Co-parenting: Bekerja Sama sebagai Orangtua

Menjadi orangtua bukanlah tugas yang mudah. Untuk membesarkan dan mengasuh anak dibutuhkan lebih dari sekedar kemampuan mengurus diri sendiri. Di luar hal-hal terkait hubungan dengan pasangan, (contoh: managemen keuangan atau hubungan seksual) menjadi orangtua berarti belajar untuk melindungi, mendukung, dan memfasilitasi perkembangan anak hingga mereka bisa mandiri dan siap untuk hidup sendiri.

Dalam prakteknya, pengasuhan anak tidak bisa lepas dari keterlibatan pasangan maupun figure orangtua lain (contoh: nenek, saudara, dll). Individu yang menjadi tempat atau fasilitator utama pertumbuhan anak akan menjadi partner kita dalam pengasuhan. Hubungan kerjasama antar pihak-pihak yang terlibat dalam pengasuhan ini biasa dikenal dengan istilah co-parenting. Co-parenting muncul ketika orangtua sama-sama merasa bertanggung jawab dan berkoordinasi dalam pengasuhan anak.

Co-parenting adalah kunci penting dalam pengasuhan (Feinberg, 2002). Kualitas co-parenting akan menentukan arah dari pengasuhan dan outcome-nya bagi perkembangan anak. Menurut Feinberg (2002), ada 4 komponen yang mempengaruhi kualitas co-parenting:

  1. Peran orangtua yang saling mendukung atau merusak

Ketika kita mengasuh anak bersama partner kita, kita perlu menyadari apakah kita dan partner kita saling mendukung saat melakukannya. Apakah kita menunjukan afirmasi/ apresiasi pada kemampuan partner dalam mengasuh, menghargai keputusan mereka terkait pengasuhan, dan memberikan mereka otoritas? Atau kita malah merendahkan/ meremehkan dan menyalahkan metode pengasuhan mereka?

Beberapa orangtua terkadang menunjukan dominasi yang lebih tinggi di beberapa aspek dalam pengasuhan. Contoh, ibu adalah pengambil keputusan final dalam menentukan menu makan siang sedangkan ayah adalah penentu final dari tujuan berlibur. Pada satu titik yang ekstrim, dominansi figure orangtua dalam pengasuhan yang tidak didukung dengan sifat supportive akan mempengaruhi persepsi anak dalam melihat kompetensi figure orangtuanya yang lain. Contoh, anak jadi merasa ayah tidak kompeten dalam memasak/ menentukan menu makan siang terbaik, atau ibu tidak berhak/ tidak mampu dalam merencanakan liburan. Hal ini juga berlaku pada hubungan kita dengan keluarga besar yang mengasuh anak, seperti orangtua atau mertua kita.

  1. Pertentangan dalam membesarkan anak

Komponen kedua dari co-parenting adalah adanya perbedaan pendapat soal bagaimana membesarkan anak. Hal ini seperti nilai moral, tingkat kedisiplinan, standart pendidikan, lingkungan pertemanan, dll. Meskipun konflik dan perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, namun hal ini menjadi lebih sensitif saat kita membahasnya dalam konteks pengasuhan. Perbedaan pendapat bisa menyebabkan adanya inkonsistensi standart. Anak akan kesulitan menentukan perkataan siapa yang harus di ikut. Contoh: jika nenek mengijinkan makan mie instan, sedangkan orangtua (ayah dan ibu) tidak mengijinkan. Dalam hal ini anak yang ingin makan mie instan tentu akan merasa nenek adalah sosok yang lebih baik dari pada kedua orangtuanya.

Jika dibandingkan dengan konflik dan penyesuaian pernikahan, pertentangan dalam membesarkan anak adalah prediktor yang lebih baik untuk perilaku bermasalah pada anak.

  1. Pembagian tugas

Pembagian tugas dalam pengasuhan juga merupakan komponen yang penting. Pembagian tugas yang tidak jelas atau “berat sebelah” akan memunculkan ketidakteraturan.

Bagi keluarga tradisional, terutama di Asia, peran ibu pada pengasuhan dan mengurus rumah sangatlah banyak. Sedangkan ayah sering kali hanya dikaitkan dengan bekerja mencari nafkah. Karena pengasuhan adalah hal yang krusial untuk menunjukan kasih sayang, keterlibatan ayah menjadi sangat penting. Ayah yang aktif terlibat dalam pengasuhan yang sehat akan membantu tumbuh kembang anak menjadi lebih optimal.

Baca lebih lanjut mengenai ini di sini.

  1. Manajemen keluarga

Manajemen keluarga mencakup 3 aspek: konflik antar orangtua, koalisi, dan keseimbangan.

Konflik orangtua yang tidak berhubungan dengan pengasuhan, atau konflik yang tidak dapat dilihat oleh anak biasanya tidak akan mempengaruhi pengasuhan. Namun, terekspose pada masalah jangka panjang dan tidak terselesaikan akan berdampak pada perilaku bermasalah. Anak dengan orangtua yang menunjukan agresi fisik dalam pernikahan cenderung menjadi sensitif pada konflik, dan konflik akan mengganggu perkembangan emosi dan regulasi diri anak, serta pertumbuhan rasa aman dalam keluarga.

Koalisi dalam keluarga berbicara tentang adanya kubu-kubu dalam keluarga (contoh: ibu berkoalisi dengan anak perempuan, keduanya cenderung tidak menyukai ayah). Diharapkan, orangtua mampu untuk mengatur relasi antar anggota keluarga agar tetap sehat.

Keseimbangan yang dimaksudkan disini adalah keseimbangan interaksi. Dalam hal ini, orangtua diharapkan mampu untuk memiliki proporsi pembagian waktu yang tepat, baik itu antar pasangan, dan juga dengan anak-anak mereka.

Referensi:
  • Feinberg, M. E. (2002). Coparenting and the transition to parenthood: A framework for prevention. Clinical child and family psychology review5(3), 173-195.
  • Feinberg, M. E. (2003). The internal structure and ecological context of coparenting: A framework for research and intervention. Parenting: Science and Practice3(2), 95-131.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Tree photo created by freepic.diller – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed