Bagaimana Keluarga Menyelesaikan Konflik?

Konflik keluarga adalah hal yang pasti terjadi. Bahkan keluarga yang terlihat baik-baik saja sekalipun pasti pernah mengalami hal ini. Namun meskipun demikian, penting bagi keluarga untuk menyeimbangkan frekuensi konflik dengan benefitnya untuk keluarga (baca “Jenis dan Manfaat Konflik Keluarga”). Dalam artian, konflik yang terjadi cukup untuk membangun masing-masing anggota dan tidak berlebihan hingga menghancurkan relasi.

Menurut Vuchinich (1987), konflik dalam keluarganya biasanya akan selesai melalui salah satu dari empat cara berikut:

  • Patuh. Ini adalah kondisi dimana salah satu pihak memutuskan untuk mengalah dan mengikuti kehendak pihak yang lain.
  • Kompromi. Kondisi dimana kedua pihak sedikit mengalah dan mengambil jalan tengah yang dapat diterima oleh setiap pihak.
  • Menghindar. Kondisi dimana kedua pihak memutuskan untuk menghentikan konflik tanpa adanya resolusi. Biasanya kedua pihak sepakat untuk tidak sepakat dalam masalah tersebut. 
  • Menarik diri. Kondisi dimana hanya salah satu pihak memutuskan untuk tidak melanjutkan interaksi yang berujung pada tidak terselesaikannya masalah. Biasanya hal ini akan membuat hubungan kedua belah pihak semakin buruk.

Bagaimana konflik keluarga akan diselesaikan bergantung pada komunikasi yang terjalin dalam relasi. Jika komunikasi antar anggota keluarga sedang tidak baik, maka tidak mudah berdiskusi untuk membicarakan akar permasalahan dan mencari solusinya. Selain itu, komunikasi dalam keluarga juga diwarnai oleh aspek-aspek lain seperti dominasi, pola komunikasi sehari-hari, budaya, dll.

Berikut adalah tipe-tipe pola komunikasi dalam keluarga dan bagaimana itu mempengaruhi penyelesaian masalah:

  • Pluralistik
    Keluarga yang pluralistik adalah keluarga dengan tingkat percakapan yang tinggi. Dalam artian, keluarga terbuka pada percakapan, tidak terlalu membatasi topik, dan setiap anggota didorong untuk berpikir secara mandiri. Karena tidak membatasi topik, keluarga pluralistik jarang menghindari masalah dan mengekspresikan emosi negatif. Hal ini dikarenakan keterbukaan tersebut malah membantu mereka menyelesaikan masalah dan membangun relasi yang positif.
  • Konsensual
    Keluarga yang konsensual dikarakteristikan dengan adanya tekanan untuk sepakat dengan pola komunikasi yang terbuka, dan keberminatan untuk mengeksplorasi ide-ide baru. Keluarga dengan pola komunikasi seperti ini cenderung mengalami emosi negatif. Hal ini dikarenakan tekanan untuk sepakat terkadang menekan ide-ide pribadi dari masing-masing anggota. Namun meskipun demikian, pola komunikasi seperti ini tidak selalu menghancurkan relasi. Yang terpenting adalah bagaimana keluarga tetap saling mendukung satu sama lain dan berusaha menyelesaikan konflik secara positif.
  • Laissez-faire
    Adalah pola komunikasi keluarga dimana anggotanya tidak banyak berinteraksi. Biasanya, mereka akan menghindar dari konflik keluarga dan mencari dukungan emosional dari orang lain. Implikasinya, keluarga dengan pola komunikasi ini  tidak terlalu terganggu jika ada anggota yang tidak setuju atau mendukung pendapat mereka. 
  • Protektif
    Pola komunikasi yang protektif menekankan pada konformitas dan ketaatan. Dalam prakteknya, salah satu anggota keluarga yang dianggap dominan akan mengambil keputusan atau penyelesaian masalah yang dirasa baik, dan anggota keluarga lain harus mengikuti. Pola komunikasi ini memunculkan banyak emosi negatif dan resolusi konflik yang tidak efektif. Alhasil, selain masalah yang tidak terselesaikan, relasi dalam keluarga juga berpotensi rusak karena adanya perasaan tidak suka.

Jika dibandingkan, anak-anak dari keluarga yang protektif cenderung mengalami kesulitan saat harus berpisah dengan figure pembuat keputusan (Orrego & Rodriguez, 2001). Mereka marah karena dituntut untuk selalu taat, merasa sangat bersalah karena masalah yang tidak terselesaikan, dan mengalami kesulitan saat harus beradaptasi dengan perkuliahan. 

Bagaimana keluarga menerapkan pola komunikasi untuk menyelesaikan konflik keluarga akan mempengaruhi bagaimana anak-anak mereka membangun relasi dengan orang lain (Segrin & Flora, 2005). 

Rerefensi
  • Orrego, V O., & Rodriguez, J. (2001). Family communication patterns and college adjustment: The effects of communication and conflictual independence on college students. Journal of Family Communication, 1, 175-190
  • Segrin, C., & Flora, J. (2011). Family communication. Routledge.
  • Vuchinich, S. (1987). Starting and stopping spontaneous family conflicts. Journal of Marriage and the Family, 49, 591-601.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: People vector created by pikisuperstar – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed