Memfasilitasi Kecerdasan Anak

Adalah keinginan setiap orangtua untuk dapat melihat anaknya sukses dimasa depan. Tumbuh menjadi pribadi yang hebat, berhasil dalam karir, dan hidup bahagia. Kita sebagai orangtua berusaha mempersiapkan banyak hal untuk mewujudkan hal tersebut. Kita bekerja, memberikan fasilitas, dan menuntun mereka, memastikan mereka bertumbuh dengan baik.

Tidak ada yang salah dengan memiliki ekspektasi pada anak. Tapi terkadang, kita menempatkan ekspektasi dan mimpi kita pada mereka. Kita menuntun mereka agar menguasai bidang-bidang yang kita pikir baik untuk mereka. Dalam beberapa kasus pemilihan jurusan misalnya. Kita akan menemukan mahasiswa-mahasiswa yang berkuliah, mengambil jurusan yang orangtuanya inginkan.

“Saya ingin mengambil jurusan psikologi, tapi orangtua merasa bahwa karirnya tidak prospek”

“Saya ingin berkarir di musik. Tapi karena satu keluarga dokter, jadi keluarga akan malu kalau saya tidak mengambil jurusan ini”

Ketika apa yang anak kita bisa dan ingin lakukan dirasa tidak relevan dengan mimpi kita untuk mereka, kita meremehkan. Lalu ketika mereka gagal, kita menjadi kecewa.

Banyak orangtua menilai kecerdasan anak berdasaran nilai rapor. Tapi sebagai orangtua, perlu untuk menyadari bahwa setiap anak memiliki bakat dan kecerdasan yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa buah apel jatuh tak jauh dari pohonnya. Tapi bukan berarti mereka akan memiliki passion, bakat, atau kecerdasan yang sama dengan kita.

Apa Saja Jenis-jenis Kecerdasan?

Menurut Gardner (2011), ada beberapa jenis kecerdasan yang dapat dimiliki oleh seseorang:

1.      Kecerdasan linguistik

Kecerdasan linguistik adalah jenis kecerdasan yang dapat setiap orang miliki. Walaupun tidak semua orang memiliki tingkat kecerdasan linguistik yang sama, kecerdasan ini sangat penting untuk untuk proses komunikasi sehari-hari.

Individu dengan kecerdasan linguistik yang tinggi memiliki sensitivitas pada makna kata. Contohnya, orang dengan kecerdasan ini mampu untuk menggunakan kata “dengan intensi”, “sengaja”, atau “dengan tujuan” untuk memberikan makna yang berbeda pada kalimat. Mereka juga menyadari bahwa susunan dan pemilihan kata dalam kalimat dapat menyampaikan pesan yang berbeda. Seperti membedakan penggunaan kalimat “Kucing itu mencuri ikan” dan “Ikan itu dicuri kucing”.

Meskipun terlihat sederhana, kecerdasan ini sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, individu yang memiliki kecerdasan linguistik mampu untuk memotivasi dan mempengaruhi orang lain. Mereka adalah orang-orang yang mampu menjadi motor penggerak dalam kelompok. Mereka tahu apa yang harus mereka katakan agar dapat mengarahkan orang lain melakukan aktivitas tertentu.

Kedua, mereka juga mampu menangkap dan menyimpan informasi lebih cepat, seperti mempelajari instruksi atau prosedur pemakaian barang. Ini juga termasuk bagaimana mereka lebih cepat memahami maksud dari percakapan. Individu dengan kecerdasan linguistik mampu melihat apa yang tersirat dari yang tersurat.

Ketiga, individu dengan kecerdasan linguistik yang baik memiliki kemampuan untuk menjelaskan lebih baik. Mereka tahu bagaimana membedakan penyampaian informasi untuk kelompok orang yang berbeda. Individu yang memiliki kecerdasan linguistik memahami pentingnya menggunakan intonasi, nada, dan penggunaan kata yang tepat untuk memberikan informasi tersebut pada orang-orang tertentu. Contohnya, ketika ingin mempresentasikan ide. Ia akan membedakan gaya bahasa yang ia gunakan ketika presentasi ke atasan dan ketika presentasi ke rekan sekerja.

Yang terakhir adalah kemampuan untuk merefleksikan bahasa. Individu dengan kecerdasan ini mampu menganalisa bahasa sampai pada level yang lebih dalam. Contohnya, ketika kita meminta anak kita membawakan buku. Anak yang memiliki kecerdasan linguistik akan bertanya tentang buku apa yang kita maksud. Ia tidak hanya sekedar mengambil buku kesukaan kita. Tapi juga meminta kita untuk menjelaskan, buku tulis atau buku bacaan. Dalam hal ini, ia membuat kita memikirkan kembali penggunaan bahasa kita.

2.      Kecerdasan musikal

Kecerdasan ini memampukan individu untuk menangkap nada, ritme, dan tone music dengan baik. Meskipun music yang mereka dengarkan kompleks, mereka bisa mendeteksi perbedaan kunci dari satu bagian ke bagian yang lain. Mereka juga lebih mudah untuk mengulangi kembali alunan music yang telah mereka dengar.

Individu dengan kecerdasan musikal mampu untuk mendeteksi aspek afektif (perasaan, emosi) melalui kombinasi nada dan ritme. Pada level tertentu, mereka memiliki kemampuan untuk menyampaikan perasaan dari musik tersebut kepada pendengar.

Pernahkah Anda menangis ketika mendengar seseorang bermain music atau menyanyi? Pernahkah Anda merasakan kekaguman dan tenggelam dalam suasana ketika mendengarkan alunan music? Ya, individu dengan kecerdasan ini dapat menyusun komponen-komponen music dan menyajikannya dalam bentuk suasana.

3.      Kecerdasan logika dan matematika

Sebagai orangtua, kita mungkin berpikir bahwa nilai matematika yang bagus menandakan bahwa anak kita hebat dan mahir disana. Kemampuannya menghafalkan rumus dan menghitung dengan tepat di sekolah membuat kita bangga. Tapi apakah hanya sampai di situ saja?

Menurut Willard Quine (dalam Gardner, 2011), kecerdasan logika berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk merasionalkan pernyataan. Sedangkan kecerdasan matematika berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengode logika yang abstrak dan mengkalkulasinya. Pioncaré (dalam Gardner, 2011) menyebutkan bahwa hasil dari kecerdasan ini ada dua, yaitu kemampuan untuk menemukan hubungan dari satu motif ke motif lain, dan kemampuan untuk menemukan pola dari hubungan-hubungan tersebut. Individu dengan kecerdasan ini suka berhadapan dengan hal-hal abstrak. Mereka tidak mengalami kesulitan untuk menganalisa hal-hal yang tidak terlihat.

Dua kecerdasan ini memampukan individu untuk menemukan pola yang permanen, memprediksi, dan memiliki konsistensi pola pikir. Gardner (2011) memberikan contoh seperti ini. Jika seorang peneliti meneliti perkembangan sebuah amoeba dan mengaitkan perkembangan tersebut dengan teori kelasifikasi hewan hingga evolusi manusia, orang lain mungkin akan menganggapnya aneh. Tapi individu dengan kecerdasan logika & matematika bisa memahami. Mereka melahirkan teori yang kompleks  dari pola teori yang sederhana.

4.      Kecerdasan spasial

Kita dapat mengenali kecerdasan ini pada anak ketika mereka dengan mudah mengingat arahan jalan tanpa peta. Mereka juga dapat menggambarkan bentuk akhir suatu benda dari instruksi menggunakan kata-kata. Contoh: Ambil kertas berukuran 1×1, lipat secara horizontal menjadi dua bagian sama rata, lalu lipat lagi menjadi dua secara vertikal. Buka lipatan dan posisikan setiap ujung kertas pada bagian tengah kertas. Berapa perbandingan akhir ukuran kertas tersebut?

Tanpa mencoba melipat kertas, anak dengan kecerdasan spasial dapat langsung memberikan jawabannya.

Kecerdasan spasial adalah kemampuan untuk menangkap dunia visual secara akurat, memodifikasinya, dan mempersepsikan hasil modifikasi dengan tepat tanpa harus mengotak atik objek fisiknya. Individu dengan kecerdasan ini dapat membentuk bentuk yang baru atau mengubah bentuk dari yang sudah ada. Sebagai contoh, ketika individu dengan kecerdasan ini membayangkan suatu ruangan, mereka dapat mendeskripsikan ruangan tersebut seperti ketika ia benar-benar berada di sana. Mereka juga tidak kesulitan membayangkan penambahan, pengurangan, atau modifikasi yang dilakukan pada “ruangan” tersebut dengan komposisi ukuran yang tepat.

5.      Kecerdasan kinestetik

Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan untuk menggunakan dan mengontrol tubuh. Bartlett (dalam Gardner, 2011) menjelaskan bahwa mereka yang ahli menangkap tanda-tanda dari lingkungan. Dari tanda-tanda tersebut, ia akan menentukan pergerakan yang tepat sebagai bentuk respon. Individu dengan kecerdasan ini memiliki gerak refleks yang baik, kemampuan untuk belajar tarian dengan cepat dan tepat,  atau memiliki performa baik dalam olahraga.

Bukan hanya untuk sekedar bergerak dan melakukan kegiatan sehari-hari, individu dengan kecerdasan kinestetik mampu menggunakan tubuh untuk menyampaikan pesan. Individu mampu menciptakan gerakan atau memberikan postur tubuh untuk menyampaikan bahasa non-verbal. Seperti contoh: ia tahu kapan ia harus duduk tegap untuk mengangkat suasana rapat, atau ia tahu bagaimana mengekspresikan rasa penasaran melalui gerakan wajah, tangan, dan lain-lain.

6. Kecerdasan personal

Kecerdasan personal dibagi menjadi dua. Intrapersonal dan interpersonal. Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan individu untuk menilai perasaannya sendiri. Mulai dari membedakan apa yang ia rasakan, melabel, dan memahami bagaimana perasaan tersebut mempengaruhi perilakunya. Sedangkan kecerdasan interpersonal adalan kemampuan anak untuk menyadari dan membedakan perasaan, temperamen, dan mood orang lain. Ketika mereka dewasa, kecerdasan personal memampukan mereka untuk membaca intensi dan motif orang. Dengan demikian, mereka lebih cerdas dalam merespon perkataan atau perilaku orang lain.

Meskipun dalam kesehariannya kecerdasan ini diremehkan atau dianggap tidak relevan, sebenarnya kecerdasan ini sangatlah penting. Kecerdasan ini memampukan individu untuk dapat memposisikan diri dengan baik di lingkungan sosial. Kemampuannya untuk mengenali dirinya sendiri membuatnya mampu mengatasi permasalahan emosi, meregulasi perilaku, dan menentukan respon yang tepat dalam berelasi. Sebagai contoh, pada anak-anak di usia sekolah, kecerdasan ini membuat mereka tahu kapan harus diam dan kapan waktu yang tepat untuk menegur teman tanpa membuat mereka semakin marah.

Apa yang harus kita lakukan setelah mengidentifikasi ini?

Benar jika kita menyayangi anak-anak kita. Kita tidak ingin mereka memiliki kehidupan yang sulit di masa depan. Tapi memastikan mereka memiliki kehidupan yang baik dimulai dari mendukung mereka berkembang sebagai diri mereka sendiri sekarang. Hargailah kecerdasan apapun yang mereka miliki. Fasilitasi. Bantu mereka menemukan karir yang dapat mengaktualisasi kecerdasan mereka.

Ingat bahwa kecerdasan yang mereka miliki ada untuk menunjukan keunikan mereka. Jangan melabel mereka dan berpatok secara kaku dengan kecerdasan anak yang sudah pasti terlihat. Malah, mari kita menggunakan informasi tersebut untuk memberikan dukungan yang tepat bagi perkembangan mereka.

Referensi
  • Gardner, H. (2011). Frames of mind: The theory of multiple intelligences. Hachette Uk.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Background vector created by freepik – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed