Menjaga Keharmonisan Keluarga di tengah Pandemik
Menjaga Keharmonisan Keluarga di tengah Pandemik
Seperti yang kita ketahui bersama, virus Corona atau yang dikenal dengan sebutan Covid-19 sudah menyebar hampir di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. Kondisi pandemi global ini menyebabkan berbagai negara harus melakukan lock-down dan memaksa masyarakatnya untuk tetap tinggal di rumah. Hal ini bertujuan agar dapat memutus rantai penyebaran Covid-19. Hanya saja, kondisi untuk tetap tinggal di rumah ini bagi sebagian besar pasangan suami istri menjadi masa krisis untuk mempertahankan pernikahan. Banyak diantaranya yang rentan terhadap stres, depresi, hingga berujung pada konflik dan perseturuan dengan pasangan. Dilansir dari CNN Indonesia (April, 2020), lebih dari 300 pasangan mendaftarkan perceraian sejak 24 Februari lalu di Provinsi Sichuan, China akibat lock down selama masa pandemi. Konflik suami istri dimanifestasikan dalam bentuk pertengkaran, kemarahan, agresi, kebencian, bahkan kekerasan yang apabila tidak segera diatasi maka bisa berdampak terhadap perceraian. Pada dasarnya, konflik suami istri dapat memberikan dampak yang positif atau negatif, tergantung dari bagaimana cara suami istri dapat mengatasi konflik tersebut. Agar konflik semakin tidak berkembang, maka cara yang paling tepat adalah dengan resolusi konflik. Resolusi konflik adalah tindakan menemukan solusi untuk memecahkan konflik.
Menurut Rahim (1995), terdapat 5 gaya dalam mengatasi konflik interpersonal antara suami dan istri, antara lain:
- Gaya integrasi: gaya ini melibatkan perhatian yang tinggi dari masing-masing pihak yang berkonflik sehingga baik suami maupun istri saling memperhatikan kebutuhan dan kepentingan pasangannya. Hal ini menyebabkan satu sama lain mau berkolaborasi (adanya keterbukaan, pertukaran informasi, dan saling instrospeksi diri) untuk mencapai solusi yang dapat diterima oleh kedua belah pihak
- Gaya obligasi: gaya ini melibatkan perhatian yang rendah terhadap diri sendiri sehingga lebih peduli dengan kebutuhan pasangan sehingga salah satu diantaranya akan cenderung mengalah dan bersepakat untuk memuasakan pasangannya dan meredam konflik
- Gaya dominasi: gaya ini melibatkan perhatian yang tinggi terhadap diri sendiri sehingga salah satu pihak menjadi mendominasi dan kurang peduli dengan kebutuhan pasangannya. Gaya ini diidentifikasi dengan orientasi menang dan kalah atau dengan perilaku memaksa untuk memenangkan pihak yang mendominasi
- Gaya menghindar: gaya ini melibatkan rendahnya perhatian baik terhadap diri sendiri maupun pasangan sehingga menarik diri dari situasi konflik dan tidak mengakui adanya kontribusi dari masing-masing pasangan untuk menyelesaikan konflik yang ada
- Gaya kompromi: gaya ini melibatkan perhatian yang moderat baik untuk diri sendiri maupun pasangan. Gaya ini berkaitan dengan memberi dan menerima atau berbagi dimana baik suami maupun istri saling memberikan pendapat untuk membuat keputusan yang dapat diterima bersama.
Dari kelima cara di atas, gaya integrasi dan gaya kompromi yang merupakan gaya resolusi konflik yang efektif karena kedua gaya tersebut melibatkan perhatian yang tinggi terhadap tujuan individu dan tujuan pasangan. Resolusi konflik yang efektif akan mengarah pada perdamaian dan keharmonisan di dalam keluarga. Berikut adalah cara-cara yang dpaat diupayakan untuk mencapai resolusi konflik yang efektif (Renanita dan Setiawan, 2018):
- Tidak mengungkit masa lalu,
- Baik suami maupun istri sama-sama menunjukkan keterbukaan dalam menyampaikan perasaannya (baik perasaan negatif maupun positif),
- Terbuka terhadap informasi yang disampaikan pasangan,
- Tidak saling menuduh satu dengan lainnya,
- Terbuka terhadap perubahan dan mau belajar untuk menyesuaikan diri
- Peka terhadap kebutuhan pasangan dan mau membuka diri untuk proses instrospeksi
- Tingkatkan keintiman dan kepercayaan dengan pasangan
Referensi
- Rahim, M.A. (1995). Confirmatory factor analysis of the styles of handling interpersonal conflict: First-order factor model and its invariance across groups. Journal of Applied Psychology, 80(1), 122-132.
- Renanita, T., dan Setiawan, J.L. (2018). Marital satisfaction in terms of communication, conflict resolution, sexual intimacy, and financial relations among working and non-working wives. Makara Hubs-Asia, 22(1), 12-21
Ditulis oleh : Stefani Virlia, M.Psi., Psikolog
Sumber gambar: People photo created by senivpetro – www.freepik.com
Others
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025
- Helping Clients Heal from Father Wounds July 16, 2025
- Bisa romantis tapi gak kompak ngasuh anak? July 3, 2025

