Memanfaatkan Work from Home untuk Dekat dengan Anak Remaja

Bekerja di rumah sambil mengurus anak bukanlah hal yang mudah. Saat ini, selain harus berfokus pada pekerjaan dan memantau pembelajaran anak, orang tua juga harus menjaga kondisi rumah agar tetap kondusif. Dalam prakteknya, perpindahan lokasi kerja menyebabkan individu harus mengadaptasi rutinitas dan membentuk kebiasaan yang baru agar individu dapat tetap produktif. Perubahan-perubahan yang drastis ini terkadang menyebabkan stress dan situasi yang intens dalam keluarga.

Tapi tahukah parents, bahwa terlepas dari konflik dalam keluarga yang mungkin terjadi, kebijakan work from home (WFH) dapat membantu keluarga untuk lebih saling mengenal dan dekat. Saat orang tua dan anak menghabiskan waktunya bersama, orang tua dapat mengobservasi hal-hal pada anak yang biasanya ia lewatkan saat ia bekerja, demikian juga dengan anak bisa belajar untuk memahami orang tua dan pekerjaannya. Saat di rumah, orang tua dapat memberikan aktivitas baru dan membentuk rutinitas yang bermakna bersama keluarga. Melalui aktivitas dan rutinitas yang bermakna, orang tua dapat memantau perkembangan anak dan mengetahui apa yang anak alami, pikirkan, dan rasakan. Kesempatan ini tentu sangat sayang untuk dilewatkan.

Bagi keluarga yang memiliki anak remaja, melakukan aktivitas bersama bisa jadi tidak mudah. Remaja adalah tahapan dimana teman sebaya merupakan figur yang signifikan, sehingga tidak heran jika remaja lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bersama dengan teman. Aktivitas online seperti bermain game online, menelepon teman, ataupun menonton youtube yang saat ini sedang trend akan menjadi pilihan yang lebih menarik untuk mereka. Kesenjangan penggunaan teknologi dan topik bahasan seperti ini dapat membuat orang tua merasa kesulitan untuk memahami apa yang sedang mereka bahas, lalu akhirnya memilih untuk tidak terlibat. 

Lalu, adakah hal yang dapat dilakukan oleh orang tua agar tidak kehilangan kesempatan untuk semakin dekat dengan anak remaja? Tentu saja ada. Berikut adalah pilihan aktivitas dan rutinitas bermakna yang dapat dilakukan bersama dengan remaja.

  • Memanfaatkan waktu makan bersama

Saat WFH, waktu makan bersama adalah waktu yang paling memungkinkan untuk dilakukan oleh semua anggota keluarga. Orang tua memiliki kesempatan untuk semakin mengenal anak remaja dengan menjadikan waktu makan bersama sebagai sesuatu yang bermakna dan spesial untuk anak remaja. Saat makan bersama, orang tua dapat “menarik” remaja untuk terlibat atau berkontribusi sehingga mereka juga merasa menjadi bagian penting dalam keluarga. 

Waktu makan bersama dapat menjadi berarti bagi semua yang terlibat jika berfokus pada penyelesaian masalah, mendiskusikan topik sensitif, dan kekompakan (Fiese, Foley, Spagnola, 2006). Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada keluarga dengan anak remaja, Vuchinich (1987) menemukan bahwa saat keluarga terbuka pada pembahasan mengenai masalah, keluarga juga membuat anak merasa bahwa mereka memiliki pengaruh dalam keluarga. Dengan demikian, dalam makan bersama keluarga, remaja bisa lebih terbuka pada keluarga tentang apa yang ia alami.

  • Memberikan tanggung jawab untuk mengatur proyek keluarga atau pekerjaan rumah

Dalam perkembangan remaja, self-esteem adalah salah satu hal yang menonjol. Santrock (2011) mengatakan bahwa self-esteem remaja cenderung menurun jika dibandingkan dengan ketika mereka masih anak-anak. Hal ini bisa disebabkan karena mereka menggunakan teman atau relasi sosial sebagai perbandingan.

Salah satu hal yang dapat orang tua lakukan untuk membantu meningkatkan self-esteem anak remaja adalah dengan memberikan mereka tanggung jawab. Dengan belajar secara online di rumah, anak dapat diminta untuk melakukan hal-hal yang dapat berkontribusi nyata untuk keluarga. Contoh, anak dapat diminta untuk mengatur aksi sosial keluarga dengan mengumpulkan barang dan baju bekas layak pakai yang dapat diberikan ke panti asuhan. Orang tua bisa meminta mereka untuk membuat jadwal kerja, mengontak panti asuhan, dan memimpin proyek kecil ini. Selain itu orang tua juga dapat meminta mereka untuk bertanggung jawab dengan pekerjaan rumah seperti bertanggung jawab untuk merawat taman. Dalam memberikan tanggung jawab, orang tua juga dapat meminta anak remaja membagi tugas pada anggota keluarga yang lain.

Memberikan anak remaja tanggung jawab, anak remaja secara tidak langsung akan merasa bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengurus proyek atau sebuah pekerjaan rumah, dan demikian membantu meningkatkan self-esteem mereka.

  • Membuat tracker journal sebagai satu keluarga. 

Dalam masa perkembangan remaja, monitor dari orang tua sangat penting. Hair dkk. (dalam Santrock, 2011), mengatakan bahwa remaja tetap perlu memiliki hubungan yang baik dengan keluarga meskipun dalam sehari-hari remaja cenderung menuntut otonomi diri (contoh: berani memutuskan untuk tidak ikut makan bersama karena bermain HP). Monitor dari orangtua mencegah anak remaja untuk terpengaruh oleh pergaulan yang buruk lalu bertumbuh ke arah yang tidak diinginkan.

Salah satu bentuk monitoring yang dapat dilakukan adalah dengan membuat jurnal keluarga yang dapat dilihat oleh seluruh anggota keluarga. Beberapa contoh jurnal keluarga yang dapat dibuat adalah jadwal anggota keluarga, ataupun mood anggota keluarga. Dalam hal ini, orangtua dapat membuat template jurnal dan meminta anggota keluarga untuk mengisinya. Dengan adanya jurnal keluarga, orangtua dapat memonitor pola-pola yang tidak wajar dalam pertumbuhan anak. Apakah anak jujur terhadap emosinya atau jujur terhadap jadwal mengenai apa saja yang mereka kerjakan. Dengan demikian, keluarga bisa melakukan intervensi segera. 

Berikut adalah contoh jurnal keluarga berupa jadwal ataupun mood yang dapat digunakan.

Orangtua perlu mengupayakan agar anak remaja tetap terlibat dalam keluarga dimasa pertumbuhan mereka. Memang saat WFH ini, ada kemungkinan konflik antara orangtua dan anak remaja malah meningkat, namun dalam menangani remaja, orangtua perlu ingat bahwa menghakimi, menyalahkan, merendahkan, ataupun meremehkan tidak baik untuk perkembangan mereka. Mengingat mereka cenderung dekat dengan teman, respon yang salah dari keluarga akan membuat mereka tertutup pada keluarga dan bergantung pada teman. Hal ini akan menyulitkan orang tua untuk memonitor mereka kedepannya.

Menghadapi dan membimbing pertumbuhan anak remaja memang tidak mudah. Namun karena remaja adalah masa-masa yang krusial, orang tua perlu mengupayakan untuk memahami dan mengenal mereka dengan lebih baik. Gunakan kesempatan WFH ini untuk meningkatkan kualitas relasi dengan keluarga, ya!

Referensi

  • Fiese, B. H., Foley, K. P., & Spagnola, M. (2006). Routine and ritual elements in family mealtimes: Contexts for child well‐being and family identity. New directions for child and adolescent development, 2006(111), 67-89.
  • Santrock, J. W. (2011). Life-span development (13th ed.). New York: McGraw-Hill. Schunk, DH.
  • Vuchinich, S. (1987). Starting and stopping spontaneous family conflicts. Journal of Marriage and the Family, 49, 591–601.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Tree photo created by freepik – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed