Mengenal Tentang Adverse Childhood Experience
Adverse Childhood Experience/ Pengalaman Masa Kecil yang Merugikan didefinisikan sebagai kejadian-kejadian di masa kecil yang membuat anak terluka atau tertekan sehingga mengganggu perkembangan kesehatan fisik dan psikologisnya. Pengalaman-pengalaman yang dialami oleh anak ini biasanya disebabkan oleh keluarga atau lingkungan di sekitar mereka.
Seringkali ketika kita membahas tentang trauma di masa kecil, kita langsung membayangkan tindakan kekerasan, pemerkosaan, atau hal-hal lain yang berdampak langsung pada anak. Tapi pada dasarnya, kurangnya support keluarga ketika anak mengalami pengalaman negatif apapun akan merubah pengalaman itu menjadi sesuatu yang merugikan. Pengalaman merugikan ini meliputi hal-hal yang tidak dapat terlihat langsung, seperti pengabaian, perasaan tidak disayangi oleh keluarga, dan melihat tindak kekerasan dalam keluarga maupun lingkungan.
Berikut adalah contoh-contoh dari Pengalaman Masa Kecil yang Merugikan

Karakteristik Pengalaman Masa Kecil yang Merugikan
Pengalaman Masa Kecil yang Merugikan memiliki beberapa karakteristik yang bisa kita amati (Kalmakis & Chandler, 2013).
- Membahayakan
Pengalaman masa kecil yang merugikan biasanya membahayakan untuk anak. Tidak hanya membahayakan secara fisik, tapi mental, dan juga emosi. Bahaya ini bisa disebabkan oleh pengalaman-pengalaman negatif atau kurangnya pengalaman positif.
- Kronis/ muncul berkali-kali
Pengalaman merugikan bisa jadi muncul sekali namun memiliki resiko yang tinggi, atau muncul berkali-kali dengan dampak yang tidak langsung terlihat. Tapi biasanya, pengalaman yang merugikan terjadi berulang kali hingga membentuk pola dalam kehidupan anak.
- Menyebabkan penderitaan (distress)
Distress adalah hasil dari rasa tertekan yang berkepanjangan (Selye, 1976). Ketika anak merasa tidak mampu untuk mengontrol keadaan, maka mereka akan cenderung merasa lebih tertekan.
- Kumulatif
Pengalaman masa kecil yang merugikan biasanya tidak hanya terdiri dari 1 jenis pengalaman merugikan. Anak yang melihat kekerasan dalam rumah tangga bisa juga mengalami rasa tidak dicintai oleh orangtuanya. Beberapa pengalaman merugikan bisa terjadi dalam 1 kejadian yang membuat tingkat keparahannya menjadi kompleks. - Memiliki tingkat keparahan yang berbeda
Beberapa pengalaman merugikan seperti kekerasan fisik dan seksual dirasa memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pengalaman merugikan yang lain (Benedetti et al., 2011). Tapi menyaksikan tindak kekerasan memiliki efek yang sama pada perkembangan dan perilaku anak seperti jika mereka menjadi korban (Stenberg et al., 2006).
Tingkat keparahan satu pengalaman merugikan bisa berbeda-beda untuk anak. Hal ini disebabkan adanya perbedaan persepsi anak dalam melihat dan memaknai pengalaman tersebut. Seperti contoh, kematian anggota keluarga yang paling dekat bisa menjadi pengalaman yang sangat merugikan bagi seorang anak. Tapi bagi anak yang melihat kematian sebagai pintu menuju dunia yang lebih baik, kematian keluarga terdekat bisa jadi tidak se-merugikan itu.
Perlu diingat bahwa tingkat keparahan bersifat subjektif di sisi sang anak. Sebagai orangtua atau pengasuh anak, terkadang kita menggunakan pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan berpikir kita untuk menentukan seberapa besar dampak satu kejadian untuk mereka. Sayangnya, ini tidaklah tepat. Apa yang tidak menyakitkan buat kita bisa jadi sangat menyakitkan untuk anak. Apa yang kita lihat belum tentu sama seperti apa yang mereka lihat. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk benar-benar dekat dan memahami anak dari kaca mata mereka.
Apa yang harus kita lakukan?
Karena pengalaman merugikan di masa kecil sangat dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungan sekitar, maka intervensinya tidak bisa lepas dari lingkungan. Untuk mengurangi potensial terjadinya ACE, keluarga harus menjadi tempat yang aman, dan menjadi peredam dari pengalaman negatif yang mungkin disebabkan oleh lingkungan luar.
Untuk mengurangi potensi terjadinya Pengalaman Merugikan di Masa Kecil, keluarga harus menjadi tempat yang aman, dan menjadi peredam dari pengalaman negatif yang mungkin disebabkan oleh lingkungan luar.
- Preventif: beberapa upaya pencegahan yang bisa dilakukan oleh keluarga adalah mencari lingkungan rumah dan sekolah yang aman untuk anak. Orangtua juga perlu memastikan bahwa anak tidak terlalu terekspos pada pertengkaran dalam keluarga.
- Solutif: keluarga perlu menjadi social support yang ada untuk anak ketika menghadapi waktu-waktu sulit. Karena persepsi anak terhadap kejadian negatif mempengaruhi tingkat keparahan dampak pengalaman yang merugikan, penting bagi orangtua untuk memfasilitasi anak membangun persepsi yang tepat terhadap masalah.
Referensi
- Benedetti, F., Radaelli, D., Poletti, S., Falini, A., Cavallaro, R., Dallaspezia, S., … & Smeraldi, E. (2011). Emotional reactivity in chronic schizophrenia: structural and functional brain correlates and the influence of adverse childhood experiences. Psychological medicine, 41(3), 509-519.
- Kalmakis, K. A., & Chandler, G. E. (2014). Adverse childhood experiences: towards a clear conceptual meaning. Journal of advanced nursing, 70(7), 1489-1501.
- Selye, H. (2013). Stress in health and disease. Butterworth-Heinemann.
- Sternberg, K. J., Baradaran, L. P., Abbott, C. B., Lamb, M. E., & Guterman, E. (2006). Type of violence, age, and gender differences in the effects of family violence on children’s behavior problems: A mega-analysis. Developmental Review, 26(1), 89-112.
Ditulis oleh: Amanda Teonata, S. Psi.
Sumber gambar: School photo created by drobotdean – www.freepik.com
Others
- Photovoice: From Introduction to Publication 2026 April 30, 2026
- Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Emosi: Ketika Keluarga Tidak Lagi Terasa “Rumah” April 30, 2026
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025

