Bagaimana bisa intim dengan pasangan? Meningkatkan Intimasi Hubungan melalui Keterbukaan

Relasi yang intim tidak muncul begitu saja. Sama seperti merajut, relasi yang intim berkembang seiring berjalannya waktu. Setiap untaian benang adalah kualitas pertemuan kita dengan pasangan. Apakah ada pertukaran informasi yang personal di sana, apakah kita dan pasangan kita saling terlibat dalam aktivitas yang bermakna spesial untuk berdua? Oleh sebab itu, keterbukaan dan kejujuran adalah hal yang penting dalam relasi.

Ketika kita menjalin hubungan dengan pasangan kita, kita ingin agar mereka menyukai kita. Adalah wajar jika selama proses saling mengenal, kita cenderung mendahulukan informasi yang akan memikat hatinya dan menyembunyikan hal-hal yang menurut kita kurang baik. Bahkan ketika kita sudah berada dalam pernikahan, ada hal-hal yang mungkin masih sulit kita ungkapkan. Contoh, seperti masa lalu yang kelam, atau perilaku buruk yang kita sesali, dan banyak lainnya.

Ketika kita terbuka, atau berani mengakui kelemahan kita, ada perasaan rapuh yang tidak bisa kita hindari. Perasaan rapuh ini membuat kita enggan untuk bercerita dan merasa lebih baik menutupinya saja. Tapi harus diakui, bahwa ketika kita serius dengan relasi yang sedang kita bangun, pasangan kita perlu mengetahui hal-hal yang buruk dalam diri kita juga. Relasi yang sehat dan bermakna tumbuh dari adanya keterbukaan dan kerapuhan dari kedua individu. Sama seperti benih tanaman yang bertumbuh subur di tanah dan tidak akan tumbuh di permukaan keras seperti beton. Tanaman pun akan berakar lebih kuat dan dalam jika tidak ada plester semen di bawah permukaan tanahnya.

Terbuka, atau menjadi transparan, pada pasangan biasanya dilakukan melalui pertemuan yang intim secara verbal ataupun tidak. Intim secara verbal bisa terjadi melalui percakapan, sedangkan intim secara non-verbal bisa terjadi ketika kita mengajak pasangan kita ke tempat yang bermakna untuk kita. Bagaimana membuat pertemuan intim tersebut dapat menunjang intimasi hubungan Anda dengan Pasangan (LaFollette & Graham, 1986)?

  1. Kedua pihak membagikan hal yang menggambarkan kepribadian atau perilaku, dimana tidak semua orang mengetahuinya. Pertukaran informasi yang personal ini harus bisa membantu pasangan untuk mengerti alasan dari perilaku yang kita tunjukan. Contoh, kita mungkin tidak ingin makan makanan tertentu dan cenderung pemilih. Alasan mengapa kita menjadi selektif dengan apa yang kita makan bisa karena masalah kesehatan yang orang lain tidak ketahui. Menceritakan hal ini kepada pasangan akan membuatnya mengerti dan menghargai apa yang kita lakukan.

    Sekedar bercerita atau menunjukan hal yang personal tidak cukup. Kedua belah pihak perlu sama-sama mengerti bahwa informasi yang dibagikan bukan hanya informasi tambahan, tapi juga merefleksikan kehidupan, kepribadian, value atau prinsip dari orang yang menceritakan.

  2. Privasi juga penting untuk intimasi. Dalam hal ini, apa yang kita ceritakan ke pasangan bukanlah sekedar “informasi” biasa, tapi informasi yang penting untuk kita. Privasi membuat pendengar merasa spesial dan bisa dipercaya. Contoh, menceritakan ketakutan kita pada hewan tertentu akan meningkatkan intimasi jika hanya pasangan kita dan atau sedikit orang yang tahu tentang itu. Berbeda halnya jika kita menceritakannya ke semua orang, bahkan orang yang tidak dekat dengan kita. Privasi adalah hal yang dekat dengan kehidupan kita, sesuatu yang personal. Itu menjadi privasi karena kita merasa hal itu penting dan tidak semua orang perlu mengetahuinya. Oleh sebab itu, berbagi pengalaman atau cerita yang private akan membuat pasangan kita merasa lebih dekat dan bisa dipercaya.

  3. Baik yang menceritakan maupun yang mendengar butuh sensitivitas. Pendengar perlu sensitif dengan usaha kita untuk dimengerti, sedangkan kita perlu sensitif dengan atensi dan keinginan pendengar untuk mendengarkan cerita kita.

    Terkadang, ketika kita menyampaikan informasi atau membagikan pengalaman, kita melakukannya di saat yang tidak tepat. Membuat kita merasa mereka tidak tertarik dengan cerita kita, tidak mau mengerti, dan pada titik tertentu, kita merasa mereka tidak tertarik dengan kita sama sekali. Atau bisa jadi kita sebagai pendengar tidak sensitif dengan pengalaman atau cerita yang dibagikan, membuat kita tidak bisa memahami makna informasi tersebut.

    Intimasi dapat terjalin hanya jika keduanya sensitif satu sama lain. Jika hanya pendengar atau yang menceritakan yang sensitif, maka pesan tidak dapat disampaikan dengan baik. Contoh, ketika kita sudah menceritakan isi hati, tapi kemudian pendengar sedang dalam kondisi yang tidak sensitif. Hal ini membuat cerita kita hanya berhenti pada tahap informasi saja.

  4. Percaya adalah hal penting lainnya. Kita tahu bahwa rasa percaya dibutuhkan untuk membangun relasi. Tapi kita perlu melihat rasa percaya sebagai awal dari tumbuhnya intimasi. Rasa percaya tidak berbicara hitam dan putih. Ini bukan mengenai apakah pasangan kita mempercayai kita atau tidak. Rasa percaya adalah spektrum. Kita menanyakan pada diri kita dan pasangan, sejauh mana kita saling percaya?

    Percaya membuat keterbukaan kita menjadi intensional. Dalam artian, kita berani terbuka karena kita memutuskan untuk percaya. Adanya percaya dalam relasi membuat individu dapat membagikan pikiran, reaksi, fantasi, dan hal-hal lain, yang kemudian mengarahkan pasangan pada penemuan-penemuan bermakna tentang kita.

    Kontrasnya, kurangnya kepercayaan mengurangi tingkat keintiman. Hubungan yang terjalin akan cenderung dangkal, tidak adanya pemahaman satu sama lain, dan tidak adanya pertumbuhan dalam relasi.
Referensi
  • LaFollette, H., & Graham, G. (1986). Honesty and intimacy. Journal of Social and Personal Relationships3(1), 3-18.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi
Sumber gambar: Coffee photo created by tirachardz – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed