Duh, susahnya membuat anak belajar di rumah!

Belakangan ini, school from home menjadi tantangan bagi banyak orangtua. Rasanya sangat sulit meminta anak kita fokus dan mempelajari materi dari sekolah dengan serius. Belajar menggunakan gadget membuat anak-anak mudah terdistraksi dengan game, youtube, atau entertainment lain yang disajikan oleh internet. Belum lagi, sekolah yang tidak terbiasa dengan pembelajaran daring dan orangtua yang tidak terbiasa mengajar membuat proses belajar mengajar menjadi tidak lancar.

Menghadapi rutinitas belajar yang baru ini tentu tidak mudah bagi semua pihak. Baik itu sekolah, orangtua, maupun anak kita sama-sama terkena dampaknya. Sekolah harus membuat system baru, melatih tenaga mengajar, mencari strategi penyampaian materi yang menarik, dan hal lainnya. Anak kita sendiri juga bisa mengalami kebosanan dan kebingungan mengingat mereka hampir tidak pernah belajar bagaimana untuk belajar secara online. Sedangkan sebagai orangtua, kita menjadi cemas dengan pendidikan anak kita. Kecemasan ini yang kemudian membuat kita menjadi stress dan lebih uring-uringan melihat anak kita sulit belajar di rumah.

Dalam situasi seperti ini, ada dua pertanyaan yang kerap ditanyakan orangtua:

  1. Mengapa anakku sulit untuk belajar di rumah?
  2. Saya emosi sekali saat mengajari anak saya. Apa yang harus saya lakukan?
Mengapa anakku sulit untuk belajar di rumah?

Bagi orangtua yang memiliki anak usia anak-anak hingga remaja, tantangan untuk mengajak mereka belajar di rumah memang lebih besar. Seringkali kita tidak mengerti dan merasa dimengerti. Rasanya sulit sekali meminta mereka untuk mematuhi peraturan atau mengikuti instruksi yang kita berikan. Mengapa demikian?

Kesulitan mempertahankan atensi. Anak-anak hingga remaja adalah masa dimana mereka sulit mempertahankan atensi dan mudah bosan. Hal ini wajar. Ini adalah bagian dari proses perkembangan mereka. Kesulitan mereka mempertahankan atensi, ditambah dengan kejenuhan berada di rumah dan banyak godaan distrkasi dari internet membuat belajar menjadi aktivitas yang sangat tidak menarik. Ketika anak kita jenuh, maka akan sulit bagi mereka memahami pengajaran yang sedang disampaikan.

Kurangnya sentuhan sosial. Selain kesulitan mempertahankan atensi, belajar di rumah juga membatasi mereka dari permainan dan pertemanan. Tidak ada lagi pertemuan tatap muka dengan teman, atau bermain bersama. Padahal, bertemu dan bermain bersama teman bisa jadi adalah salah satu aktivitas yang memotivasi mereka untuk belajar.

Sebagai orangtua, seringkali kita menempatkan ekspektasi atas apa yang seharusnya dan tidak seharusnya anak kita lakukan berdasarkan apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan. Bagi kita, orang dewasa, fokus mengikuti rapat selama 2 jam penuh mungkin bukan hal yang sulit. Tidak bertemu atau bermain dengan teman seusia kita juga bukan hal yang besar mengingat kita sudah fokus pada bekerja dan memiliki keluarga. Sayangnya, tidak demikian dengan anak-anak. Menuntut mereka untuk memiliki kemampuan dan dorongan belajar yang sama seperti kita hanya akan membuat kita dan anak kita semakin tertekan.

Saya emosi sekali saat mengajari anak saya. Apa yang harus saya lakukan?

Avital S. Levy, seorang coach dalam pengasuhan anak menjelaskan bagaimana orangtua sebaiknya mengelola rasa marah.

Rasa marah adalah hal yang wajar kita rasakan. Kita sangat berhak untuk merasakannya dan jangan merasa bersalah karena kita merasa marah. Tapi yang membuat berbeda adalah bagaimana kita memutuskan untuk mengekspresikannya. Perlu diingat bahwa rasa marah kita ditujukan pada perilaku dan bukan pada pribadi anak. Sering kali saat kita marah, kita mengatakan seperti ini:

“Kamu membuat mama marah!”

Pribadi mereka, nyatanya, bukan sumber kemarahan kita. Perilaku mereka lah menyulut emosi kita. Meskipun tidak berbeda jauh dari segi kata-kata, mengatakan seperti ini:

“Kemalasanmu membuat mama marah!”

Bisa memberikan efek yang berbeda pada bagaimana anak melihat kita dan diri mereka sendiri. Mereka secara spesifik tahu bahwa perilaku itu lah yang seharusnya dihilangkan dan bukan pribadi mereka secara keseluruhan.

Hal ini juga berlaku sebaliknya. Terkadang kita memang perlu memberitahu anak kita bahwa kita marah dan tidak setuju dengan perilaku mereka. Tapi saat melakukannya, penting untuk tidak membuat mereka melihat kita sebagai kemarahan itu sendiri. Saat kita marah, kita mungkin sering mengatakan:

“Mama marah!”

Apa yang kurang tepat dari pernyataan itu? Saat kita marah, kita tentu tidak sepenuhnya dilingkupi oleh kemarahan. Kita juga merasakan emosi lain, seperti kekecewaan, kesedihan, dan kita masih memiliki diri kita yang penuh kasih untuk anak kita. Pernyataan seperti:

“Mama merasa marah!”

Membantu anak untuk melihat bahwa ada sesuatu di dalam diri kita yang muncul karena perilaku mereka. Dan baik kita dan anak kita, tidak menyukai perasaan itu. Tapi kita bukanlah kemarahan itu sendiri, sehingga ini mengajak anak untuk melihat bahwa perasaan marah itu bisa disingkirkan tanpa menyingkirkan sosok orangtua dalam diri kita.

Hal lain yang perlu kita perhatikan adalah ekspresi wajah, nada, dan tatapan yang kita diberikan pada anak saat kita marah. Faber & Mazlish (2012) menuliskan dalam bukunya bagaimana ekspresi yang kita tunjukan secara tidak langsung mengirimkan pesan, atau ditangkap oleh anak sebagai: “kamu ini bodoh” atau “kamu payah sekali, seperti ini saja tidak bisa”. Merasakannya satu kali saja sudah menyakitkan, apalagi jika anak terus menangkap pesan-pesan seperti itu setiap kali kita marah. Pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana orangtua mereka melihat dan menilai mereka. Hal ini tidak hanya berdampak pada apa yang mereka rasakan, tapi juga perilaku mereka.

Lalu jika demikian, apa yang sebaiknya orangtua lakukan menyikapi perilaku belajar anak di rumah?

Memaksakan mereka dengan teknik mengancam memang cepat membuat mereka mengambil buku dan mendengarkan guru. Tapi perilaku itu tidak akan bertahan dan kita harus secara terus menerus menyiapkan hukuman untuk mereka.

Sebagai orangtua kita perlu mendorong munculnya motivasi internal anak untuk belajar. Tidak mudah memang. Kita harus benar-benar kreatif dalam membantu anak melihat reward perilaku belajar yang baik. Kita perlu membuat suasana belajar yang mendorong mereka untuk kooperatif dalam hubungan belajar mengajar di rumah ini.

Referensi

Faber, A., & Mazlish, E. (2012). How to talk so kids will listen & listen so kids will talk. Simon and Schuster.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: School photo created by bristekjegor – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed