Mengekspresikan Cinta dengan 5 Bahasa Cinta
Pernahkah Anda mendengar tentang 5 bahasa cinta? Ternyata, selain memiliki kepribadian yang berbeda-beda, individu juga memiliki bahasa cinta yang berbeda. Bahasa cinta adalah bahasa yang kita gunakan untuk merasakan dan mengekspresikan cinta dari orang-orang di sekitar kita. Bisa jadi, kita lebih mudah merasakan cinta ketika mereka membuatkan teh dihari kerja yang suntuk daripada ketika mereka memberikan hadiah.
Ketika kita berinteraksi dengan pasangan atau anak kita, bisa jadi ada beberapa momen dimana kita merasa mereka tidak menghargai bentuk kasih sayang yang kita berikan. Ada kalanya, mereka juga merasa demikian terhadap kita. Mengetahui bahasa cinta yang kita dan keluarga kita gunakan akan membantu kita menjadi lebih strategis dalam membangun hubungan yang intim.
“Objek dari cinta bukanlah mendapatkan apa yang kamu mau, tapi melakukan sesuatu untuk kesejahteraan orang-orang yang kamu cintai. Faktanya, ketika kita mendapat pujian, kita menerima dan cenderung tidak membalas”
– Gary Chapman
- Word of Affirmation
Mari kita berhenti sejenak dan mengingat kembali: kapan terakhir kita memuji pasangan atau anak kita?
Bagi individu dengan bahasa cinta word of affirmation, pujian adalah media yang kuat untuk menyampaikan ekspresi cinta kita. Pujian tidak harus yang berlebihan Pada dasarnya, pujian lahir dari kita menyatakan hal positif yang pasangan/ anak kita lakukan atau miliki.
“Terima kasih sudah membantuku mencuci piring” atau “Potongan rambutmu terlihat keren”
Pujian juga membantu kita menunjukan bahwa kita menghargai apa yang mereka lakukan untuk kita. Ketika pasangan kita benar-benar memikirkan baju apa yang akan digunakan untuk kencan, ketika anak kita menggambar untuk kita, ketika mereka mengambilkan minuman saat kita bekerja. Kita selalu bisa mengapresiasi dan menunjukan bahwa kita menyadari usaha mereka. Termasuk hal-hal kecil yang menurut kita seharusnya menjadi kewajiban atau “sudah seharusnya” mereka lakukan.
Words of affirmation juga membahas tentang kata-kata yang menguatkan. Terkadang, dalam menghadapi masa krisis, pasangan atau anak kita perlu mengetahui bahwa kita ada bersama mereka dan bahwa kita percaya mereka bisa melewatinya. Kata-kata menguatkan ini akan memberikan suntikan kepercayaan diri dan meningkatkan self-esteem.
Contoh. Ketika pasangan kita mengatakan bahwa ia mau rutin berolahraga dan mengikuti program diet. Ktia memiliki kesempatan untuk menguatkan mereka dengan mengatakan “Ayo, kamu pasti bisa. Aku mendukungmu! Aku bisa membantu mengingatkan setiap hari untuk olahraga”. Tapi di satu sisi, kita juga memiliki kesempatan yang sama untuk mengatakan “Olahraga rutin? Kamu mana ada waktu untuk itu?”
Dalam setiap kesempatan, gunakanlah kesempatan untuk memuji dan menguatkan dengan baik. Meskipun kadang kita merasa bahwa kita bercanda, dan bisa jadi pasangan atau anak kita kita bukanlah orang yang mudah tersinggung, pastikan kita menggunakan kata-kata yang mengekspresikan cinta. Bahkan saat kita merasa marah, sedih atau pun kecewa. Keluarkanlah kata-kata yang menunjukan kemarahan tanpa menghilangkan fakta bahwa kita masih mencintai mereka.
- Quality time
Beberapa individu merasakan cinta dari quality time. Quality time tidak hanya berbicara tentang berada pada ruangan yang sama atau berada berdekatan. Menghabiskan quality time berarti kita terlibat dalam aktivitas yang dinikmati bersama. Kata kuncinya adalah: bersama.
Sering kali saat kita ingin menghabiskan quality time dengan pasangan atau anak, kita malah berakhir dengan kesal atau kecewa ketika mereka tidak memberikan respon yang kita harapkan.
Contoh, kita sudah susah payah merencanakan “kencan” yang sempurna, tapi pasangan kita malah berharap menghabiskan waktu di rumah. Atau ketika kita sudah bersemangat untuk menghabiskan liburan di Bali bersama anak-anak kita, ternyata mereka lebih memilih bermain game di rumah.
Quality time adalah kesepakatan. Kita tidak bisa memaksakan apa yang kita inginkan kepada pasangan atau anak kita. Jika bahasa cinta mereka adalah quality time, kita sangat perlu meminta pendapat mereka.
Aktivitas apa yang menyenangkan untuk mereka?
Apa yang saat ini sedang ingin mereka lakukan?
Bisa kah kita menikmati aktivitas tersebut bersama mereka?
Ingat, relasi dengan orang lain bukan tentang apa yang kita nikmati saja. Tapi juga soal apa yang pasangan dan anak kita nikmati.
- Receiving gift
Hadiah juga bisa menjadi media untuk mengekspresikan cinta. Dengan memberikan hadiah, kita secara tidak langsung mengatakan bahwa kita mengingat pasangan atau anak kita. Hadiah adalah bukti bahwa kita memikirkan mereka.
Hadiah tidak harus selalu yang mahal atau hanya diberikan saat hadi besar. Hadiah bisa saja menjadi kejutan kecil seperti melihat makanan kesukaan pasangan atau anak kita dan membelikannya untuk mereka dalam perjalanan pulang. Atau ketika kita melihat penjual bunga dan tiba-tiba ingin memberikannya untuk mereka.
Bagi mereka yang bahasa kasihnya didominasi oleh bahasa ini, mereka bisa menemukan dan melihat makna di balik setiap pemberian. Namun kembali lagi, karena bahasa cinta setiap orang berbeda-beda, bisa jadi menghabiskan waktu bermain catur akan lebih manisdaripada hadiah berupa serangkai bunga di hari jadi.
- Act of service
Apa yang kita rasakan ketika melihat suami kita membantu menjemur baju, atau istri membantu saat kita membetulkan pipa? Apa yang pasangan kita rasakan ketika kita membawakannya kopi atau teh saat mereka sibuk bekerja? Bahasa cinta act of service berbicara tentang hal-hal kecil yang kita lakukan karena kita tahu mereka akan senang jika kita melakukannya. Kita berusaha menyenangkan pasangan atau anak kita dengan melakukan sesuatu untuk mereka.
- Physical touch
Sentuhan adalah bahasa cinta yang lain. Untuk beberapa orang, sentuhan seperti pelukan, berpegangan tangan, sentuhan di kepala, memberikan kehangatan dan perasaan dicintai. Ada rasa aman yang diberikan ketika kita melakukannya.
Bahasa cinta ini sangat natural bagi anak-anak ketika mereka masih kecil. Kurangnya sentuhan fisik anak dengan orangtua membuat jarak dalam relasi. Demikian juga ketika kita bersama dengan pasangan.
Referensi
Chapman, G. D. (2015). The five love languages: The secret to love that lasts. Northfield Publishing.
Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: People photo created by wayhomestudio – www.freepik.com
Others
- Photovoice: From Introduction to Publication 2026 April 30, 2026
- Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Emosi: Ketika Keluarga Tidak Lagi Terasa “Rumah” April 30, 2026
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025

