Mendampingi Orangtua di Masa Tua

Di Indonesia, hubungan dengan orangtua masih sangatlah penting meskipun kita sudah membangun keluarga sendiri. Saat di perayaan hari-hari besar seperti Idul Fitri atau pun Tahun Baru Cina, keluarga-keluarga di Indonesia pulang ke kampung halaman untuk bersilaturahmi atau memberikan penghormatan kepada orangtua. Dalam keseharian, kita juga masih sering mengunjungi, menelpon, menitipkan anak kita, atau bahkan tinggal serumah dengan orangtua kita. 

Sebagai orang tua, kita mungkin terbiasa untuk belajar memahami anak. Bahkan, kita dapat dengan mudah berbagi pengalaman masa muda kita saat anak kita sedang mengalami hal yang serupa. Namun, berbeda halnya saat kita sedang menjadi anak dan berusaha memahami orangtua kita yang saat ini sudah memasuki masa tua mereka. Kita mengasihi mereka, tapi terkadang kita juga kesulitan memahami keputusan atau memberikan arahan untuk mereka. Kita bisa saja merasa mereka terlalu ikut campur, tidak bisa di tegur, keras kepala dan banyak hal lainnya. Karena kita belum pernah berada dalam posisi mereka, berusaha memahami apa yang orangtua kita pikirkan, rasakan, dan butuhkan memiliki tantangannya sendiri.

Sama seperti adanya perubahan pola perilaku dan pikir dari masa anak-anak hingga dewasa, individu yang telah lanjut usia juga mengalami perubahan yang membuat kita perlu belajar mengenal mereka lagi. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk mengambil waktu dan berusaha memahami orangtua agar kita dapat menjadi pendamping yang efektif di masa tua mereka. Menurut Erikson (dalam Santrock, 2011), masa dewasa akhir (lanjut usia) adalah masa-masa dimana individu menilai dan menginterpretasi kehidupan yang sudah ia jalani selama ini. Penilaian ini dapat meliputi relasi dengan orang lain dan keluarga, atau juga pada pencapaian dan pemaknaan hidup. 

Orangtua kita akan mengevaluasi kehidupan dengan merefleksikan hal-hal yang sudah terjadi menggunakan perspektif mereka di masa tua. Hal-hal yang dulu membuat mereka kecewa bisa dinilai sebagai pelajaran yang berharga di masa tua mereka, dan begitu juga sebaliknya. Jika individu menilai bahwa keseluruhan hidupnya telah dihidupi dengan baik, maka individu akan puas. Demikian juga, jika individu merasa bahwa ia tidak menjalani kehidupan yang baik, maka ia akan cenderung hidup dengan perasaan menyesal.

Penilaian yang seseorang berikan atas hidupnya bisa mempengaruhi perilaku mereka sehari-hari. Ketika individu yang telah lanjut usia cenderung menyesal, maka ia akan berusaha agar generasi lebih muda yang ia kasihi tidak merasakan penyesalan tersebut. Contoh, ketika ada orangtua yang menyesal tidak mampu menyekolahkan anaknya hingga tuntas perguruan tinggi, maka mereka akan cenderung memaksakan agar cucu mereka bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik. 

Memang benar bahwa setiap penilaian, baik positif maupun negatif, berpotensi untuk menjadi motivasi. Penilaian negatif terkadang bisa menjadi alarm yang membangunkan kita untuk berubah. Namun ketika kita berbicara mengenai orangtua yang telah lanjut usia, mengubah penilaian tersebut menjadi motivasi tidaklah mudah. Hal ini bisa dikarenakan mereka mempertimbangkan energi, waktu, daya tahan, kesehatan, dan banyak hal lain yang kini menjadi lebih terbatas.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka?

  • Ajak mereka untuk dekat dengan keluarga
    Individu yang lanjut usia cenderung mengurangi relasi sosial dan memilih untuk dekat dengan keluarga atau teman baik mereka. Hal ini dikarenakan orang-orang terdekat dirasa akan memberikan pengalaman yang positif. Oleh sebab itu, ketika orangtua kita ingin menghabiskan waktu bersama cucu ataupun keluarga besar, kita dapat mendukung mereka dengan memfasilitasi interaksi tersebut. Tidak hanya itu, kita juga bisa sering berkunjung, mengirimkan foto, atau mengajak mereka untuk jalan-jalan. Kebersamaan bersama keluarga dinilai lebih menyenangkan dibandingkan bersama teman-teman seusia mereka.
  • Ajak mereka untuk melakukan hal-hal yang bisa mereka lakukan
    Untuk meningkatkan rasa percaya diri orangtua kita, kita perlu mendorong mereka untuk melakukan apa yang mereka bisa. Dengan demikian, mereka akan merasa telah mencapai sesuatu yang berarti. Contoh sederhananya adalah memasak, atau mengajari generasi muda bermain catur. Berikan pujian yang sesuai dan berinisiatif lah untuk meminta mereka berkontribusi berdasarkan area yang memang mereka kuasai. Hal ini akan membantu mereka untuk melihat pada apa yang bisa mereka lakukan—daripada apa yang tidak bisa mereka lakukan di usia tua mereka, dan meningkatkan rasa keberhargaan.
  • Patahkan stigma-stigma negatif mengenai mereka
    Terkadang kita memiliki stigma-stigma negatif yang kita berikan untuk orangtua kita. Sebagai contoh, meminta orangtua kita yang suka memasak untuk tidak memasak karena kita khawatir dengan kesehatan mereka. Hal ini dapat memadamkan semangat mereka. Mereka jadi fokus pada bagaimana mereka tidak sesehat dulu, atau tidak semampu dulu untuk memasak. Pada tahap yang ekstrim, mereka akan merasa tidak berdaya karena sering kali alasan yang kita berikan adalah alasan-alasan yang tidak dapat mereka kontrol. Oleh sebab itu, ketika kita merasa bahwa ada beberapa hal yang memang benar tidak sebaiknya mereka kerjakan, ajaklah mereka untuk melihat resiko jangka panjang, dan yakinkan mereka bahwa ada hal lain yang dapat mereka lakukan untuk berkontribusi dalam keluarga. 
Referensi
  • Santrock, J. W. (2011). Life-Span Development (13th Ed.). McGraw Hill: New York.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: People photo created by pressfoto – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed