Konflik Antara Pekerjaan dan Keluarga ? Mari Kita Kenali

Seringkali sebagai manusia kita hidup tidak hanya memiliki satu peran saja. Namun banyak peran yang melekat pada diri kita dalam satu kali waktu. Perbedaan peran yang dialami tidak hanya untuk satu gender tertentu, namun untuk semua gender baik itu pria maupun Wanita. Berbagai macam peran sebagai karyawan, ibu, bapak, anak, aktifis organisasi, teman, dan masih banyak lagi peran yang melekat pada diri individu. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, manusia pada umumnya pasti akan mengalami konflik pada masing-masing hal yang diperankan. Tentu saja terkadang konflik yang terjadi tidak disadari dan membuat individu tersebut menjadi tertekan dan kurang mampu bekerja dengan produktif. Perlu adanya pemahaman terkait konflik yang dialami, mari kita bahas bersama dalam tulisan ini.
Work-family conflict adalah salah satu bentuk dari interrole conflict yaitu tekanan atau ketidakseimbangan peran antara peran di dalam pekerjaan dengan peran di dalam keluarga, Greenhaus & Beutell (1985). Greenhaus & Beutell (1985) mengatakan bentuk gesekan di mana peran tekanan dari pekerjaan dan domain keluarga saling bertentangan dalam beberapa hal, orang akan menghabiskan waktu lebih terlibat dalam peran yang paling penting bagi mereka, sehingga meninggalkan sedikit waktu untuk peran yang lain dan mengakibatkan timbulnya work-family conflict. Peran yang dialami tidak hanya terkait pekerjaan kepada keluarga, namun juga bisa sebaliknya, konflik yang dialami pada keluarga dapat berdampak pada pekerjaan.
Lalu, apa saja macam-macam Work-family conflict yang bisa terjadi?
Greenhaus & Beutell (1985) melengkapi kajian komprehensif mengenai beberapa penelitian tentang work-family conflict. Dalam kajiannya Greenhaus & Beutell (1985) membagi work-family conflict menjadi 3 bagian yang berbeda, yaitu:
- Time-based conflict, yaitu konflik yang terjadi karena waktu yang digunakan untuk memenuhi satu peran tidak dapat digunakan untuk memenuhi peran lainnya, sehingga waktu tersita hanya untuk memenuhi kebutuhan salah satu peran saja. Contohnya ketika seorang ibu harus bekerja lembur di kantor, waktunya tersita sehingga dia tidak bisa menemani anaknya belajar di rumah pada malam hari.
- Strain-based conflict, yaitu konflik yang terjadi karena ketegangan yang dihasilkan oleh salah satu peran membuat seseorang sulit untuk memenuhi tuntutan peran lainnya. Contohnya seorang ayah yang seharian bekerja akan merasa lelah dan segera ingin istirahat, namun di sisi lain dia harus menemani anaknya untuk bermain di rumah, hal ini membuatnya sulit untuk duduk nyaman dan beristirahat untuk melepas penat setelah seharian bekerja.
- Behavior-based conflict, yaitu konflik yang terjadi ketika pengharapan dari suatu peran perilaku berbeda dengan pengharapan dari perilaku peran lainnya. Sebagai contoh, seorang ibu yang merupakan manajer eksekutif diharapkan untuk agresif dan objektif terhadap pekerjaan, sedangkan keluarga memiliki pengharapan perilaku lain terhadapnya. Jika dia tidak mampu memenuhi tuntutan peran di tempat yang berbeda maka akan timbul konflik.
Demikianlah macam-macam work family konflik yang perlu kita kenali. Mari bersama kita kenali kondisi yang terjadi pada diri agar dapat lebih menyeimbangkan kehidupan kita dalam semua peran yang Tuhan sudah percayakan.
Daftar pustaka:
Greenhaus, J.H. & Beutell, N. J. (1985). Sources of conflict between work and family roles.Academy of Management Review, 10 (1), 76-88.
Ditulis oleh: Kuncoro Dewi Rahmawati , S.Psi., M.Psi., Psikolog
Others
- Photovoice: From Introduction to Publication 2026 April 30, 2026
- Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Emosi: Ketika Keluarga Tidak Lagi Terasa “Rumah” April 30, 2026
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025

