Bagaimana membuat Anak Kooperatif untuk Belajar di Rumah?

Sebagai orangtua, kita mungkin sudah menyiapkan list peraturan yang anak kita harus taati guna membangun suasana belajar yang kondusif. Duduk tegak, mengatur posisi melihat layar, harus menggunakan seragam, dan mungkin beberapa hal lainnya. Kita berharap, dengan mentaati peraturan yang kita buat, anak dapat belajar dengan maksimal.

Membuat anak mematuhi peraturan tidaklah mudah. Meskipun kita sudah menetapkan jadwal belajar untuk mereka, kita masih bisa menemukan mereka bermain gadget dengan santai di waktu tersebut. Tidak jarang dalam prosesnya, kita jadi tidak sabar dan marah.

Jika belajar bukanlah hal yang menyenangkan bagi anak, maka akan sangat sulit untuk meminta mereka melakukannya. Mereka juga mungkin jadi enggan mematuhi peraturan-peraturan lain yang berhubungan dengan belajar (contoh: menggunakan seragam saat sekolah online). Semakin banyak list peraturan yang kita buat untuk mereka, semakin banyak kemungkinan mereka untuk melakukan pelanggaran. Semakin banyak pelanggaran mereka, semakin kita merasa mengajari anak di rumah adalah tanggung jawab yang berat.

Biasanya, agar anak mau menurut dengan cepat, kita menunjukan kemaran kita pada mereka. Kita memberikan hukuman dengan mengambil gadget mereka, memukul mereka, atau mengancam mereka. Kita juga mungkin mengatakan kata-kata seperti “Kenapa soal mudah seperti ini kamu tidak bisa?” atau mungkin juga “Kamu bodoh” dengan harapan bahwa mereka akan termotivasi untuk mulai belajar.

Membuat anak merasa buruk tentang diri mereka mungkin akan mendorongnya untuk taat. Tapi, ketaatan itu bisa tumbuh dengan tidak sehat. Mereka akan tetap terluka dan cenderung memiliki gambaran diri yang tidak sehat. Akan ada bibit kebencian, atau mungkin juga trauma.

Faber and Mazish (2012) mengatakan bahwa kita harus menghentikan percakapan yang akan menyakitkan jiwa (pribadi) anak dan mulai mencari kata-kata yang mendorong tumbuhnya self-esteem. Membuat anak menjadi kooperatif dalam mentaati peraturan belajar adalah kuncinya. Dengan membuat mereka kooperatif, kita tidak perlu selalu mengingatkan dan marah-marah. Anak-anak juga akan dengan senang mentaati list peraturan belajar yang sudah kita buat mengetahui bahwa itu untuk kebaikan mereka sendiri.

Berikut adalah hal-hal yang perlu dan sebaiknya tidak lakukan jika kita ingin anak kita menjadi lebih kooperatif (Faber & Mazlish, 2012)

Yang Sebaiknya Tidak Dilakukan

–        Menyalahkan, menuduh, atau melabel mereka dengan sebutan tertentu. Sering kali, kita melabel anak sebagai pembuat masalah tertentu. Contoh label: yang tidak pernah belajar adalah Budi dan yang selalu mendapat nilai jelek adalah si Joni. Ketika kita sudah menempatkan label pada anak kita, kita akan mudah mengatakan seperti ini:

“Tuh, kan, main HP lagi! Kami ini memang tidak pernah belajar” pada Budi, dan

“Kenapa? Nilaimu jelek lagi? Sudah biasa mama. Kapan kamu bisa dapat nilai bagus?” pada Joni.

Bahkan meskipun benar bahwa Budi tidak pernah belajar, kita harus berhenti melabel dan mengasosiasikan mereka dengan perilaku tersebut. Joni memang selalu mendapat nilai jelek, tapi Joni bukanlah nilai jelek tersebut. Yang kita butuhkan adalah Budi untuk mulai belajar dan Joni untuk meningkatkan nilai tugas ujiannya, dan bukan menanamkan identitas yang salah.

 –        Memerintah dan atau mengancam.  Kita bisa secara tidak sadar memberikan perintah disertai dengan ancaman saat kita marah.

“Kamu harus belajar sekarang! Kalau tidak, mama buang bukumu”

Ancaman dapat, dan biasanya efektif, untuk membuat anak merubah perilaku mereka secara instan. Mereka akan langsung mengambil gadget dan membuka video pengajaran kelas. Tapi perubahan itu dilakukan atas dasar rasa takut. Ketika dilakukan berulang-uang, anak akan melakukan perilaku yang diharapkan dengan motivasi menjauhi konsekuensi. Hal ini menghambat tumbuhnya inisiatif anak untuk berkembang dan membuat mereka bergantung pada kita untuk selalu mendapatkan arahan.

 –        Membandingkan mereka dengan anak lain. Cara lain yang biasa dilakukan untuk membuat anak kita belajar adalah dengan membandingkan mereka dengan anak lain yang kita rasa lebih pintar.

“Anak temannya mama pintar dan selalu  dapat nilai bagus. Coba sekali-kali kamu jadi seperti dia”

Membandingkan anak dengan orang lain menumbuhkan perasaan “tidak cukup baik” dalam diri anak. Kalimat tersebut juga menunjukan bahwa kita lebih menghargai anak lain daripada mereka.

 –        “Meramalkan” masa depan mereka berdasarkan perilaku mereka sekarang. Contohnya adalah ketika kita mengatakan seperti ini:

“Kamu tidak akan mendapatkan nilai bagus kalau kamu terus-terusan main gadget. Bagaimana mau naik kelas?”

Kalimat itu menunjukan bahwa pada saat itu kita tidak bisa melihat akhir yang baik. Ya, benar bahwa kita merujuk pada kemungkinan terburuk jika mereka melanjutkan perilaku tidak taat. Tapi menggunakan kata-kata tersebut membuat anak dikelilingi oleh penyesalan, terancam, dan tidak memotivasi dengan sehat.

Yang Sebaiknya Dilakukan

–        Deskripsikan masalah secara objektif. Berikan anak gambaran masalah secara objektif. Sulit untuk melakukan perubahan perilaku jika anak percaya bahwa dia adalah masalahnya.

Contoh, nilai ujian yang semakin menurun. Mendeskripsikan masalah secara objektif adalah dengan mengatakan bahwa “Nilaimu menurun belakangan ini” dan bukan “Kamu belakangan tidak fokus ya?”

 –        Berikan informasi mengenai dampak secara objektif. Jelaskan dampak dari masalah secara objektif tanpa memberikan penuduhan. “Tidak menuduh” memberi anak ruang untuk berani mengakui perbuatan mereka. “Gambaran dampak yang objektif” membuat mereka memikirkan konsekuensi perilaku mereka.

 Contoh, nilai ujian yang menurun. “Nilaimu menurun, dan itu membuat mama cemas” dan bukan “Nilaimu menurun, kamu tidak belajar ya?”

–        Gunakan kata-kata yang efektif dan efisien. Memberikan ceramah yang panjang bisa membuat kita dan anak kita kehilangan fokus pada masalah yang sebenarnya. Pilihlah kata-kata yang bisa membuat mereka berinisiatif menganalisa situasi dan perilaku mereka.

 Contoh, ketika anak bermain dan tidak belajar. Akan lebih mudah mendatangi mereka dan menanyakan  “Tugasmu bagaimana?” daripada “Main lagi? Mama kan sudah bilang kalau kamu harus belajar di jam ini”.

 –        Bagikan perasaan kita. Ceritakan kepada anak apa yang kita rasakan atas perilaku mereka. Hal ini membuat anak belajar bahwa apa yang mereka lakukan berdampak pada perasaan orang lain.

 Contoh, anak bermain dan tidak belajar. “Mama ikut sedih jika nilai tugasmu jelek”

Referensi
  • Faber, A., & Mazlish, E. (2012). How to talk so kids will listen & listen so kids will talk. Simon and Schuster.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Book photo created by user18526052 – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed