Menjaga Hubungan di tengah Kesibukan Istri yang Berkarir
Menjaga Hubungan di tengah Kesibukan Istri yang Berkarir
Saat ini, bukanlah hal baru bagi seorang istri untuk juga bekerja dan menjadi salah satu sumber pemasukan finansial bagi keluarga. Keinginan istri untuk ikut bekerja bisa muncul karena banyak alasan seperti kebutuhan finansial maupun dorongan untuk berkarir secara pribadi. Terlepas dari alasan untuk bekerja, istri yang berkarir memiliki peran dan tanggung jawab ganda dalam keluarga.
Peran ganda yang dimiliki oleh istri pada dasarnya membuat pernikahannya memiliki tantangan yang berbeda dengan tantangan pernikahan pada keluarga yang tradisional. Olson, DeFrain & Skogrand (2011) mengatakan bahwa jika suami dan istri sama-sama bekerja, perspektif mereka akan pernikahan cenderung bergeser. Hal ini kemudian memicu perubahan kebutuhan dalam pernikahan (Renanita & Setiawan, 2018). Contohnya, ada beberapa istri yang masih tetap bertanggung jawab untuk memasak atau mengatur kebersihan rumah meskipun ia bekerja penuh waktu. Hal ini membuatnya harus mengeluarkan waktu dan tenaga ekstra. Berkurangnya waktu untuk dihabiskan bersama keluarga dan pasangan dapat menyebabkan kerenggangan dalam hubungan. Selain itu, pembagian tanggung jawab dalam pengelolaan keuangan juga akan berubah. Belum lagi, bagi pasangan yang sudah memiliki anak, mereka harus menyusun strategi pengasuhan anak bersama.
Kepuasan dalam pernikahan ditentukan dari evaluasi individu terhadap pernikahan mereka. Hal ini berhubungan dengan apakah kebutuhan personal, ekspektasi, dan keinginan mereka terpuaskan. Istri yang mengambil peran ganda sebagai ibu rumah tangga dan wanita karir memiliki kebutuhan yang berbeda untuk memenuhi kepuasan pernikahan mereka. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Renanita & Setiawan (2018), ada beberapa kunci penting dalam kepuasan pernikahan istri yang menjadi pekerja penuh waktu sekaligus ibu rumah tangga.
- Komunikasi
Komunikasi dinilai sebagai factor yang paling mempengaruhi kepuasan pernikahan istri yang berperan ganda. Komunikasi yang dimaksud tidak hanya mencakup kemampuan menyampaikan pesan, tapi juga termasuk kemampuan untuk mendengarkan perkataan, ide, perasaan, dan juga pendapat. Komunikasi yang baik akan membangun kepercayaan dan keberanian untuk mengekspresikan pemikiran.
Istri yang bekerja menghadapi tantangan dan mengalami hal yang berbeda dengan istri yang tidak bekerja. Komunikasi yang baik memfasilitasi pasangan untuk dapat memahami dan kemudian memenuhi kebutuhan masing-masing dengan efektif.
- Intimasi seksual
Intimasi seksual memiliki peranan penting bagi kepuasan pernikahan istri yang bekerja. Saat seorang istri bekerja dan juga menjadi salah satu sumber pemasukan finansial keluarga, kebutuhan untuk sama-sama dihargai dan tuntutan untuk sama-sama berkomitmen akan muncul. Hal ini juga membuat mereka ingin pasangan untuk menghargai kebutuhan seksual mereka. Level intimasi seksual yang tinggi secara positif mempengaruhi keterikatan romantic dan kepuasan akan pasangan (Dandurand & Lafontaine, 2013).
- Relasi finansial
Permasalahan dalam pernikahan biasanya berhubungan dengan uang (Setiawan, 2017). Namun biasanya, permasalahannya tidak terletak pada uang itu sendiri, namun lebih pada relasi dalam pengelolaan uang sebagai keluarga. Suami dan istri bisa saja memiliki cara pandang yang berbeda mengenai uang, dan memiliki preferensi pengelolaan uang yang berbeda. Mengingat istri yang bekerja juga sebagai salah sumber pemasukan, istri yang bekerja juga ingin pendapat dan cara pendangnya mengenai uang dihargai dan dipertimbangkan. Memahami, mendiskusikan, mempertimbangkan, dan sepakat dalam relasi keuangan akan membantu meningkatkan kepuasan dalam pernikahan.
Referensi
- Renanita, T., & Lukito Setiawan, J. (2018). Marital satisfaction in terms of communication, conflict resolution, sexual intimacy, and financial relations among working and non-working wives. Human Behavior Studies in Asia, 2(1), 12-21.
- Olson, D.H., DeFrain, J., & Skogrand, L. (2011). Marriages and families: Intimacy, diversity, and strengths (7th ed.). NY: McGraw-Hill Higher Education.
- Dandurand, C., & Lafontaine, M.F. (2013). Intimacy and couple satisfaction: The moderating role of romantic attachment. International Journal of Psychological Studies, 5(1), 74-90. doi: 10.5539/ijps.v5n1p74.
- Setiawan, J.L. (2017). Building entrepreneurial children: Mengembangkan karakter entrepreneurial anak melalui kualitas pernikahan orangtua. Surabaya: Penerbit Universitas Ciputra.
Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Others
- Photovoice: From Introduction to Publication 2026 April 30, 2026
- Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Emosi: Ketika Keluarga Tidak Lagi Terasa “Rumah” April 30, 2026
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025

