Memarahi Anak Tanpa Melukai Mereka

Mengekspresikan kemarahan bukanlah hal baru dalam interaksi orangtua dan anak. Banyak orang tua menggunakan kemarahan sebagai metode untuk mendisiplinkan anak. Kemarahan dianggap sebagai hukuman dari perilaku bermasalah yang dilakukan oleh anak agar anak tidak mengulanginya lagi. Meskipun terlihat efektif, beberapa penelitian menemukan bahwa kemarahan orangtua adalah seperti pedang bermata dua (e.g Del Vecchio et al., 2017; Rodriguez & Green, 1997; Sedlar & Hansen, 2001; Whiteman, Fanshel, & Grundy, 1987). Kemarahan yang ditunjukan oleh orang tua memang dapat mendidik, namun juga berpotensi untuk melukai anak secara fisik dan mental meskipun saat orangtua tidak bermaksud demikian.

Dalam prakteknya, memarahi anak merupakan pengalaman yang kompleks akibat dari adanya perilaku yang dirasa bermasalah dan tingkat stress yang tinggi—bisa karena perilaku anak tersebut, tuntutan pekerjaan, masalah dalam relasi dengan pasangan, dll. Kondisi dimana orangtua sangat marah pada anak dapat mengurangi rasa empati dan sensitivitas orangtua pada apa yang anak butuhkan secara fisik dan mental, yang kemudian menjadikan interaksi ini tidak konstruktif untuk pertumbuhan anak.  Terkadang, setelah memarahi anak, orangtua dirundung rasa bersalah karena tidak dapat mengontrol emosi mereka.

Lalu, bagaimana agar saat mengekspresikan kemarahan untuk mendidik anak, orangtua dapat mengurangi resiko potensi melakukan kekerasan fisik maupun verbal? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Whiteman, Fanshel dan Grundy (1987) menemukan bahwa resiko kemarahan yang mengarah pada kekerasan anak dapat dikurangi dengan melatih 3 jenis coping style di bawah ini:

  • Mengurangi makna negatif dari situasi yang menekan
    Pada saat sedang dalam kondisi marah, individu bisa kehilangan objektivitas dalam melihat permasalahan yang terjadi. Hal ini tentu mempengaruhi bagaimana individu akan mengekspresikan kemarahannya. Saat mulai marah, orangtua perlu melatih diri untuk berpikir bahwa apa yang anak lakukan bisa saja adalah hasil dari hal-hal yang tidak dapat mereka control. Oleh sebab itu, melihat perilaku anak yang dirasa mengganggu sebagai bagian dari perkembangan,  bentuk dari rasa frustasi, rasa lapar, rasa sakit yang tidak terlihat, dll dapat mengurangi rasa marah yang dirasakan oleh orangtua. Perspektif ini akan mendorong orangtua untuk menggali dan menemukan permasalahan yang sebenarnya.

    Sebagai contoh, saat anak merengek meminta mainan, orang tua perlu belajar untuk melihat bahwa perilaku tersebut muncul karena anak merasa tidak nyaman, atau sedih, saat ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Dalam hal ini, alih-alih melihat perilaku anak sebagai sesuatu yang sengaja dilakukan untuk merepotkan dirinya, orangtua dapat mengajari anak bahwa tidak semua hal yang ia inginkan dapat langsung diberikan.
  • Melatih teknik relaksasi
    Untuk mencegah adanya ekspresi kemarahan yang membabi buta, orangtua dapat melatih teknik untuk berelaksasi. Ketika orangtua menyadari bahwa emosinya mulai meningkat, orangtua dapat mengambil waktu untuk tenang terlebih dahulu sebelum memberikan konsekuensi dari perilaku bermasalah anak. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya perkataan atau perilaku yang impulsif saat marah. Dengan berelaksasi, orangtua dapat menjernihkan pikiran dan mengurangi resiko kehilangan kontrol diri dan menyakiti anak.
  • Mengarahkan energi untuk menyelesaikan akar masalah
    Saat anak menunjukan perilaku yang memprovokasi, menghentikan perilaku tersebut sering kali dirasa akan menyelesaikan masalah.  Contohnya saat anak menangis. Membentak hingga anak diam bisa saja dilihat sebagai metode yang paling efektif. Atau ketika anak memecahkan barang dengan sengaja, memukulnya dan membuatnya berjanji untuk tidak mengulangi dirasa dapat membuat mereka jera. Ketika orangtua menggunakan kemarahan hanya untuk menghentikan perilaku bermasalah yang saat itu dilakukan, amarah tersebut tidak konstruktif dan akan cenderung melukai anak.

    Dalam hal ini, memusatkan energi untuk menyelesaikan akar permasalahan meliputi: 1) menspesifikkan permasalahan, menggali apa yang terjadi pada anak untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai penyebab perilaku bermasalah; 2) menimbang pro kontra dari respon yang akan diberikan pada anak, dan mencoba alternative yang paling efektif untuk menyelesaikan sumber permasalahan. Kembali pada contoh anak yang sengaja memecahkan barang. Perilaku memecahkan barang bisa dikarenakan sifat anak yang memang kurang ajar. Namun itu bukanlah faktor satu-satunya. Bisa saja anak merasa kesepian dan ia berpikir bahwa dengan memecahkan barang ia akan mendapatkan perhatian dari orangtuanya. Oleh sebab itu, penyelesaiannya bisa dengan orangtua mengatur waktu untuk beraktivitas bersama anak. Dengan mengetahui sumber permasalahan, orangtua dapat memberikan konsekuensi pada perilaku dan juga sekaligus menentukan langkah-langkah bijak yang konstruktif.

Pada beberapa kasus, anak bisa jadi diasuh oleh lebih dari satu pihak, seperti orangtua, kakek-nenek, dan pengasuh secara bergantian di masa perkembangan yang sama. Namun akan menjadi membingungkan bagi anak jika pihak-pihak yang mengasuhnya memiliki standar yang berbeda dalam menoleransi perilaku bermasalah serta tidak konsisten dalam mengekspresikannya. Saat anak dimarahi dengan cara yang berbeda untuk perilaku yang sama, anak dapat menumbuhkan rasa tidak suka pihak yang membuatnya merasa lebih tidak nyaman, atau menutupi perilakunya pada pihak-pihak tertentu. Sebagai contoh, saat anak dimarahi oleh orangtua karena makan terlalu banyak permen, namun perilaku ini dibiarkan oleh neneknya, maka akan ia akan makan banyak permen saat bersama nenek dan menutupi hal ini dari orangtuanya. Kesamaan standar perlakuan dan visi untuk membangun pribadi anak ke arah yang lebih positif menjadi penting

Referensi
  • Del Vecchio, T., Jablonka, O., DiGiuseppe, R., Notti, J., & David, O. (2017). Psychometric evaluation of the parent anger scale. Journal of Child and Family Studies, 26(11), 3013-3025.
  • Rodriguez, C. M., & Green, A. J. (1997). Parenting stress and anger expression as predictors of child abuse potential. Child abuse & neglect, 21(4), 367-377.
  • Sedlar, G., & Hansen, D. J. (2001). Anger, child behavior, and family distress: Further evaluation of the parental anger inventory. Journal of Family Violence, 16(4), 361-373.
  • Whiteman, M., Fanshel, D., & Grundy, J. F. (1987). Cognitive-behavioral interventions aimed at anger of parents at risk of child abuse. Social Work, 32(6), 469-474.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
House photo created by peoplecreations – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed