“Apakah gaya pacaranku sehat?” 8 Pertanyaan Evaluasi
Kita semua tahu bahwa relasi berpacaran yang tidak sehat sebaiknya segera dihentikan. Hal ini sering dikaitkan dengan perilaku kekerasan dan over protective & controlling dari pasangan. Tapi tidak hanya itu, relasi berpacaran yang tidak sehat mencakup pelanggaran batas, pengembangan diri yang terhambat, ekspektasi yang tidak realistis, dan perilaku tidak menghargai.
Bibit-bibit relasi yang tidak sehat bisa tumbuh secara perlahan. Ketika kita menjalani relasi, bisa jadi kita tidak sadar bahwa relasi kita sudah menjadi toxic. Oleh sebab itu, kita perlu sering-sering melakukan check-up dan mengevaluasi relasi kita.
Ada 8 pertanyaan yang bisa ditanyakan untuk melihat apakah relasi yang kita bangun masuk dalam kategori sehat:
- Apakah kita memiliki waktu dan energi untuk orang-orang di lingkungan sekitar selain pacar kita (contoh: teman, keluarga, mentor, dll)?
Relasi yang sehat memberikan kita waktu, ruang, dan kesempatan untuk menikmati lingkungan sosial di luar relasi itu sendiri. Masing-masing mengerti dan merasa bahwa relasi dengan dunia luar juga penting untuk pertumbuhan. Hal ini bisa dilakukan secara individu, atau bersama-sama sebagai pasangan. Contoh: hangout, membuat project, atau terlibat dengan kegiatan sosial bersama teman-teman bisa dilakukan secara sendiri-sendiri atau bersama dengan pasangan. Relasi yang sehat adalah dimana individu bisa menikmati kebersamaan sebagai pasangan meskipun sedang tidak eksklusif hanya berdua.
Relasi menjadi tidak sehat ketika salah satu atau kedua individu dalam relasi merasa bahwa dunia luar (teman dan keluarga) “tidak aman” dan mengancam relasi mereka. Biasanya individu yang seperti ini akan menanyakan untuk apa kita menghabiskan waktu dengan teman atau keluarga kita. Merasa tidak suka/ nyaman jika kita tetap bergaul dekat dengan mereka, dan mungkin akan mengatakan bahwa apa yang kita lakukan tidak berguna atau buang-buang waktu saja. Dari rasa terancam mungkin juga akan muncul perkataan seperti “Keluarga/ temanmu tidak suka jika kita bersama” atau “Kamu tidak perlu lagi pergi bersama mereka. Mereka membuatku tidak nyaman”.
- Apakah kita merasa aman dalam identitas dan personal space kita? Apakah batasan-batasannya jelas dan dihargai?
Relasi yang sehat lahir dari penerimaan dan rasa aman dalam identitas masing-masing. Relasi yang sehat kemudian akan menguatkan individu yang terlibat. Ia tidak memaksa pasangan/ diri sendiri untuk menjadi orang lain, tapi malah membantunya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Relasi yang sehat juga memahami batasan-batasan individu. Masing-masing mengetahui apa yang harus, tidak harus, serta bisa dan tidak bisa dibagikan. Masing-masing individu menghargai privasi dan nilai-nilai yang dipegang erat.
- Apakah komunikasi dan interaksi yang terjadi membuat pesan tersampaikan dengan jelas?
Komunikasi dalam relasi yang sehat cenderung jelas dan jarang memiliki makna ganda. Jelas di sini berarti, pesan yang diterima oleh individu adalah tepat seperti apa yang ingin disampaikan oleh pasangan. Jika pesan yang ingin disampaikan adalah “A”, maka yang diterima juga adalah “A” dan bukan “A’”. Ada konsistensi pesan yang disampaikan melalui verbal dan non-verbal. Dan meskipun individu dalam relasi tersebut tidak memiliki cara berkomunikasi yang sama, namun mereka bisa saling memahami.
Dalam relasi yang tidak sehat, komunikasi yang terjadi malah semakin memunculkan kebingungan adan menambah ketidakpahaman. Sering kali dalam relasi yang tidak sehat, individu merasa ia semakin tidak mengerti, tidak bisa memahami, atau tidak dipahami oleh pasangannya.
- Siapa yang memimpin? Apakah semuanya saling mendukung satu sama lain?
Dalam relasi yang sehat, kedua individu saling mendukung satu sama lain. Saling mendukung dalam artian, bukan hanya yang tidak dominan mendukung yang dominan, tapi juga sebaliknya. Masing-masing individu memiliki kesadaran bahwa mereka tidak ahli dalam segala hal. Dalam hal ini, masing-masing memiliki kerendahan hati untuk dipimpin dan juga memimpin dalam situasi yang berbeda, sesuai dengan keahlian masing-masing.
Bibit relasi yang tidak sehat muncul ketika salah satu individu merendahkan atau menganggap remeh pasangannya. Tanda yang lain adalah individu (yang dirasa tidak dominan) tidak memiliki bargaining power atau sedikit hak untuk menyuarakan pendapat, masukan, argument, untuk bernegosiasi.
- Apakah kita merasa aman saat mengekspresikan emosi, perasaan, and pendapat kita?
Pasangan dalam relasi yang sehat merasakan dan mampu mengekspresikan emosi secara luas. Mereka mampu saling berbagi dan menerima kesedihan, kekecewaan, dukacita, sukacita, antusiasme, dan banyak emosi lain. Tidak ada emosi yang dirasa memalukan.
“Losses can be discussed and mourning is permitted and understood” – Eckstein, 2004
Dalam relasi yang tidak sehat, individu cenderung “mengecilkan” atau menganggap remeh penyebab dan dampak emosi. Perkataan seperti ini biasanya akan sering muncul “Masalah kecil seperti itu saja kamu menangis. Jangan lemah-lemah dong” atau “Gitu aja sudah bangga, standartmu rendah sekali”
- Apakah kita masih memegang kendali atas hidup kita? Apakah kita mandiri?
Dalam relasi yang sehat, individu didorong untuk memiliki pilihannya sendiri namun di satu sisi juga di bimbing dalam perkembangannya. Dalam hal ini, kasus yang sudah tidak asing lagi bagi anak muda adalah pemilihan universitas, sekolah atau jurusan. Banyak anak muda yang membatalkan atau ikut studi lanjut di luar negeri, karena ingin bersama dengan pacar. Padahal belum tentu opsi tersebut adalah opsi terbaik yang bisa mereka ambil berdasarkan pertimbangan yang objektif.
Relasi yang sehat tidak menyandung satu sama lain dengan rasa bersalah ketika pasangannya berkembang atau mengambil keputusan secara mandiri. Kuncinya adalah mengetahui bahwa ada hal-hal yang memang perlu diputuskan bersama, dan ada yang tidak.
Dalam menghadapi masalah, individu dalam relasi yang sehat menyadari bahwa mereka berdua memiliki kelebihan, kemampuan beradaptasi, dan lingkungan yang dapat membantu ketika mereka tidak bisa menyelesaikan konflik sendiri.
- Apakah ada upaya menyelesaikan masalah dan negosiasi saat menghadapi masalah atau mengambil keputusan?
Dalam relasi yang sehat, masing-masing individu mendengarkan, menghargai, mempertimbangkan, dan mau untuk mengambil pendapat pasangan jika dirasa lebih tepat. Negosiasi menjadi kunci dimana tidak hanya pendapat 1 individu saja yang mutlak, tapi pasangan mampu mencari resolusi konflik dan mengambil keputusan dengan tepat dari semua pendapat yang ada.
- Apakah ada sense of purpose dan makna dalam hidup?
Pasangan dalam relasi yang sehat memiliki sistem kepercayaan yang jelas dan diakui bersama. Mereka memahami bahwa hidup memiliki makna dan tujuan.
Setiap orang memiliki dan menerima cara perlakuan yang berbeda-beda. Dalam relasi, tentu kita memiliki standar toleransi tertentu yang tidak sama dengan orang lain. Kita tidak perlu mencoret semua pertanyaan untuk menyatakan bahwa relasi yang kita bangun dengan pasangan bersifat destruktif. Yang terpenting dalam membangun relasi adalah apakah kita melihat diri kita juga dibangun, berkembang ke arah yang lebih baik.
Referensi
Eckstein, D. (2004). The “A’s and H’s” of healthy and unhealthy relationships: Three relationship renewal activities. The Family Journal, 12(4), 414-418.
Ditulis oleh: Amanda Teonata S.Psi.
Sumber gambar: Woman photo created by diana.grytsku – www.freepik.com
Others
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025
- Helping Clients Heal from Father Wounds July 16, 2025
- Bisa romantis tapi gak kompak ngasuh anak? July 3, 2025

