Ternyata Anak Meniru Perilaku Kekerasan: Ayo, Hentikan Sekarang!
Kekerasan di dalam keluarga bukanlah fenomena yang baru. Kekerasan secara verbal maupun fisik dapat dilakukan antar-pasangan atau dari orangtua ke anak. Kekerasan yang dilakukan oleh seseorang pada pasangannya dapat dirasa sebagai bentuk luapan emosi yang hanya akan diterima oleh pasangan saja.
Sebagai contoh, saat seorang ayah melakukan kekerasan secara verbal maupun fisik pada ibu, sang ayah bisa saja merasa bahwa apa yang ia lakukan pada pasangannya tidak berdampak apapun pada pertumbuhan anak. Sedangkan kekerasan yang dilakukan pada anak bisa jadi dilandasi pada alasan ingin mendidik dan mendisiplinkan mereka, sehingga tindak kekerasan itu dibenarkan. Sayangnya meskipun tidak ditujukan langsung kepada anak, hal ini akan menciptakan siklus kekerasan dalam kehidupan anak.
Proses anak-anak mengadaptasi perilaku kekerasan dapat terjadi sama seperti mereka mengadaptasi respons yang lain. Social-information processing theory (teori pemrosesan informasi sosial) menjelaskan bagaimana individu merespons apa yang terjadi di sekitar mereka berdasarkan interpretasi yang mereka buat untuk situasi tersebut.
Saat anak diberi hadiah lalu ia menginterpretasikannya sebagai bentuk penghargaan, maka anak akan cenderung merasa berterima kasih dan memberikan respons balik yang positif. Berbeda halnya ketika ia menginterpretasikannya sebagai bentuk kepalsuan atau ada maksud tersembunyi di balik hadiah tersebut. Maka respons anak akan cenderung ragu, ketus, atau tidak mengapresiasi sama sekali.
Dodge, Bates, dan Pettit (1990) menjelaskan bagaimana anak-anak yang mengalami atau terbiasa melihat kekerasan akan mengadaptasi kekerasan sebagai respons yang benar untuk dilakukan. Proses adaptasi tindak kekerasan yang anak lakukan dapat dilihat melalui dua mekanisme, yaitu attachment theory (teori keterikatan) dan social learning theory (teori belajar sosial).
- Attachment theory
Penelitian yang dilakukan pada anak-anak yang agresif menunjukkan bahwa mereka kurang memerhatikan tanda-tanda yang ada di lingkungan mereka. Hal ini membuat mereka cenderung bias atau salah dalam menilai intensi orang lain serta merasa bahwa orang lain akan bersikap tidak ramah.
Menurut teori attachment, hubungan yang tidak aman, terutama dari orang-orang yang seharusnya melindungi cenderung membuat anak-anak melihat dunia secara sebagai tempat yang tidak aman juga. Hal ini membuat mereka sangat berhati-hati dan mencari-cari potensi bahaya yang mungkin akan mereka alami. Sebagai bentuk melindungi diri, mereka melakukan perilaku-perilaku agresif yang dirasa dapat mencegah serangan tersebut.
Kekerasan yang dilihat atau dialami anak membuat mereka kurang tepat dalam menginterpretasi pengalaman yang netral. Misalnya seorang anak yang terbiasa mengalami kekerasan verbal yang menyerang ketidakmampuannya dalam mengerjakan tugas sekolah akan cenderung sensitif dan merasa bahwa orang-orang yang sedang membicarakan tugas sekolahnya pasti menyerang dia. Perilaku agresif seperti mengonfrontasi orang yang membicarakan tugas sekolahnya, menjadi salah satu mekanisme pertahanan diri dari “serangan” yang belum tentu benar tersebut.
- Social Learning Theory
Social learning theory menjelaskan bagaimana anak-anak belajar dengan melihat model dari apa yang lingkungannya lakukan. Saat lingkungan anak melakukan kekerasan, pada titik tertentu anak akan melihat kekerasan sebagai hal yang perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil yang positif. Tidak hanya itu, anak bisa menggeneralisasi perilaku kekerasan sebagai hal yang wajar dilakukan untuk mendapatkan semua hal yang positif. Seperti saat anak melihat sang ayah melakukan kekerasan untuk membuat ibunya lebih patuh, maka anak akan cenderung menggunakan kekerasan untuk membuat orang lain patuh kepadanya.
Memutus Rantai Kekerasan
Sebagai orangtua, adalah tugas kita untuk tidak hanya menyediakan tempat tinggal yang layak dan makanan yang cukup. Tapi juga membentuk karakter, nilai, serta perilaku yang baik pada anak. Dengan mengetahui bagaimana anak mengadaptasi perilaku bermasalah, orangtua dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mengintervensi perilaku tersebut sebelum benar-benar tertanam dan semakin sulit untuk diubah.
1. Tegur namun berikan juga rasa aman
Beberapa orangtua mungkin merasa bahwa memberikan rasa sakit pada anak akan memberikan efek jera. Namun implikasinya, rasa sakit dari kekerasan verbal ataupun fisik membentuk pemikiran bahwa kesalahan akan membuat mereka terancam. Tidak hanya terancam dari rasa sakit, tapi bisa juga dari perasaan tidak diterima atau disayangi. Anak-anak yang merasa terancam seperti ini akan cenderung berbohong, menutupi kesalahan, mencari banyak alasan, hingga menyalahkan orang lain. Ia akan menjadi sensitif saat ditegur dan bereaksi berlebihan akan hal itu.
Dalam menghadapi hal ini, orangtua perlu sadar bahwa kesalahan yang anak lakukan seharusnya tidak mengurangi nilai keberhargaan anak. Saat anak melakukan kesalahan, fokuslah mengevaluasi perilaku yang salah daripada mengevaluasi karakter mereka. Seperti contoh, saat anak gagal dalam ujian meskipun mereka sudah belajar, maka teguran yang tepat bukan dengan mengatakan mereka “bodoh”, “payah” atau “tidak ada usaha”, tapi orangtua dapat menegur metode belajar mereka yang ternyata tidak efektif dan memberikan bimbingan seperti apa belajar yang efektif itu.
Memberikan rasa aman:
Bagi orangtua yang mengetahui bahwa pasangannya melakukan kekerasan, jadilah tempat yang aman untuk anak bertumbuh. Bantu anak untuk tidak terfokus pada kekerasan yang ia alami, namun pada poin pembelajaran yang mungkin bisa mereka dapatkan. Ajarilah mereka dengan menunjukkan pengasuhan serta menjadi role model yang baik. Orangtua juga perlu untuk membantu anak menginterpretasi lingkungan dengan benar untuk mencegah mereka melakukan kekerasan.
Sampai suatu titik tertentu, saat kondisi benar-benar membahayakan, mintalah bantuan dari lingkungan sekitar untuk melindungi Anda dan anak Anda.
2. Ubah perilaku Anda
Orangtua pada dasarnya adalah teladan utama yang dilihat oleh anak. Apa yang orangtua omongkan atau nasihatkan untuk mereka harus selaras dengan apa yang orangtua terapkan dalam perilaku sehari-hari. Saat orangtua menasihati anak untuk tidak memukul namun orangtua memukul, akan terjadi ketidakselarasan yang membuat anak cenderung tidak percaya pada orangtua.
Action speak louder than words. Dan itu benar. Anak akan mencontoh apa yang kita lakukan lebih dari apa yang kita katakan. Saat Anda mendeteksi adanya perilaku kekerasan yang Anda lakukan pada pasangan atau anak, hentikanlah perilaku tersebut dan coba membangun regulasi emosi atau cara menegur yang lebih konstruktif. Minta maaflah kepada anak dan mulai membangun pola hubungan dan pengasuhan positif yang dapat anak contoh ke depannya.
Referensi
- Eriksson, L., & Mazerolle, P. (2015). A cycle of violence? Examining family-of-origin violence, attitudes, and intimate partner violence perpetration. Journal of interpersonal violence, 30(6), 945-964.
- Dodge, K. A., Bates, J. E., & Pettit, G. S. (1990). Mechanisms in the cycle of violence. Science, 250(4988), 1678-1683.
- Dodge, K. A., & Crick, N. R. (1990). Social information-processing bases of aggressive behavior in children. Personality and social psychology bulletin, 16(1), 8-22.
Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
SUmber gambar: Background photo created by freepik – www.freepik.com
Others
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025
- Helping Clients Heal from Father Wounds July 16, 2025
- Bisa romantis tapi gak kompak ngasuh anak? July 3, 2025


1 Comment. Leave new
[…] https://www.uc.ac.id/marriageandfamily/ternyata-anak-meniru-perilaku-kekerasan-ayo-hentikan-sekarang… […]