Melatih Daya Juang Anak
Orang tua seringkali tidak tega ketika melihat anaknya mengalami kesukaran atau kegagalan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Sebagai contoh, ketika anak belajar untuk naik sepeda lalu tiba-tibah jatuh dan sang anak menangis dengan keras karena harus menahan rasa sakit pada kakinya, lalu orang tua menjadi tidak tega dan tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba naik sepeda lagi. Orang tua sangat menyayangi anak hingga tidak dapat membiarkan mereka merasakan sakit namun di sisi lain hal ini dapat berdampak terhadap daya juang anak untuk mengatasi tantangan yang sukar dalam kehidupannya. Daya juang ini terkait dengan konsep adversity quotient, yang artinya kemampuan untuk bertahan dalam menghadapi kesulitan, kegagalan, hambatan, tantangan sekaligus mengubah kesulitan atau kegagalan tersebut menjadi peluang untuk meraih keberhasilan (Stoltz, 2007).
Terdapat 3 tipe anak berdasarkan tingkat adversity quotient yang dimilikinya (Stoltz, 2007) :
- Tipe Quitters
Anak cenderung memilih untuk keluar, menghindari kewajiban dan mundur dari usahanya bahkan berhenti untuk melanjutkan upayanya ketika menemui suatu kesukaran atau tantangan hidup yang sulit
- Tipe Campers
Anak cenderung mudah merasa puas dengan hasil yang sudah dicapainya dan kurang termotivasi bahkan berhenti melanjutkan upaya untuk mendapatkan perolehan hasil yang lebih baik daripada yang didapatkan sekarang
- Tipe Climbers
Anak dengan keberaniannya menghadapi segala resiko, hambatan, dan masalah yang muncul. Tipe anak ini ketika menemui kesukaran akan berpikir optimis dan tidak mudah menyerah hingga akhirnya membuahkan keberhasilan. Tipe ini yang diharapkan dimiliki oleh semua anak
Tipe climbers adalah tipe yang diharapkan bisa dimiliki oleh anak. Namun terkadang peran orang tua seringkali bisa menghambat anak untuk menjadi tipe climbers. Apa saja peran-peran orang tua yang bisa menghambat daya juang anak :
- Orang tua tidak rela melihat anak menerima resiko atas perbuatannya
- Orang tua memberikan bantuan terlalu cepat bagi anak sehingga anak menjadi kurang mandiri dan kurang kuat untuk bertahan dalam situasi yang sulit
- Orang tua memberikan reward atau pujian yang terlalu berlebihan sehingga anak tidak bisa membedakan mana perbuatan yang benar dan yang salah
Apa yang perlu dilakukan oleh orang tua untuk dapat melatih adversity quotient atau daya juang pada anak :
- Orang tua perlu mengetahui dan memahami ketakutan/masalah anak
- Biarkan anak mengambil perannya dalam menghadapi kegagalan/masalah
- Tekankan kepada anak ketika mengalami kegagalan : “gagal adalah hal yang wajar, pelajari penyebab gagalnya, dan coba lagi”
- Tekankan kepada anak bahwa belajar adalah proses yang aktif dan dinamis sehingga kegagalan adalah hal yang pasti terjadi dan bisa diperbaiki
- Menjalin hubungan yang baik dengan anak dan anak tetap menjadi prioritas
Referensi
- Stoltz, P.G., (2007). Adversity Quotient (Ed. ke-7). Jakarta : PT. Gramedia Indonesia.
Ditulis oleh: Stefani Virlia, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Sumber gambar: Green photo created by freepik – www.freepik.com
Others
- Photovoice: From Introduction to Publication 2026 April 30, 2026
- Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Emosi: Ketika Keluarga Tidak Lagi Terasa “Rumah” April 30, 2026
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025

