Jadi Ayah: Peran Pengasuhan yang Tidak Terlihat

Mengasuh anak merupakan kewajiban dari kedua orangtua. Giordano, dkk. (1998) menuturkan bahwa pengasuhan yang diberikan oleh kedua orangtua ini memiliki dampak positif jangka panjang di masa dewasa anak kelak. Dampak positif tersebut berupa kemudahan anak dalam memiliki hubungan relasi yang dekat dan sehat dengan orang lain, memiliki harga diri yang tinggi, dan menurunkan potensi perilaku bermasalah yang akan terjadi saat dewasa. Mungkin kita sering menemukan di lingkungan sekitar atau masyarakat bahwa mengasuh anak merupakan kewajiban seorang ibu. Andayani (2000) mencoba melakukan analisis yang mana mendapatkan hasil bahwa ayah cenderung menjaga jarak dari anak-anaknya. Ayah dengan adanya kewajiban memenuhi finansial keluarga menjadikan dirinya lebih sering berinteraksi dengan dunia luar dan sedikit sekali bersinggungan dengan anak. Hal ini yang diamati oleh masyarakat sehingga stigma mengenai ‘mengasuh anak merupakan kewajiban dari seorang ibu’ menjamur dalam interaksi sosial.
Dalam budaya Indonesia, sosiolog Abdillah (dalam Muliati, 2010) menuturkan bahwa budaya Indonesia secara tegas mengotak-ngotakkan pembagian tugas antara ayah dan ibu. Budaya ini yang telah membentuk kedudukan, tanggung jawab, dan hak orangtua yang tidak setara. Di budaya kita, ayah merupakan simbol pemegang kekuasaan (pemimpin), sedang ibu berperan sebagai pengurus rumah tangga, termasuk kewajiban mengasuh anak. Pola budaya ini dapat berdampak pada peran pengasuhan ayah kepada anak. Seolah-olah ayah merasa tabu dalam mengasuh anak dan menjadi hal yang tidak wajar jika ayah mengasuh anak. Padahal, peran ayah dalam pengasuhan sangat berdampak dalam proses tumbuh kembang anak. Beberapa ahli berikut memberikan contoh bahwa peran ayah dalam pengasuhan sangat dibutuhkan.
- Dapat menurunkan tingkat agresivitas dan anti-sosial anak
Perilaku agresi adalah perilaku yang cenderung merujuk pada (keinginan) mencederai, menghalang, dan menghadang setiap komponen yang dirasa tidak selaras dengan buah pikirannya. Sedangkan perilaku anti-sosial cenderung berkutat pada Carlson (2006) menambahkan bahwa ayah yang lebih terlibat dalam pengasuhan anak dapat meminimalisir tingkat agresi dan perilaku anti-sosial jika dibandingkan dengan ayah yang minim terlibat dalam pengasuhan.
- Memperkuat skill problem solving
Stereotip mengenai sifat ayah yang mengajarkan kepada anaknya perihal penyelesaian masalah sejatinya memiliki dampak pada perilaku anak sewaktu dewasa. Pola stereotip ini muncul dikarenakan sering kali dalam interaksi sosial ditemukan bahwa peran yang ditunjukkan oleh ibu adalah kehangatan dan cinta kasih. Sedangkan perilaku yang ditunjukkan dari ayah lebih menekankan pada perilaku sejenis menemukan solusi pemecahan masalah. Flynn dkk. (2010) menyatakan bahwa keterampilan pemecahan masalah yang diajarkan melalui kelekatan ayah terhadap anak dapat membentuk cara anak menafsirkan dan menanggapi tindakan yang diberikan oleh orangtua mereka.
- Meningkatkan Hasil Akademik
Kehangatan ini sejatinya bukan hanya diberikan oleh ibu, namun juga dari pihak ayah perlu memberikan kehangatan kepada anak. Studi yang dilakukan oleh Chung, Phillips, Jensen, & Lanier (2019) menunjukkan bahwa kehangatan yang diberikan oleh ayah terhadap anak dapat berkontribusi positif pada hasil akademik mereka. Sehingga keberhasilan anak dalam hasil akademik bukan semata-mata karena peran dari Ibu, namun sebenarnya peran dari ayah juga perlu hadir di dalamnya.
Berdasarkan penjabaran diatas, sejatinya peran dari pengasuhan ayah kepada anak sangat dibutuhkan. Sayangnya, pengasuhan yang diberikan ini terkesan kurang disadari oleh masyarakat. Ditambah juga dengan adanya perilaku mengkotak-kotak-an tanggung jawab dalam berkeluarga, dimana peran ayah disini hanya untuk mencari uang. Kita perlu mulai menyadari, bahwa ayah perlu turut ambil peran pengasuhan dalam proses pertumbuhan anak.
Referensi:
- Andayani, B. (2000). Profil keluarga anak-anak bermasalah. Jurnal Psikologi, 27(1), 10-22.
- Chung, G., Phillips, J., Jensen, Todd M., & Lanier, P. (2019). Parental Involvement and Adolescents’ Academic Achievement: Latent Profiles of Mother and Father Warmth as a Moderating Influence, Family Process, 10(10), 1-17.
- Carlson, M. J. (2006). Family structure, father involvement, and adolescent behavioral outcomes. Journal of Marriage and Family, 68(1), 137-154.
- Giordano, P. C., Cernkovich, S., Groat, T., Pugh, M. D., & Swinford, S. (1998). The quality of adolescent friendships: Long term effects?, Journal of Health and Social Behavior, 39(1), 55-71.
Ditulis Oleh: Rudy Gunawan, Mahasiswa Psikologi Universitas Ciputra
Sumber gambar: Family photo created by drobotdean – www.freepik.com
Others
- Photovoice: From Introduction to Publication 2026 April 30, 2026
- Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Emosi: Ketika Keluarga Tidak Lagi Terasa “Rumah” April 30, 2026
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025

