Membangun Resiliensi Keluarga Di Tengah Masalah Keuangan

Masalah keuangan tentunya bukan merupakan suatu hal yang asing dalam kehidupan keluarga. Banyak keluarga di luar sana yang sedang menghadapi masalah keuangan dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Masalah keuangan dapat datang dari banyak sumber, seperti kurangnya lowongan kerja, kejadian-kejadian seperti PHK dan sejenisnya, ataupun kebutuhan keluarga yang lebih besar dari penghasilannya, terutama dalam keluarga dengan jumlah yang besar atau keluarga yang memiliki kebutuhan-kebutuhan khusus. Banyak keluarga yang khawatir tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya akibat kekurangan uang. Tentunya, masalah keuangan adalah salah satu sumber tekanan terbesar bagi keluarga yang tengah menghadapinya. Selain membawa stress, berbagai penelitian juga sudah menemukan bahwa masalah keuangan membuat keluarga lebih sering saling berkonflik, bertindak dengan kasar satu sama lain, hingga dapat menyebabkan pecahnya keluarga yakni perceraian.

Meskipun begitu, tidak semua keluarga dengan masalah keuangan kemudian menjadi tidak harmonis dan rawan konflik. Ada keluarga-keluarga yang dapat melewati masa-masa ini dan masih dapat memiliki hubungan yang harmonis satu sama lain. Kuncinya adalah resiliensi keluarga.

Apa Itu Resiliensi Keluarga?

Resiliensi keluarga merupakan kemampuan keluarga untuk dapat beradaptasi secara positif melalui suatu masa krisis, seperti masalah keuangan. Keluarga yang resilien mampu untuk mempertahankan fungsi dan keharmonisannya melalui suatu masa sulit. Jadi, meskipun keluarga mengalami masalah keuangan yang membuat keluarga rentan terhadap konflik dan stress, keluarga yang resilien mampu membina dirinya sendiri untuk tetap memiliki cara pandang, hubungan, dan interaksi yang positif yang dapat menjadi sumber kelegaan ditengah masalah tersebut.

Cara Meningkatkan Resiliensi Keluarga Di Tengah Masalah Keuangan

Jadi, bagaimana cara suatu keluarga dapat meningkatkan resiliensi di tengah masalah keuangan?

  1. Melakukan diskusi keluarga terkait keuangan

Keluarga yang bersama-sama dapat mendiskusikan masalah secara terbuka, serta dapat berkolaborasi atau bekerja sama dalam menyelesaikan masalah tersebut merupakan keluarga yang resilien dan memiliki kemungkinan lebih besar untuk bisa bertahan dengan baik melewati masalah tersebut. Maka dari itu, keluarga disarankan untuk melakukan diskusi terkait permasalahan keuangan guna memahami situasi yang ada dan perencanaan jalan keluar. Terutama jika semua anggota keluarga sudah remaja atau dewasa, akan lebih mudah untuk melakukan diskusi terbuka mengenai kondisi keuangan keluarga dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mencoba meringankan beban keuangan yang dimiliki keluarga.

  • Mendekatkan diri dengan Tuhan

Berbagai penelitian menemukan bahwa kemampuan resiliensi dalam keluarga dapat diperkuat dengan kedekatan dengan Tuhan. Dengan adanya hubungan yang dekat dengan Tuhan, keluarga dapat mengambil sumber kekuatan dan penilaian ulang yang positif darinya. Maka dari itu, keluarga disarankan untuk pergi ke rumah ibadah secara rutin, melakukan ibadah atau renungan bersama dengan keluarga di rumah sendiri, dan membuat kebiasaan berdoa dan menyucap syukur kepada Tuhan.

  • Menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga

Hubungan antar keluarga tentunya penting dalam resiliensi keluarga. Keluarga tidak bisa mengatasi suatu masalah jika tidak dapat bekerja sama dan saling mendukung, baik secara riil atau secara emosional. Maka dari itu, membangun hubungan yang baik antara anggota keluarga penting bagi resiliensinya. Keluarga disarankan untuk menghabiskan waktu berkualitas dengan satu sama lain, seperti pergi menonton film di bioskop bersama-sama, bermain permainan bersama, dan lain sebagainya. Hal ini akan mendorong kedekatan dan interaksi yang positif di dalam keluarga, yang juga dapat menjadi sumber hiburan di tengah kesulitan.

  • Journaling

Menulis jurnal juga bermanfaat bagi peningkatan resiliensi. Hal ini dikarenakan journaling dapat membangun kebiasaan bersyukur. Hal ini juga membuat keluarga yang menulis jurnal memiliki pandangan atau perspektif yang lebih luas mengenai tantangan-tantangan yang dihadapinya. Keluarga dapat membangun kebiasaan journaling secara bersama-sama. Jurnal dapat berisi hal-hal seperti cerita-cerita atau refleksi akan kejadian yang terjadi pada hari tertentu, hal-hal yang bisa diapresiasi pada hari itu, dan lain sebagainya.

Sumber:

Greenwood, J., Guner, N., & Vandenbroucke, G. (2017). Family economics writ large. Journal of Economic Literature, 55(4), 1346-1434. https://doi.org/10.1257/jel.20161287

Walsh, F. (2021). Family resilience: A dynamic systemic framework. Dalam Ungar, M. (Ed.), Multisystemic resilience: Adaptation and transformation in contexts of change (pp. 255-270). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oso/9780190095888.003.0015

Penulis: Tifara Levi, Marissa Gabriele Hadibroto, Jessica Natalie Cheriselyn, Jesslyn Kelly Tjan, Gabrielle Christine.

Sumber Gambar: https://unsplash.com/photos/M8z2SwSwpbg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed