Membangun Pernikahan yang Berhasil
Relasi yang saling mencintai memiliki banyak keuntungan. Melalui relasi yang mencintai, suami dan istri tidak hanya dapat bertumbuh sebagai teman dan juga pasangan, hingga menyembuhkan luka. Suami dan istri yang kompak untuk membangun keluarga, sepakat dalam pengasuhan, dan memiliki pemahaman yang sama mengenai relasi mereka sebagai pasangan akan membangun bahtera keluarga yang sehat. Namun dalam prakteknya, kesatuan sebagai pasangan sering diartikan sebagai kepatuhan utuh, kemutlakan pendapat dan keputusan dari salah satu pihak, hingga kebersamaan yang terus menerus. Akibatnya, meskipun terlihat kompak, relasi seperti ini menyebabkan tekanan dalam hubungan dan ketergantungan pada salah satu pasangan.
Pernikahan yang berhasil membutuhkan pertumbuhan dari masing-masing pribadi dan kemampuan individu untuk menempatkan pertumbuhan ini dalam relasi dengan pasangan. Berikut adalah hal-hal yang dapat Anda dan pasangan Anda kembangkan untuk membangun pernikahan yang berhasil (Olson, DeFrain, Skogrand, 2020):
1. Kedua individu mandiri dan dewasa
Ketika kedua individu sama-sama mandiri dan dewasa, maka akan semakin mudah bagi mereka untuk mengembangkan relasi saling bergantung yang memfasilitasi keintiman. Kedewasaan seringkali berkembang seiring dengan usia. Semakin banyak yang individu alami dalam hidupnya, maka ia akan cenderung lebih stabil dan lebih mengetahui apa yang mereka inginkan dalam pernikahan. Hal ini membuat individu lebih solutif dan kolaboratif dalam memecahkan masalah.
2. Kedua individu saling mencintai namun juga bisa mencintai dirinya sendiri
Dalam relasi yang intim, self-esteem sangatlah penting. Jika individu tidak mencintai dirinya, maka akan sulit baginya mencintai orang lain. Saat kita mencintai orang lain, maka fokus kita adalah untuk memberikan yang terbaik bagi orang tersebut. Kita tidak dapat memberikan orang lain cinta saat kita kesulitan untuk memberikannya pada diri kita sendiri.
3. Kedua individu menikmati saat-saat bersama dan juga saat tidak bersama pasangan
Menghabiskan waktu luang secara terpisah tidak kalah penting dengan menghabiskan waktu bersama. Waktu yang dihabiskan sendiri-sendiri membuat individu menyadari pentingnya dna meningkatkan nilai dari kebersamaan bersama pasangan. Jika pasangan menghabiskan terlalu banyak waktu bersama, atau salah satu memaksakan kebersamaan yang terus menerus, maka salah satu pasangan akan cenderung terlalu mengontrol dan tidak menghargai pasangannya.
4. Kedua individu memiliki pekerjaan stabil dan memuaskan
Pekerjaan yang stabil dan memuaskan dapat meningkatkan keamanan finansial dan kestabilan emosi. Ketika pekerjaan yang mereka lakukan berjalan dengan baik, maka pasangan dapat memiliki waktu dan energy untuk fokus dengan relasi mereka. Dalam hal ini, bukan berarti kedua pasangan harus bekerja di perusahaan atau membuka usahanya sendiri. Lalu bagaimana jika salah satu memutuskan untuk menjadi ibu atau bapak rumah tangga? Selama hal tersebut memuaskan, dapat diterima oleh pasangan dan mereka aman secara finansial, maka ibu/ bapak rumah tangga bisa menjadi pekerjaan yang cukup stabil juga.
5. Kedua individu memahami dan mengenal diri mereka masing-masing
Relasi yang intim dan sehat membutuhkan kejujuran dan keterbukaan antara pasangan. Dalam hal ini, untuk bisa jujur dan terbuka, masing-masing harus dapat mengenali dirinya sendiri. Dengan mengenali dirinya sendiri ia tahu apa yang menjadi kekurangan dan kelebihannya, membuat individu tidak mudah menyalahkan orang lain dan cenderung berpikir strategis dalam menempatkan kelebihannya untuk mendukung relasi yang sehat. Pasangan yang masing-masing mengenali dirinya dengan baik tahu dengan jelas apa yang ia butuhkan dan dapat berikan untuk pasangan.
6. Kedua individu dapat mengekspresikan diri secara asertif
Asertif adalah mengekspresikan apa yang ia rasakan atau pikirkan dengan jelas dan sikap yang positif. Ketika masing-masing individu mampu untuk mengekspresikan diri dengan asertif, hal ini akan mengurangi kemungkinan munculnya gesekan dan masalah dalam komunikasi. Semakin jelas individu mengutarakan apa yang ia pikirkan atau rasakan, maka semakin jelas juga kolaborasi yang perlu dilakukan sebagai pasangan.
7. Relasi kedua individu seperti sahabat
Ketidakegoisan adalah hal yang penting dalam suatu hubungan. Pasangan yang masing-masing tidak egois akan lebih mudah untuk bekerjasama dan membangun hubungan yang menguntungkan untuk keduanya.
Saat seseorang mencintai pasangannya, maka ia akan memperhatikan kebutuhan dari pasangannya. Terkadang, ada masa dimana salah satu dari pasangan membutuhkan perhatian lebih atau kebutuhan yang harus dipenuhi. Hal itu tidak menjadi masalah selama tuntutan itu tidak diberikan terus menerus. Relasi yang tidak posesif akan mendorong pasangan untuk bertumbuh dan mencapai potensi mereka.
Referensi
- Olson, D., DeFrain, J., & Skogrand, L. (2010). Marriages and families: Intimacy, diversity, and strengths. McGraw Hill.
Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi. & Novensia Wongpy, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Sumber gambar: Food photo created by prostooleh – www.freepik.com
Others
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025
- Helping Clients Heal from Father Wounds July 16, 2025
- Bisa romantis tapi gak kompak ngasuh anak? July 3, 2025

