Bagaimana Video Games Mempengaruhi Anak?
Bermain video games memang selalu seru untuk anak-anak. Apa lagi di masa-masa seperti ini. Jika Anda merasa anak Anda bermain games lebih dari biasanya, janganlah heran. Ada beberapa hal yang mendorong anak untuk bermain games lebih banyak atau lama di masa pandemi ini:
- Mereka jarang menghabiskan waktu di luar rumah sehingga hiburan mereka menjadi lebih terbatas. Games menambah variasi hiburan atau pengalaman yang menyenangkan di dalam rumah.
- Video games, terutama yang online, adalah media bersosialisasi yang sangat efektif. Ketika mereka tidak dapat bertemu secara langsung, games adalah media dimana anak-anak bisa mengalami pengalaman yang sama dan berinteraksi dengan teman-teman mereka tanpa harus bertemu. Contoh: mengalami kemenangan atau kekalahan bersama.
- Hal ini juga didukung oleh meningkatnya keahlian mereka menggunakan gadget dan eksplorasi internet (seperti untuk sekolah online), adanya kemudahan akses untuk internet, dan banyaknya jenis games yang dapat diakses dengan internet.
Bagi orangtua, menghadapi perilaku bermain games anak bisa menjadi sebuah dilema. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan apakah video games baik atau buruk bagi perkembangan anak. Disatu sisi ada yang mengatakan bahwa video games membantu perkembangan kognitif dan bahasa anak, sedangkan sisi yang lain menyoroti dampak negatif games pada kesehatan dan perilaku kekerasan (Gentile, 2011). Dan terkadang, di sinilah kita sebagai orangtua bingung mengatur strategi atau menyikapi perilaku bermain anak.
Pada kenyataannya, video games memberikan dampak baik dan juga buruk bagi perkembangan anak. Sebagai orangtua, kita harus mampu melihat video games secara menyeluruh untuk bisa memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatifnya.
Gentile (2011) menyebutkan ada 5 dimensi dalam video games yang bisa mempengaruhi perkembangan anak:
- Jumlah/ durasi bermain games
Beberapa penelitian menemukan bahwa lama durasi anak bermain games berhubungan dengan prestasi yang jelek di sekolah. Hasil dari penelitian-penelitian tersebut bisa memiliki dua arti: yang pertama, bermain video games terlalu lama membuat mereka tidak punya waktu belajar dan mengerjakan tugas, dan kemudian menyebabkan nilai jelek; atau yang kedua, video games menjadi platform untuk meningkatkan sense of mastery mereka di satu bidang karena mereka merasa tidak mampu berprestasi di sekolah.
Sebagai orangtua, kita perlu menggali lebih dalam mengenai ini. Bagi orangtua yang memiliki anak usia remaja ataupun memasuki dewasa awal, maraknya e-sport di Indonesia juga membuka kesempatan karir yang mungkin diminati oleh anak. Jika memang demikian, maka anak melihat waktu yang ia habiskan untuk bermain video games sebagai investasi untuk apa yang ingin ia capai kedepannya. Oleh sebab itu, kita perlu bijaksana dalam mengatur kata-kata ketika kita menegur perilaku bermain mereka.
- Konten games yang dimainkan
Konten games adalah hal yang penting untuk dipertimbangkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa isi games bisa menambah ilmu dan mencontohkan perilaku. Misal, games yang mengajarkan pembelajaran secara spesifik (Scribble yang berhubungan dengan bahasa, permainan soal matematika matematika, dll) terbukti mampu meningkatkan kemampuan anak. Demikian juga dengan games yang memberikan reward pada tindakan kekerasan, atau mendorong munculnya kekerasan (verbal/ non-verbal).
Tanpa kemampuan filter yang baik dan didukung dengan dorongan dari teman-teman untuk bermain, anak akan terus lanjut memainkan games kekerasan tanpa menganyadari dampaknya. Oleh sebab itu, pendampingan orangtua sangatlah penting untuk anak dapat membedakan mana games yang baik dan tidak baik untuknya.
- Konteks games yang dimainkan
Konteks games berbicara mengenai bagaimana game tersebut akan mempengaruhi anak. Untuk memahami hal ini, mari kita belajar dari sebuah game, yaitu Among Us. Game ini sangat fenomenal belakangan ini. Cara mainnya sederhana sehingga memungkin individu dari segala jenis umur untuk memainkannya. Game Among Us dapat dimainkan dengan dua mode, yaitu Classic dan Hide and Seek. Mode classic mengharuskan pembunuhnya untuk berbohong dan anak-anak lain untuk menebak siapa pembunuhnya. Mode ini akan seru jika pemain terpilih menjadi pembunuh dan harus berbohong. Mode hide and seek berbeda lagi. Mode ini benar-benar seperti kita bermain kejar-kejaran di dunia nyata. Keseruan dari game ini terletak dari menghindari pembunuh. Dari satu game yang sama, kita bisa mendapatkan dua konteks yang berbeda.
Konteks sosial yang terkandung dalam games berpotensi untuk menahan efek agresi yang terkandung dalam games. Contohnya, game Mobile Legend. Game tersebut menuntut pemain untuk mengeliminasi musuh dan merebut base lawan. Tapi dalam permainan tersebut, pemain tidak dapat menang jika tidak mengembangkan kerjasama yang baik di dalam tim. Jika bekerjasama dengan orang lain menjadi poin dominan yang anak pelajari dalam game, maka efek kekerasan mungkin bisa dikurangi.
Konteks lain yang bisa terkandung dalam games adalah petunjuk untuk menyelesaikan masalah. Terkadang, games memiliki dan mengajarkan pemain untuk sensitif pada petunjuk-petunjuk yang menuntun mereka menemukan penyelesaian masalah. Hal ini juga yang bisa dipelajari anak dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
- Struktur games yang dimainkan
Struktur atau fitur dalam video games juga memberikan efek pada perkembangan anak. Dalam hal ini struktur/ fitur video games membantu mengembangkan persepsi dan kemampuan visual anak. Sebagai contoh, action video games membuat pemain harus fokus dan melihat area bermain (yang ada pada layar) secara menyeluruh karena musuh dapat muncul dari mana saja. Hal ini juga membuat pemain lebih berhati-hati, tepat dalam membidik, dan mengembangkan gerak refleks yang cepat. Pada beberapa games yang memungkinkan adanya visual 3D, games tersebut memungkinkan adanya perkembangan spasial dan navigasi pada anak.
- Mekanisme games yang dimainkan
Mekanisme games berbicara mengenai gerakan apa saja yang dibutuhkan untuk memainkan game tersebut. Setiap game membutuhkan pergerakan-pergerakan tertentu. Mulai dari yang paling sederhana yaitu penyentuh layar, hingga gerakan yang realistis seperti video games balap dengan kontrol setir dan pedal mobil. Hal ini secara tidak langsung tentu membantu anak mengembangkan kemampuan motorik dan koordinasi tubuh yang akan dibutuhkan di kehidupan sehari-hari.
Referensi
- Gentile, D. A. (2011). The multiple dimensions of video game effects. Child development perspectives, 5(2), 75-81.
Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi
Sumber gambar: Design vector created by freepik – www.freepik.com
Others
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025
- Helping Clients Heal from Father Wounds July 16, 2025
- Bisa romantis tapi gak kompak ngasuh anak? July 3, 2025

