Menetapkan Batasan dan Teritori yang Sehat dalam Keluarga

Setiap keluarga memiliki batasan-batasan tertentu dalam relasi dan keseharian. Batasan tersebut digunakan untuk menarik garis tegas apa yang tidak boleh dilanggar oleh anggota keluarga. Batasan membentuk peraturan. Seperti kapan boleh berpacaran, apa yang harus dilakukan anggota keluarga saat pagi hari, sejauh apa hukuman dapat diberikan, dan lain-lain.

Batasan membuat anggota keluarga saling menjaga hak dan melakukan kewajiban mereka tanpa melukai anggota keluarga lainnya. Batasan yang jelas akan memetakan teritori yang jelas antarindividu. Teritori lebih berbicara mengenai aspek-aspek yang dilindungi dan merupakan hak dari masing-masing individu. Pernahkah anggota keluarga Anda merasa bahwa privasi mereka terusik? Atau pernahkah Anda merasa terlalu mengatur anak Anda? Dengan adanya batasan dan teritori yang jelas, anggota keluarga akan mengerti kapan harus ikut berpartisipasi dan sampai pada titik apa ia tidak sebaiknya mengintervensi.

Teritori dan Relasi dalam Keluarga

Relasi dalam keluarga terbentuk karena masing-masing anggota membagikan area teritorinya. Menurut Wood (1981), ada 6 jenis teritori yang dibagikan oleh anggota keluarga. Seberapa banyak yang akan dibagikan oleh masing-masing bisa berbeda antar satu orang dengan orang lain.

  • Contact time
    Adalah durasi waktu dan bagaimana waktu itu dihabiskan. Semakin banyak waktu yang dibagikan oleh anggota keluarga, maka semakin banyak juga pengalaman yang dihabiskan bersama. Kegiatan yang digunakan untuk mengisi waktu tersebut akan memberikan warna dalam kehidupan berkeluarga.
  • Personal space
    Adalah area privasi individu. Meskipun ini adalah bagian yang bisa dibagikan, bukan berarti kita tidak boleh memiliki privasi di dalam keluarga. Area privasi masing-masing anggota keluarga bisa berbeda. Ada yang tidak suka jika orang lain masuk ke kamarnya, atau menggunakan barang-barang pribadinya, atau membaca chat di HP-nya, dan banyak lainnya. Membagikan privasi adalah hasil dari kedekatan dan rasa percaya. Agar anggota keluarga bisa lebih percaya, keluarga harus menjadi tempat yang aman bagi mereka untuk berbagi dan menjadi diri sendiri.
  • Emotional space
    Adalah teritori berupa perasaan yang dibagikan di dalam keluarga. Dalam beberapa keluarga, perasaan yang dibagikan oleh salah satu anggota mungkin bisa sampai memengaruhi anggota keluarga yang lain. Contohnya, ketika ibu sedih, maka anak dan ayah ikut sedih bersama ibu. Ketika sang anak berhasil memenangkan perlombaan, saudara ikut senang dan orang tua bisa ikut bangga. Keluarga dengan relasi yang kuat akan menentukan kualitas dan banyaknya emosi yang dibagikan. Salah satu indikator relasi yang positif adalah saat anggota keluarga dapat dengan jujur mengekspresikan apa yang mereka rasakan tanpa harus menutupinya.
  • Information space
    Adalah fakta-fakta tentang individu itu sendiri. Hal ini mencakup perasaan, pemikiran, pendapat, informasi biologis, dan perilaku. Informasi mengenai anggota keluarga yang dibagikan bisa jadi berhubungan dengan berapa lama waktu bersama yang dihabiskan. Semakin banyak waktu bersama yang dilakukan oleh keluarga, maka kemungkinan informasi yang diketahui mengenai anggota lain akan semakin banyak.
  • Conversation space
    Adalah percakapan privat yang hanya dibagikan oleh seorang anggota keluarga pada anggota lainnya. Ada anggota keluarga yang dengan rata membagikan area privasinya pada semua anggota keluarga. Namun teritori ini terbentuk karena ada beberapa percakapan yang mungkin hanya dibahas dengan anggota keluarga tertentu. Contohnya, anak  perempuan yang membahas topik pacaran dengan ibunya. Namun membahas topik akademis dengan sang ayah.
  • Decision space
    Setiap keluarga memiliki batasan yang berbeda dalam menentukan keputusan. Rentang otoritas dalam pengambilan keputusan pun bervariasi. Mulai dari yang bisa diambil oleh perseorangan, anak, orang tua, hingga keluarga sebagai satu kesatuan. Batasan pengambilan keputusan dalam keluarga haruslah jelas. Beberapa konflik dalam keluarga timbul karena otoritas pengambilan keputusan yang membingungkan.

Menyesuaikan Batas di Masa Transisi

Dalam keluarga, setiap batasan memiliki tingkat fleksibilitas yang berbeda. Batas yang fleksibel membuat keluarga adaptif, namun tetap kokoh saat menghadapi masa transisi. Transisi dalam keluarga bisa meliputi perceraian, kehilangan pekerjaan, atau pertumbuhan anak menjadi dewasa. Sebagai contoh, ketika orang tua bercerai, anak bisa saja berubah menjadi tertutup. Dari yang awalnya ceria, banyak curhat dengan orang tua, terbuka, kini mereka lebih menutup diri dan memutuskan untuk tidak lagi membagikan hal-hal tersebut. Dalam hal ini, memahami anak dan membuat batasan yang diperlukan, seperti memberi waktu tenang, akan membantu orang tua memberikan respon yang tepat.

Contoh lainnya, ketika anak-anak masih bayi, mungkin kita mengizinkan mereka untuk tidur di kamar bersama dengan kita. Kita membagikan personal space dengan mereka. Namun saat mereka beranjak dewasa, area teritori yang dibagikan juga ikut berubah. Kita tidak lagi membiarkan mereka tidur di kamar kita dan mulai membagikan pengalaman kerja kita (information space). Dengan adanya batasan yang fleksibel, orangtua bisa memberikan ruang untuk pembentukan pribadi anak.

Referensi
  • Wood, B., & Talmon, M. (1983). Family boundaries in transition: A search for alternatives. Family Process22(3), 347-357.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi
Editor: Eben Haezar
Sumber gambar: Background vector created by rawpixel.com – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed