3 Strategi Mengajarkan Kebhinekaan pada Anak

Indonesia adalah negara yang multikultural. Namun hidup dalam negara yang multikultural memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, kita memiliki pengalaman untuk belajar dari keragaman suku, budaya, dan agama. Namun tidak dapat disangkal bahwa keragaman juga bisa memicu konflik antarkelompok. Maka, memiliki sikap kebhinekaan dan perilaku toleran sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Pertanyaanya, apakah ada strategi mengajarkan kebinekaan pada anak? Ada setidaknya 3 cara yang dapat orang tua lakukan untuk mengajarkan kebhinekaan pada anak.

Pertama, memberikan pengalaman multikultural pada anak-anak sejak dini. Misalnya, orangtua dapat menunjukkan keragaman profil dari teman-teman di sekolah. Misalnya dengan mendiskusikan dengan bahasa anak dan belajar tentang suku dan etnis, agama, dan kebudayaan yang berbeda. Mereka akan membentuk relasi persahabatan yang sehat dengan teman-teman dari berbagai latar belakang sosial dan budaya. 

Pengalaman multikultural akan membentuk dan memperlengkapi anak dengan sebuah kompetensi lintas budaya. Kompetensi ini akan menyertainya untuk tumbuh sebagai seorang warganegara yang toleran dan menghargai perbedaan. Mengapa? Karena ia telah terbiasa bersentuhan dengan perbedaan itu sendiri sejak kecil. Di rumah, orangtua dapat mengambil peran dengan mengajak anak untuk berbincang tentang diversitas identitas sosial di kelasnya serta mengajarkan pada anak bagaimana menghadapi perbedaan-perbedaan itu dengan respon dan sikap yang tepat.

Kedua, memberikan pengalaman kepada anak untuk menjadi mayoritas maupun minoritas. Melalui pengalaman-pengalaman ini, anak-anak akan mendapatkan kesempatan untuk belajar mengalami superioritas mayoritas dan inferioritas minoritas karena ia pernah mengalami pengalaman baik menjadi mayoritas dan maupun minoritas. Orang tua kemudian  dapat mendiskusikan pengalaman-pengalaman ini dan menarik nilai-nilai pelajaran dari sana. Saat menjadi minoritas, ia tidak akan mudah minder. Bahkan ia dengan percaya diri tetap mampu bergaul dengan siapapun. Sebaliknya, saat berada di situasi dimana ia menjadi mayoritas, ia akan memperlakukan teman-temannya yang minoritas dengan penuh respek dan kasih sayang.

Ketiga, memaparkan kepada anak isu-isu mengenai keberagaman. Isu mengenai keberagaman perlu menjadi percakapan dalam keseharian. Pada akhirnya, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli dengan sesamanya dari berbagai kalangan, dan bersedia menolak rasisme, diskriminasi, atau tindakan perundungan yang terjadi di berbagai seting kehidupan. Tanpa kita sadari, memberi pengalaman lintas budaya pada anak telah memberikan ruang pada anak ini tumbuh menjadi manusia Indonesia yang menjaga identitas nasional kita sebagai bangsa yang berbineka tungga ika.

Ditulis oleh: Dr. Jony Eko Yulianto

Ahli Psikologi Sosial Universitas Ciputra Surabaya

Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/laughing-girls-under-blanket-in-bed-5063121/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed