anak dengan motivasi berprestasi yang tinggi akan berusaha untuk memberikan kualitas kerja yang baik dan tekun berusaha untuk mencapai tujuan mereka (Setiawan, 2011). Mereka dengan motivasi berprestasi yang tinggi cenderung lebih bertanggung jawab untuk apa yang mereka kerjakan dan berjuang untuk meningkatkan kualitasnya (Setiawan, 2017). Dalam hal ini, anak dengan motivasi berprestasi yang tinggi akan cenderung lebih giat dalam belajar, tidak mudah puas, dan cenderung memiliki inisiatif untuk menjadi lebih baik.
2. Keberanian mengambil resiko
Keberanian untuk mengambil resiko adalah keberanian anak untuk mengambil keputusan beresiko dengan sudah memperhitungkan resikonya (Setiawan, 2017). Karakteristik ini mendorong anak untuk berani mencoba hal-hal baru yang juga adalah kesempatan mengembangkan diri. Dengan berani mencoba hal-hal baru, anak dapat terdorong untuk menjadi pribadi yang kreatif (Lubart, 2010; Plucker & Makel, 2010)
3. Inovasi
Inovasi adalah keberminatan untuk mencari kebaruan (Rauch & Frese, 2007). Pada tahap anak-anak, inovasi yang kita bayangkan tidak bisa disamakan dengan apa yang orang dewasa bisa ciptakan. Namun keinginan untuk terus menemukan kebaruan perlu untuk dipupuk dan dijadikan kebiasaan. Salah satu masalah yang sering muncul dan menghambat dorongan anak untuk berinovasi adalah terkadang sebagai orang dewasa, kita merasa bahwa ide-ide anak cenderung tidak masuk akal, tidak menguntungkan, atau hanya merepotkan. Implikasinya, kita berhenti memberikan feedback positif atau malah memarahi anak. Tidak heran jika sewaktu anak bertumbuh besar, mencoba hal-hal baru atau menuangkan kreatifitas menjadi wujud nyata terlihat sangat menakutkan atau tidak rewarding. Sebaliknya, menghargai dan memberikan masukan membangun akan memotivasi anak untuk mempertahankan kebiasaan berinovasi dan memproduksi ide yang semakin baik.
4. Otonomi
Otonomi adalah kemandirian seseorang untuk menetapkan target, membuat perencanaan, dan mengontrol pencapaian tujuan mereka (Rauch & Frese, 2007). Meskipun peran orang tua untuk membuat keputusan dalam kehidupan anak-anak masih dominan, bukan berarti anak tidak bisa belajar untuk membuat target dan rancangan tahapan untuk mencapai target mereka. Otonomi mendorong anak untuk menyadari batasan kontrol yang bisa ia lakukan, hal ini termasuk keyakinan mereka untuk merancang hal-hal yang perlu dilakukan, dan keyakinan untuk melihat kapasitas diri (Skinner, Chapman, & Baltes, 1988 dalam d’Ailly, 2003). Otonomi yang ditumbuhkan dengan baik akan membantu anak untuk lebih reflektif dengan apa yang ia pikirkan, dan kemudian mendorongnya untuk meningkatkan diri. Salah satu contoh aktivitas sederhana yang dapat meningkatkan otonomi anak adalah mengajaknya memasak (seperti membuat jelly) atau membuat prakarya. Dalam kegiatan memasak atau membuat prakarya bersama, anak dapat dilatih untuk menentukan target/ hasil karya, apa yang ingin diciptakan, dan tahapan-tahapan seperti apa yang ingin ia lakukan untuk menciptakan karya tersebut.
5. Internal Locus of Control
Locus of Control adalah kemampuan seseorang untuk melihat sumber yang mengontrol keadaan hidupnya. Individu dengan locus of control yang percaya bahwa dirinya sendiri lah yang mampu untuk mengontrol dan mengatur hal-hal yang terjadi dalam hidupnya (Setiawan, 2017). Oleh sebab itu, orang-orang dengan locus of control internal cenderung lebih bertanggung jawab untuk hal negatif yang terjadi maupun untuk mencapai hal-hal baik di masa mendatang (Hallahan et al., 1978).
Locus of control internal perlu dibangun sejak dini. Penelitian menemukan bahwa mengaitkan kegagalan pada kurangnya usaha individu dapat meningkatkan kegigihan (Schunk, 1981). Dengan melihat bahwa dirinya menjadi kunci penting bagi perubahan yang ia alami, anak dapat termotivasi untuk terus belajar dan mengarahkan dirinya pada target pencapaian tertentu alih-alih hanya bergantung pada apa yang lingkungan berikan kepada mereka.
6. Efikasi Diri
Efikasi diri berbicara mengenai kepercayaan diri individu untuk melakukan suatu tugas tertentu dengan baik (Setiawan, 2017). Anak yang memiliki efikasi diri yang baik akan cenderung lebih gigih saat menghadapi masalah, berani untuk mencoba hal baru, dan cenderung akan mencari solusi untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Membangun efikasi diri juga perlu untuk dilakukan sejak dini. Dengan bantuan orang tua untuk mengarahkan dan membantu mereka mengkonstruksi pemikiran yang kritis (melalui evaluasi), maka anak dapat bertumbuh menjadi pribadi yang aktif dan mampu menyelesaikan masalah dengan baik.
Referensi
- Hallahan, D. P., Gajar, A. H., Cohen, S. B., & Tarver, S. G. (1978). Selective attention and locus of control in learning disabled and normal children. Journal of Learning Disabilities, 11(4), 47-52.
- Lubart, T. (2010). Cross-cultural perspectives on creativity. The Cambridge handbook of creativity, 265-278.
- Plucker, J. A., & Makel, M. C. (2010). Assessment of creativity. The Cambridge handbook of creativity, 48-73.
- Schunk, D. H. (1981). Modeling and attributional effects on children’s achievement: A self-efficacy analysis. Journal of Educational Psychology, 73, 93-105.
- Setiawan, J. L. (2017). Optimizing Co-parenting to Develop Entrepreneurial Personality in Children. Anima Indonesian Psychological Journal, 32(2), 65-75.
Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Others
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025
- Helping Clients Heal from Father Wounds July 16, 2025
- Bisa romantis tapi gak kompak ngasuh anak? July 3, 2025

