Bagaimana Lepas dari Relasi Berpacaran yang Tidak Sehat?
Masa berpacaran bukanlah hal yang baru bagi kita semua. Pacaran sering digambarkan sebagai masa untuk saling mengenal, saling memahami, dan menyiapkan diri masuk ke dalam pernikahan. Baik yang saat ini masih remaja, dewasa awal, hingga kita yang sudah menikah akan melewati proses ini.
Untuk beberapa orang, masa-masa berpacaran tidak selalu memberikan pengalaman yang manis. Beberapa dari kita mungkin sedang terjebak dalam relasi yang toxic atau bahkan penuh dengan kekerasan. Relasi yang tidak sehat melukai kita, membuat kita merasa takut, tidak berharga dan tidak bebas dalam bertumbuh.
Meskipun destruktif, mengapa kita sulit melepaskan relasi yang tidak sehat? Bahkan ketika kita memiliki pilihan pasangan yang lebih baik, kita bisa cenderung memilih untuk tinggal atau kembali pada relasi yang tidak sehat.
Nicholas (2013) menjelaskan bagaimana keterlibatan kita dalam relasi yang tidak sehat disebabkan oleh pengasuhan yang tidak sehat. Ketika kita tumbuh bersama dengan orangtua yang sepertinya tidak peduli atau tidak menyayangi kita, kita akan membangun apa yang disebut dengan “pertahanan moral”. Ini adalah bentuk pertahanan diri dimana anak melabel dirinya sebagai “anak yang tidak baik” untuk membenarkan perilaku orangtua yang tidak mengasihi mereka. Jika sang anak tidak baik, wajar lah jika orangtua tidak menyayangi. Pemikiran ini membuat situasinya lebih masuk akal dan logis untuk dipahami. Pandangan ini yang kemudian juga digunakan saat membangun relasi dengan pasangan.
Ketika kita merasa tidak berharga, kita akan kesulitan untuk melihat bahwa kita layak mendapatkan relasi yang lebih baik. Kita akan merasa bahwa konflik atau pun masalah dalam relasi adalah tanggung jawab dan kesalahan kita. Semua perlakuan kekerasan dan amarah akan dirasa seperti masukan yang membangun atau bentuk kepedulian. Dan kita menjadi bersyukur pasangan kita (diperseksikan sebagai orang yang baik) masih mau bersama-sama dengan kita (dipersepsikan sebagai orang yang memiliki banyak kekurangan).
Alasan lain mengapa kita seringkali terjebak dalam relasi yang tidak sehat adalah karena tanpa sadar, kita menikmati relasi tersebut. Bagaimana bisa? Ketika kita terbiasa dengan pola relasi yang tidak sehat, secara tidak sadar otak kita akan menyimpan pola relasi tersebut sebagai pola relasi yang normal, wajar. Sehingga, ketika perlakuan tidak mengenakkan itu terjadi pada kita, kita sering kali berpikir bahwa ini adalah hal yang seharusnya terjadi. Pada suatu titik yang ekstrim, rasa sakit bisa menjadi distraksi yang adiktif.
Cara efektif untuk terlepas dari relasi yang tidak sehat adalah dengan bertumbuh dalam komunitas/ kelompok yang positif. Nicholas (2013) menjelaskan bagaimana hal tersebut dapat membantu kita:
- Belajar membangun relasi yang sehat
Nicholas (2013) menjelaskan bahwa masalah relasi seseorang tidak pernah lepas dari kehidupan berkelompok. Secara tidak sadar, pola relasi yang kita adaptasi akan tercermin/ tersalurkan ke hubungan kita dengan orang lain. Demikian juga sebaliknya, pola relasi orang lain akan tercermin/ tersalurkan ke kita.
Ketika kita sering terpapar dengan orang-orang yang mampu membangun relasi dengan sehat, maka kita akan sadar bahwa pola relasi kita tidak sehat. Kesadaran ini penting. Ini adalah awal dari munculnya keinginan akan perubahan. Dengan menyadari dan menghidupi pola relasi yang sehat, kita dapat mengadaptasi pola relasi tersebut dan membuang pola relasi yang lama.
- Belajar menghargai diri sendiri
Fungsi lain dari bergabung dengan kelompok yang positif adalah adanya penguatan, penerimaan, dan penghargaan. Kelompok yang positif akan menerima kita apa adanya dan mendorong kita menjadi pribadi yang lebih baik. Mereka membantu kita untuk melihat bahwa kita berharga, dicintai, serta memiliki hak yang sama untuk bertumbuh dalam relasi yang sehat.
- Reflektif dan menemukan akar masalah
Sering kali masalah relasi adalah masalah yang berakar panjang. Masalah relasi dimulai dari keluarga dan itu berarti dimulai sejak kita kecil. Hal ini bisa menyebabkan kita kesulitan mendeteksi sumber masalah karena kita terbiasa hidup beriringan dengan masalah tersebut.
Bersama dengan orang-orang yang positif, kita akan belajar untuk melihat bahwa sebenarnya ada hal-hal tidak wajar yang perlu kita “buang” atau “obati” dalam relasi kita dengan pasangan.
Kita ambil contoh seorang anak laki-laki yang tinggal bersama ibu yang sangat dominan dan ayah yang lebih penurut. Ketika sang ibu marah dan melakukan kekerasan pada ayah, anak laki-laki tersebut bisa memendam rasa “tidak terima” melihat ayahnya yang diperlakukan seperti itu. Rasa tidak terima ini kemudian—secara tidak sadar—berubah menjadi keinginan untuk membuktikan diri dan menaklukan pasangan. Perasaan ini akan mendorongnya mencari perempuan yang lebih dominan dengan harapan akan memberikannya hasil yang berbeda.
Peranan kelompok dalam hal ini adalah membuat kita sadar bahwa dorongan tersebut tidak sehat dan tidak diperlukan dalam relasi.
Referensi
- Nicholas, M. W. (2013). The compulsion to repeat relationships with abusive partners and how group therapy can help. International journal of group psychotherapy, 63(3), 346-365.
Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Woman photo created by pressfoto – www.freepik.com
Others
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025
- Helping Clients Heal from Father Wounds July 16, 2025
- Bisa romantis tapi gak kompak ngasuh anak? July 3, 2025

