Mengenal Baby Blues dan Cara Mengatasinya

Memiliki anak merupakan peristiwa yang sangat besar bagi kehidupan seorang wanita. Kehadiran seorang anak pada satu sisi merupakan momen yang membahagiakan namun disisi lain merupakan transisis kehidupan yang menegangkan. Dalam prosesnya jika seorang ibu merasa tidak nyaman dapat meyebabkan stress yang disebut baby blues (Ningrum, 2017)
Menurut Shinaga 70% ibu akan mengalami baby blues syndrome setelah melahirkan (dalam Machmudah, 2015). Baby blues (postpartum blues) merupakan gangguan mood ringan sementara yang terjadi pada hari pertama sampai hari ke 10 pasca persalinan. Baby blues ditandai dengan emosi yang tidak stabil seperti mudah marah, sedih, cemas, pelupa dan tidak dapat berkonsentrasi (Pillitteri dalam Machmudah, 2015)
Baby blues dapat berkembang menjadi depresi postpartum jika tidak ditangani dengan baik. Menurut riset, 10-15 % wanita melahirkan menderita depresi postpartum. Depresi postpartum dapat sangat membahayakan kesehatan ibu dan bayi (Seyfried & Marcus, 2003). Hal ini disebabkan ibu yang mengalami depresi menjadi tidak peduli pada kebutuhan bayi mulai dari tidak ingin menyusui hingga bisa menyakiti bayinya. Tidak hanya itu ibu akan mulai berpikir untuk menyakiti dirinya sendiri juga (Tolongan, Korompis, & Hutauruk, 2019).
Lantas bagaimana cara mengatasi atau mencegah Baby blues agar tidak berubah menjadi depresi:
Peran Suami
- Memberi perhatian khusus dengan cara membagi tugas dalam merawat anak atau pekerjaan rumah.
- memberi motivasi sekaligus dukungan sehingga istri bisa lebih percaya diri dalam mendalami peran seorang ibu.
Peran istri atau diri
- Mempelajari sekaligus mempersiapkan diri mengenai keadaan pasca melahirkan, sehingga mengenal perubahan yang akan dialami agar lebih mudah beradaptasi dengan kondisi diri serta kehadiran bayi.
- Lebih banyak berkomunikasi dengan cara tidak memendam masalah untuk diri sendiri.
Peran lingkungan/keluarga
- Sebagai sumber informasi, nasehat, ataupun dukungan emosional.
- dapat memberi bantuan langsung dalam bentuk materi (uang, barang, makanan) atau fasilitas.
Tentunya peran menjadi seorang ibu tidak mudah, oleh karena itu bantuan orang terdekat sangat penting terutama pada masa-masa awal pasca melahirkan. Tidak hanya itu persiapan seorang ibu untuk belajar dan menerima bimbingan yang tepat sebelum melahirkan sangat penting sehingga ibu bisa lebih cepat beradaptasi pada peran barunya.
References
- Machmudah. (2015). Gangguan Psikologis pada Ibu Postpartum; Postpartum Blues. Jurnal Keperawatan Maternitas, 3(2), 118-125.
- Ningrum, S. P. (2017). Faktor- Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Postpartum Blues. PSYMPATHIC : Jurnal Ilmiah Psikologi, 4(2), 205-218. doi: 10.15575/psy.v4i2.1589
- Tolongan, C., Korompis, G. E., & Hutauruk, M. (2019). Dukungan Suami Dengan Kejadian Depresi Pasca Melahirkan. e-Journal Keperawatan, 7(2), 1-9.
- Seyfried, L. S., & Marcus, S. M. (2003). Postpartum mood disorder. International Review of Psychiatry(15), 231-242. doi: 10.1080/0954026031000136857
Ditulis oleh: Emre Omar Khaled, Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Ciputra
Sumber gambar: Woman vector created by pch.vector – www.freepik.com
Others
- Photovoice: From Introduction to Publication 2026 April 30, 2026
- Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Emosi: Ketika Keluarga Tidak Lagi Terasa “Rumah” April 30, 2026
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025

