Main Gadget Tidak Cukup, Orang Tua Harus Ajarkan Anak Bergerak

Penggunaan gadget pada anak usia dini sering kita temui. Pada saat anak makan, sekolah, atau ketika anak ingin bersenang-senang, aktivitas mereka tidak lepas dari menggunakan gadget. Dengan gadget, anak dapat menonton tontonan edukatif, belajar, hingga bermain game dengan pilihan tidak terbatas.
Dalam penggunaannya, gadget dikenal efektif untuk menyita perhatian anak. Pilihan konten edukasi yang bervariasi membuat mereka belajar dengan cara yang menyenangkan dan fokus pada konten di dalamnya. Gadget juga dapat membantu orang tua untuk mengajar, mengalihkan perhatian, hingga meredakan tantrum anak.
Penggunaan gadget secara tepat akan merangsang perkembangan cognitif anak. Namun, gadget tidak dapat secara maksimal mendukung perkembangan motorik mereka. Motorik merupakan kemampuan anak untuk menggerakan dan mengendalikan tubuh (Ahadin, 2021). Gerakan ini dimulai dari hal-hal yang kecil seperti bermain manik-manik atau menggambar, hingga gerakan besar seperti mengangkat barang atau berlari. Fitur gadget yang sederhana tidak dapat menstimulus anak untuk melakukan gerakan-gerakan tersebut. Terlalu lama menghabiskan waktu di depan gadget akan menumpulkan kemampuan gerak anak.
Kemampuan motorik penting bagi anak. Kemampuan motorik tidak hanya berbicara tentang kemampuan untuk bergerak. Hurlock (1996) menjabarkan beberapa pengaruh perkembangan motorik bagi anak:
- Kemampuan motoring menghibur dan meningkatkan self-esteem anak. Anak senang memiliki keterampian tertentu, dan salah satunya adalah keterampilan fisik yang dapat ia tunjukan. Contoh, kemampuan untuk menangkap atau melempar bola, kemampuan membuat gelang manik-manik, atau kemampuan untuk menggambar dan mewarnai.
- Memiliki kemampuan motorik meningkatkan kemandirian anak. Hal ini kemudian akan berpengaruh pada sense of authonomy anak. Contoh, ketika masih kecil, anak makan dengan disuapi. Semakin bertambah usia, ia belajar untuk makan sendiri. Termasuk mengontrol apa dan seberapa banyak yang ingin ia masukan ke dalam mulutnya.
- Membantu penyesuaian dengan dunia luar. Kemampuan motorik mendorong anak untuk berinteraksi dengan banyak objek dan orang lain di luar dirinya dan keluarga (main bola dengan teman, menggambar taman atau gunung, dll). Gerakan motorik menjadi pintu yang menghubungkan anak dengan lingkungan sekitarnya.
Anak memiliki kemampuan motorik yang terus berkembang seiring bertambahnya usia. Seperti anak berusia 1 tahun akan banyak belajar duduk, merangkak, dan coba berjalan. Hingga usia 2 tahun ia dapat belajar berjalan mundur atau berjalan mengikuti satu garis. Hingga usia 3 tahun, anak belajar untuk menendang bola. Semakin besar usianya, semakin kompleks dan banyak yang dapat anak lakukan.
Gerakan motorik tentu tidak dipelajari sendiri. Gerakan-gerakan ini juga tidak dapat dikuasai tanpa anak mencoba/ melakukannya sendiri. Tanpa simulasi yang baik dari orang tua dan lingkungan sekitar, perkembangan motorik anak bisa terlambat. Perkembangan motorik dapat dipantau menggunakan tes Denver Development Screneeng Test. Melalu test tersebut, orang tua dapat mengetahui perkembangan motorik yang ideal untuk anak di usianya, serta menguji kemampuan anak menggerakan bagian tubuhnya sesuai dengan test yang diberikan.
Referensi
- Ahadin. (2021). Tahapan-tahapan laju perkembangan gerak dan motorik pada anak usia dini. Jurnal Pesona Dasar, 9(2), 32-39
- Hurlock B, Elizabeth. (1996). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Football photo created by pch.vector – www.freepik.com
Others
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025
- Helping Clients Heal from Father Wounds July 16, 2025
- Bisa romantis tapi gak kompak ngasuh anak? July 3, 2025

