Cerita Keluarga yang Spesial!

Keluarga memiliki cerita dan pengalaman yang tidak dialami oleh keluarga lainnya. Kita mungkin sering mendengar “cerita turun temurun”. Sebagai orangtua, kita juga sering menceritakan kisah masa kecil atau pengalaman keluarga kita kepada anak-anak kita.

Dalam interaksi yang terjadi pun, pertanyaan-pertanyaan seperti “Apakah kau ingat dengan kejadian saat…” atau “Apakah kau ingat kita pernah…” sering kita dengar. Tidak sedikit dari cerita-cerita itu yang mengundang kembali gelak tawa dari anggota keluarga lainnya. Cerita keluarga memiliki makna dan nilai tersendiri dimana hanya keluarga tersebut yang bisa memberikan.

Cerita dalam keluarga didefinisikan sebagai “pengalaman penting keluarga yang digambarkan dalam kata-kata”. Meskipun terdengar sederhana, ternyata cerita keluarga sangatlah penting, lho!

Berikut adalah manfaat dari cerita keluarga (Jogenson & Bochner, 2004):

  • Untuk mengingat pengalaman bersama dan menegaskan rasa kepemilikan
    Meskipun keluarga memiliki pengalaman yang sama, anggota keluarga memiliki perspektif dan memori yang berbeda tentang kejadian tersebut. Perbedaan sudut pandang cerita keluarga membuat sejarah keluarga menjadi berwarna dan lebih bervariasi. Cerita keluarga yang diceritakan kembali mengingatkan anggota keluarga bahwa mereka adalah bagian dari kehidupan satu sama lain. Bahwa meskipun apa yang lihat berbeda, mereka tetap ada di sana bersama-sama. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan bonding dan rasa kepemilikan dalam keluarga.
  • Untuk menginterpretasi atau menilai pengalaman
    Cerita keluarga memiliki fungsi interpretasi. Individu akan cenderung menceritakan cerita keluarga dari memori paling kuat yang bisa dia ingat, dan juga dari sudut pandangnya. Vangelisti dkk. (1999) mengatakan bahwa ketika seseorang menceritakan cerita keluarga, mereka memberikan petunjuk tentang apa yang mereka rasakan terhadap keluarga kepada pendengar. Penekanan cerita dan bagaimana mereka memposisikan diri dalam cerita tersebut juga akan  meberikan kita gambaran bagaimana mereka melihat relasinya dengan keluarga.
  • Memberikan pembelajaran atau menanamkan nilai
    Salah satu contoh cerita keluarga yang sering diceritakan kembali adalah pengalaman masa kecil orangtua. Cerita masa kecil orangtua biasanya diceritakan untuk memberikan pelajaran atau gambaran resiko dan kesempatan yang bisa anak dapatkan. Contohnya, cerita sewaktu awal memulai bisnis, atau kisah saat berpacaran dengan ibu. Dalam setiap kisah, orangtua biasanya menyelipkan apa yang sebaiknya dan tidak sebaiknya dilakukan oleh anak.

Memfasilitasi cerita keluarga

Cerita keluarga paling natural diceritakan saat keluarga memiliki waktu luang bersama atau mengalami pengalaman yang mirip dengan cerita sebelumnya. Cerita keluarga adalah media yang dapat kita gunakan untuk membuat keluarga kita dekat dan saling mengenal. Sebagai orangtua, manfaatkanlah acara-acara keluarga untuk membagikan ini. Mulai dari kegiatan yang sederhana seperti makan bersama, perjalanan di mobil, hingga liburan atau mengikuti acara tahunan bersama.

Referensi
  • Jorgenson, J., & Bochner, A. P. (2003). Imagining families through stories and rituals. In The Routledge Handbook of Family Communication (pp. 537-562). Routledge.
  • Segrin, C., & Flora, J. (2011). Family communication. Routledge.
  • Vangelisti, A. L., Crumley, L. P., & Baker, J. L. (1999). Family portraits: Stories as standards for family relationships. Journal of Social and Personal Relationships16(3), 335-368.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Background vector created by pikisuperstar – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed