Jenis dan Manfaat Konflik Keluarga

Mengalami konflik dalam keluarga adalah hal yang awam terjadi dalam kehidupan kita. Konflik dalam keluarga bisa terjadi antara kita dengan pasangan, orangtua, atau anak kita. Tidak menutup kemungkinan konflik ini melibatkan dua pihak dalam satu kubu. Seperti ibu dan anak bertengkar dengan ayah, atau orangtua bertengkar dengan anak-anak.

Topik-topik yang menjadi konflik dalam keluarga bisa berbeda-beda. Mulai dari menentukan menu makan malam, hingga hal-hal yang mendalam seperti gaya pengasuhan dan prinsip hidup. Bagi orangtua, konflik dalam keluarga biasanya muncul karena anak melawan perintah atau kurangnya perhatian dari pasangan. Sedangkan bagi anak-anak, konflik biasanya muncul karena orangtua menghalangi mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan (Carpenter & Halberstadt, 2000).

Konflik keluarga bisa bersumber dari eksternal maupun internal (Segrin & Flora, 2005). Contoh, suami yang kehilangan pekerjaan (eksternal), dapat memberikan tekanan pada keluarga karena berkurangnya sumber pemasukan. Konflik yang dapat terjadi bisa seputar mengatur ulang keuangan, membentuk kebiasaan belanja yang baru, dll. Contoh masalah yang muncul karena sumber internal adalah pertengkaran saudara atau masalah dalam pengasuhan. Tidak hanya masalah yang berhubungan dengan keluarga, masalah pribadi juga bisa menjadi pemicu adanya konflik dalam keluarga. Contoh, anak yang putus dengan pacar dan menyebabkan adanya perubahan perilaku dalam keluarga. DeFrain mengatakan bahwa kebanyakan masalah yang kita alami secara pribadi akan kita bawa kembali (berdampak) ke keluarga.

Ada dua tipe konflik keluarga. Yang pertama adalah solvable conflict (konflik yang dapat diselesaikan), dan yang kedua adalah perpetual conflict (konflik yang berlangsung lama).

  • Solvable conflict
    Solvable conflict adalah konflik keluarga jangka pendek yang akar permasalahannya mudah ditemukan dan diselesaikan. Beberapa contoh solvable conflict adalah konflik memilih destinasi liburan, film yang akan ditonton, pemilihan warna tembok yang cocok untuk rumah, dll. Pada satu titik, perbedaan pendapat dalam solvable conflict akan hilang dan keluarga akan menyatukan suara.
  • Perpetual conflict
    Perpetual conflict adalah konflik keluarga jangka panjang yang bisa jadi akan bertahan selamanya. Akar pemicu Perpetual conflict bersifat lebih dalam dan pribadi untuk individu. Contohnya sepert perbedaan nilai, kepribadian, budaya, kepercayaan yang dianut, dll. Biasanya, Perpetual conflict akan muncul terus menerus dalam beberapa situasi yang berbeda. Contoh, anak kita adalah pribadi yang introvert. Maka kita sebagai orang tua tentu perlu berupaya, mungkin juga berargumen, untuk membuatnya ikut terlibat dalam kegiatan keluarga bersama besar. Masalah ini akan muncul lagi ketika kita berusaha mengambil foto mereka untuk diletakkan di media sosial kita.

Manfaat konflik dalam keluarga

Meskipun mengalami konflik dalam keluarga bukanlah hal yang nyaman untuk semua orang, tidak semua konflik memberikan dampak negatif (Segrin & Flora, 2005). Bahkan beberapa mungkin akan mengatakan bahwa konflik memang diperlukan agar hubungan bisa berkembang.

  • Mendorong pertumbuhan otonomi anak
    Konflik biasanya terjadi karena karena ada dua atau lebih pihak yang memiliki perbedaan pendapat. Bagi anak-anak diusia remaja, konflik dapat membantu pembentukan otonomi mereka. Mereka belajar bahwa mereka bisa memiliki perasaan ataupun keinginan yang berbeda dengan orangtua. Hal ini juga akan membantu orangtua dalam proses melepaskan anak mereka ke dunia luar (seperti membiarkan anak mengambil studi ke luar negeri atau melepaskan anak untuk menikah). Baik anak dan orangtua dapat sama-sama belajar bahwa meskipun mereka terikat dalam relasi keluarga, mereka juga adalah individu yang berbeda satu sama lain.

    Tapi perlu diingat bahwa membantu pembentukan otonomi melalui konflik membutuhkan dukungan dan pengasuhan yang sehat dari orangtua. Terkadang, dalam proses anak menyampaikan pendapat mereka, kita sebagai orangtua dengan mudah mematahkan atau menganggap remeh. Tidak jarang juga kita memaksakan kehendak kita kepada mereka tanpa mereka memahami alasannya. Hal ini malah membuat anak bertumbuh tanpa otonomi, cenderung kesulitan memimpin diri sendiri, dan tertutup.
  • Mendorong munculnya keterbukaan dan penerimaan dalam relasi
    Segrin dan Flora (2005) mengatakkan bahwa konflik membantu seseorang untuk mengetahui preferensi, nilai, dan impian pasangan mereka dalam situasi tertentu. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Noller & Feeney (2002) juga menunjukan bahwa konflik dengan istri berhubungan dengan kepuasan pernikahan suami beberapa tahun kemudian. Hal ini menunjukan bahwa konflik, di titik tertentu, memberikan benefit bagi relasi suami istri.
Referensi
  • Carpenter, S., & Halberstadt, A. G. (2000). Mothers’ reports of events causing anger differ across family relationships. Social Development, 9, 458-477.
  • Segrin, C., & Flora, J. (2011). Family communication. Routledge.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Business photo created by bearfotos – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed