“Ma, Kenapa Mama Bisa Hamil?” Membicarakan Seksualitas dengan Anak
Sebagai orang tua, seringkali kita mendapatkan banyak pertanyaan dari anak, terutama ketika anak pada masa kanak-kanak. Hal ini merupakan hal yang wajar karena masa kanak-kanak adalah masa eksplorasi sehingga memunculkan rasa penasaran yang tinggi (Santrock,2011). Sebagai orang tua yang bijak, alangkah baiknya jika kita bisa merespon secara positif dan tidak mengabaikan setiap pertanyaan dari anak kita. Tetapi terkadang, muncul pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab, seperti “Ma, kenapa mama bisa hamil?”, “Dari mana adik muncul?”, “Kenapa punyaku berbeda dengan punya mama/papa?”. Pertanyaan-pertanyaan terkait seksualitas dari anak seringkali membuat kita sebagai orang tua terdiam seribu bahasa karena kebingungan bagaimana menjawabnya. Hal ini akan membuat anak semakin penasaran dan berpotensi kedepannya akan mencari informasi sendiri dimana informasi tersebut bisa jadi kurang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Mengapa kita sebagai orang tua kesulitan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan seksualitas yang dilontarkan oleh anak? Hal ini tidak lain adalah terkait dengan budaya tabu, sehingga menjadi halangan orang tua untuk menyampaikan informasi terkait dengan seksualitas kepada anak. Dilain sisi, orang tua seharusnya bisa menjadi agen sosialisasi pertama yang memiliki pengaruh cukup signifikan terhadap pembentukan persepsi anak sehingga anak mendapatkan informasi yang tepat terkait dengan kesehatan, dalam hal ini kesehatan seksual. Dengan kata lain rumah seharusnya adalah sumber informasi seksual pertama bagi anak (Zakiyah dkk, 2016).
Lalu bagaimana untuk mengatasi kesulitan kita sebagai orang tua untuk menyampaikan informasi terkait dengan seksualitas kepada anak? Hal pertama yang harus dirubah adalah mindset atau cara pandang kita sebagai orang tua terkait dengan seksualitas. Membicarakan seksualitas menjadi sulit bagi orang tua terhadap anak karena seringkali kita memahami seksualitas hanya dari satu aspek , yaitu aspek fisik atau biologis. Bisa dikatakan pemahaman kita terkait seksualitas bisa jadi sempit hanya sebatas masalah “teknis diranjang”. Sebaliknya, seksualitas itu sendiri sebenarnya sangat luas dan terdiri dari berbagai aspek.
Lehmiller (2014) mengungkapkan bahwa untuk memahami seksualitas, kita harus menggunakan paradigm biopsikososial. Secara sederhana, seksualitas bukan hanya terkait dengan masalah fisik tetapi juga terkait dengan aspek sosial dan aspek psikologi. Seperti yang kita ketahui, aspek fisik terkait dengan isu-isu pubertas, hormon, sel-sel reproduksi dan sebagainya. Aspek sosial akan terkait dengan isu-isu budaya, agama, pendidikan, lingkungan dan sebagainya. Selain itu ada juga faktor psikologis yang terkait dengan sikap, emosi, mood, kepribadian dan sebagainya.

Bagaimana penerapannya terhadap pertanyaan anak yang berada dalam masa kanak-kanak? Dengan semakin luasnya pemahaman kita sebagai orang tua terkait dengan seksualitas, kita juga bisa semakin memiliki banyak pilihan jawaban untuk anak dengan menyesuaikan umurnya. Ketika muncul pertanyaan tersebut kita bisa mejawab dari aspek psikologis dulu seperti “Karena Papa dan Mama saling menyayangi”, lalu dilanjutkan dengan aspek sosial seperti “sehingga Papa dan Mama menikah dan bisa hidup bersama”. Bisa jadi anak akan memunculkan pertanyaan baru seperti “Apa itu menikah?”. Ketika pertanyaan ini muncul kita bisa berbicara lebih lanjut seperti “Menikah itu ketika Papa dan Mama saling menyayangi, saling menjaga sehingga kita bisa hidup bersama setelah didoakan di tempat ibadah (misal gereja, masjid dll.). Tanpa disadari, dalam pembicaraan ini kita sebagai orang tua sudah memberikan informas-informasi yang penting seperti penanaman moral, pemahaman tentang relasi, dan norma-norma agama. Ketika anak semakin besar dan pemahaman anak dirasa cukup, semisal berada dalam masa remaja, informasi-informasi yang sifatnya lebih privat bisa disampaikan.
Berikut adalah beberapa tips untuk membicarakan seksualitas kepada anak.
- Lebih baik bicara seks dengan anak anda sedikit-sedikit tapi sering daripada bicara panjang lebar sekaligus. (Memberikan waktu berpikir dan terbiasa)
- Sesuaikan apa yang Anda katakan dengan tingkat pemahaman mereka
- Jika memungkinkan, berbicaralah tentang seks saat topik itu muncul dengan wajar
Semoga bermanfaat!
Referensi
- Lehmiller, J. J. (2014). The psychology of human sexuality . West Susse, UK: Wiley Blackwell.
- Santrock, J. W. (2011). Life-Span development. New York: McGraw-Hill Companies.
- Zakiya, R., Prabandari, Y. S., & Triratnawati, A. (2016). Tabu, hambatan budaya pendidikan seksualitas dini pada anak di kota Dumai. BKM Journal of Community Medicine and Public Health , 32 (9), 323-330.
Ditulis oleh: Ersa Lanang Sanjaya, S.Psi., M.Si.
Sumber gambar: People vector created by freepik – www.freepik.com
Others
- Photovoice: From Introduction to Publication 2026 April 30, 2026
- Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Emosi: Ketika Keluarga Tidak Lagi Terasa “Rumah” April 30, 2026
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025

