Menunjukkan Kehangatan dalam Keluarga

Setiap tanggal 23 Juli, kita memeringati Hari Anak Nasional. Apa yang ada dalam benak kita ketika kita mendengar kata anak? Mungkin secara otomatis kita akan membayangkan anak kita, kemudian keponakan, dan kemudian anak dari orang-orang yang memang dekat dengan kita. Kita menyayangi anak-anak kita dan melakukan yang terbaik untuk mendukung pertumbuhan mereka. Kita berusaha memberikan dan memfasilitasi apa yang mereka butuhkan di dalam keluarga.

Selain memberikan fasilitas yang layak, hal penting lain yang perlu anak-anak alami dalam keluarga adalah kehangatan. Peterson & Hann (1999) mengatakan bahwa meskipun memiliki gaya yang berbeda-beda, pengasuhan memiliki kode universal. Pengasuhan yang supportive, hangat, sensitif, dan responsif akan mendorong pertubuhan kompetensi sosial anak (Peterson & Hann, 1999).

Bagaimana orangtua mengkomunikasikan kehangatan kepada anak-anak?

Mengkomunikasikan kehangatan pada anak bisa dilakukan secara verbal atau pun non-verbal. Mengkomunikasikan kehangatan secara verbal biasanya dilakukan dengan kata-kata. Tapi dalam menyampaikannya, nada dan intonasi juga memengaruhi pesan yang akan di tangkap oleh anak. Coba bayangkan ketika kita mengatakan “Kami sayang padamu” dengan nada yang datar dan tanpa penekanan. Rasa hangat tidak akan tersampaikan dengan baik.

Mengkomunikasikan kehangatan secara non-verbal juga tidak kalah efektif. Pelukan, kedekatan, ekspresi wajah, dan pandangan mata adalah bahasa tubuh bagi orangtua untuk menyampaikan kehangatan dan keterlibatan. Pernah kah Anda melihat kejadian dimana ada anak yang secara bersemangat memamerkan hasil karya kepada orangtua, namun orangtua sedang sibuk dan langsung mengatakan “Iya, itu karya yang bagus” tanpa benar-benar melihat hasil karya? Bandingkan dengan ketika orangtua menghentikan kesibukan, kemudian mengambil waktu untuk benar-benar memerhatikan apa yang anak mereka buat sebelum mengatakan “Wah, hasil karyamu memang bagus”. Kehangatan akan lebih tersampaikan di contoh kedua.

Meskipun keduanya dapat menjadi media untuk menunjukan kehangatan dalam keluarga, harus diakui bahwa apa yang kita lakukan berbicara lebih keras daripada apa yang kita katakan. Pernyataan bahwa “kita peduli” harus konsisten dengan apa yang kita lakukan dan tunjukan kepada mereka. Perpaduan antara kehangatan verbal dan non-verbal dalam keluarga haruslah konsisten sesuai dengan situasi dan kondisi anak. Contoh, ketika kita memuji karya anak, lakukanlah itu sesuai dengan apa yang anak berhak dapatkan (tidak melebih-lebihkan). Kehangatan juga perlu dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan usia anak.

Hal lain yang terkadang kita tidak sadari adalah bahwa anak-anak sensitif dengan ketulusan. Ketika kita menunjukan apresiasi dari hasil karya mereka, lakukan lah hal itu bukan agar mereka mau membantu kita di rumah. Atau ketika kita memeluk mereka, jangan hanya karena kita ingin mereka berhenti menangis. Kehangatan yang ditunjukan secara tidak tulus akan membuat anak merasa tidak aman dan menumbuhkan perilaku bermasalah.

Manfaat Kehangatan Keluarga

Kehangatan dalam keluarga bukanlah hal yang sepele. Sergin & Flora (2005) mengatakan bahwa kehangatan adalan faktor penting untuk menumbuhkan kompetensi sosial anak. Meskipun terdengar bertolak belakang, konsisten melibatkan diri secara positif dengan anak akan membuat mereka lebih mandiri (Sergin & Flora, 2005). Kehangatan yang anak rasakan dalam keluarga menumbuhkan rasa aman untuk mereka. Mereka menjadi lebih percaya diri untuk mencoba hal-hal baru dan mengeksplorasi lingkungan mereka karena mereka tahu mereka selalu dapat kembali ke tempat yang aman (keluarga). Hal ini akan membuat mereka mendapat banyak pelajaran penting dan meningkatkan kemampuan sosial (Sergins & Flora, 2005).

Referensi
  • Segrin, C., & Flora, J. (2011). Family communication. Routledge.
  • Peterson, G. W, & Hann, D. (1999). Socializing children and parents in families. In M. B. Sussman, S. K. Steinmetz, & G. W Peterson (Eds.), Handbook of marriage and the family (2nd ed., pp. 327-370). New York: Plenum.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: People photo created by pressfoto – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed