Bagaimana Menjaga Kepercayaan saat Menjalani Pernikahan Jarak Jauh
Idealnya, pasangan suami istri (pasutri) tinggal bersama dalam satu rumah. Namun terkadang, tuntutan pekerjaan atau kondisi ekonomi memaksa mereka untuk tinggal terpisah. Kondisi pernikahan seperti ini dikenal dengan sebutan commuter marriage atau pernikahan jarak jauh.
Terdapat dua tipe commuter marriage, yaitu tipe penyesuaian dan tipe established. Tipe penyesuaian biasanya dialami oleh pasutri dengan usia pernikahan yang masih relatif muda dimana mereka harus menjalani commuter marriage dengan sedikit atau tanpa anak. Tipe established dialami oleh pasutri dengan usia pernikahan yang lebih lama dan biasanya sudah memiliki anak yang dewasa dengan usia minimal 18 tahun. Menurut hasil penelitian, pasutri dengan tipe established ini cenderung mengalami stres lebih besar dalam commuter marriage daripada pasutri dengan tipe penyesuaian karena disebabkan oleh perbedaan dominasi di masalah pernikahan (Rhodes, 2002).
Beberapa indikator yang membuat pernikahan jarak jauh berhasil adalah rasa percaya, dukungan antar pasangan, komitmen untuk mempertahankan pernikahan, serta keterbukaan dalam berkomunikasi antar pasangan (Tessina, 2008). Rasa percaya adalah persepsi seseorang (dalam konteks pernikahan adalah suami atau istri) bahwa pasangannya memiliki kebaikan dan kejujuran yang serupa dengan yang dimilikinya (Shenkman, 2004). Rasa percaya sangat penting bagi pasutri commuter marriage karena batasan jarak yang memisahkan membuat rasa percaya menjadi aspek utama yang dapat membantu mempertahankan rumah tangga (Shenkman, 2004).
Menumbuhkan rasa percaya pada pasutri yang menjalani commuter marriage tidaklah mudah. Terdapat beberapa faktor yang dapat menghambat rasa percaya itu sendiri, antara lain (Naibaho & Virlia, 2016):
- Perbedaan persepsi dalam memaknai informasi yang diberikan oleh suami atau istri. Informasi yang dipersepsikan negatif dapat memicu rasa curiga terhadap pasangan, yang mana kecurigaan tersebut belum tentu terbukti kebenarannya
- Hubungan kekuasaan. Ketika salah satunya bertindak sangat dominan dan merasa lebih berkuasa daripada pihak yang satunya, maka bisa berujung kepada konflik. Rasa percaya dapat terjalin ketika pasutri menyadari peran dan status mereka sebagai suami atau istri meskipun terpisahkan oleh jarak.
- Kualitas komunikasi. Ketika komunikasi antar pasangan tidak terjadi secara intens, maka bisa berdampak terhadap munculnya rasa kesepian dan kecurigaan karena pasangan dianggap kurang memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup selama proses pernikahan jarak jauh.
Berikut adalah cara-cara yang dapat diupayakan oleh pasutri yang menjalani commuter marriage sehingga mereka dapat tetap menjaga rasa saling percaya satu sama lain (Naibaho & Virlia, 2016) :
- Keterbukaan, yang terwujud dalam bentuk kesediaan antar pasangan dalam berbagi informasi, pendapat, perasaan, maupun pikiran mengenai pengalaman atau isu yang terjadi.
- Saling berbagi, yang mana antar pasangan tidak sungkan untuk saling menawarkan bantuan untuk membantu penyelesaian suatu masalah atau tugas
- Penerimaan, yang terwujud dalam bentuk komunikasi dan menghargai pendapat pasangan
- Dukungan, dalam bentuk kepercayaan terhadap kemampuan pasangan. Berikan ruang untuk pasangan bisa melakukan aktivitas kesehariannya/pekerjaan dan berikan semangat bahwa pasangan bisa melakukan pekerjaan atau kegiatannya dengan baik.
- Niat bekerja sama, termanifestasi dalam wujud harapan dan tindakan untuk saling bekerja sama untuk mencapai pemenuhan tujuan bersama
Referensi
- Naibaho, S.L., dan Virlia, S., (2016). Rasa Percaya pada Pasutri Perkawinan Jarak Jauh. Jurnal Psikologi Ulayat, 3, 1, 34-52.
- Rhodes, A. (2002). Long Distance Relationship in Dual Career Commuter Couple. Journal of Marriage and Family, 10, 398-404.
- Shenkman, M. (2004). The Completed Book of Trusts (3rd ed). New York, NY: John Wiley & Sons.
- Tessina, T. (2008). The Commuter Marriage. Fort Collins, CO: Adams Media
Ditulis oleh: Stefani Virlia, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Sumber gambar: Heart vector created by freepik – www.freepik.com
Others
- Photovoice: From Introduction to Publication 2026 April 30, 2026
- Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Emosi: Ketika Keluarga Tidak Lagi Terasa “Rumah” April 30, 2026
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025

