Menyampaikan Perasaan dengan Cerita dan Perumpamaan
Berkomunikasi adalah faktor penting dalam hubungan. Dalam berkomunikasi, kita perlu menyampaikan pesan dengan jelas dan memastikan pasangan atau anak kita menangkap pesan yang dimaksudkan.
Sayangnya, sering kali saat menghadapi konflik kita kesulitan membuat lawan bicara kita mengerti apa yang kita alami dan rasakan. Ketika kita mengatakan bahwa kita sedang sedih, bisa jadi pasangan atau anak kita tidak memahami seberapa sedih kita. Mereka juga mungkin tidak terlalu mengerti bagaimana kejadian yang kita alami bisa membuat kita sedih sedemikian rupa.
Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Salah satu tips yang bisa kita lakukan saat kita mengekspresikan perasaan kita adalah dengan menggunakan cerita atau perumpamaan (Smalley & Trent, 2018). Contoh, ketika kita merasa kecewa dengan anak atau pasangan kita, kita bisa mengumpamakan kekecewaan tersebut dengan pertandingan bola yang dibatalkan atau pembatalan wawancara penerimaan kerja. Jadi daripada sekedar mengatakan “Aku kecewa”, kita bisa mengajak pasangan kita untuk melihat dan mengalami perasaan kita; yaitu sama seperti calon karyawan yang bersemangat untuk diwawancarai oleh suatu perusahaan, namun ternyata wawancara tersebut tiba-tiba dibatalkan. Demikian juga dengan anak kita. Mereka akan mengerti bahwa sama seperti mereka kecewa saat pertandingan bola dibatalkan, demikian juga kita kecewa dengan apa yang mereka lakukan.
Cerita/ perumpamaan yang kita gunakan bisa bermacam-macam. Tapi akan lebih baik jika kita menggunakan cerita/ perumpamaan yang pernah dialami atau dimengerti oleh lawan bicara kita.
Mengapa menggunakan cerita/ perumpamaan efektif untuk menyampaikan perasaan?
- Cerita/ perumpamaan menarik perhatian lawan bicara
Menurut penelitian, otak kita lebih cepat dan mudah untuk mencerna atau mendengar cerita daripada hanya sekedar rangkaian kata. Hal ini dikarenakan, ketika kita menggunakan cerita/ perumpamaan, lawan bicara kita akan dengan mudah menggambarkan apa yang sedang terjadi—sama seperti otak kita melihat film.
Lawan bicara kita mungkin tidak bisa berada dalam “sepatu” kita karena mereka belum pernah merasakan atau mengalami apa yang kita alami. Dengan menggunakan cerita/ perumpamaan, mereka bisa mendapatkan gambaran tentang situasi kita dengan jelas. Hal ini termasuk intensitas emosi yang sedang dirasakan—seperti seberapa dalam, genting, mengganggu, dll.
- Cerita/ perumpamaan membuat lawan bicara merasakan apa yang kita rasakan
Ketika lawan bicara kita sudah mendapatkan gambaran tentang apa yang kita alami, maka hal itu akan membantu mereka untuk berempati. Gambaran tersebut mengaktifkan emosi dan pemikiran mereka, membuat mereka seperti berada dalam “perjalanan mental” atau “teater”. Sama seperti saat kita menonton film yang menegangkan atau horror, kita seperti bisa ikut “merasakan” cerita yang kita saksikan.
- Cerita/ perumpamaan mudah untuk diingat
Penelitian menunjukan bahwa individu mengingat konsep atau percakapan dengan lebih baik dan jelas ketika pesan dijelaskan dengan cerita/ perumpamaan. Hal ini dikarenakan lawan bicara tidak hanya mendengar apa yang kita sampaikan, tapi mereka juga mengerti dan merasakannya. Hal ini membuat otak lebih mudah untuk mencerna dan mengingat pesan yang disampaikan.
- Cerita/ perumpamaan adalah pintu untuk intimasi
Banyak miskomunikasi yang terjadi dalam hubungan pasangan adalah karena perempuan dan laki-laki memiliki cara yang berbeda dalam berpikir dan berbicara—contoh, perempuan lebih emosional dan laki-laki lebih logis. Dengan mengajak lawan bicara untuk mengalami apa yang kita alami, mereka bisa merasakan emosi dan memahami jalan pikiran kita. Dalam hal ini, cerita/ perumpamaan menjadi jembatan komunikasi.
Dengan pemahaman yang lebih menyeluruh antar satu sama lain, hubungan yang dibangun akan lebih berwarna dan memuaskan. Hal ini membuat kita memiliki hubungan yang dekat, intim, dengan pasangan atau pun anak kita.
Referensi
- Smalley, G., & Trent, J. (1988). The language of love: The Secret to Being Instantly Understood. Illinois: Tyndale House Publisher.
Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Love vector created by stories – www.freepik.com
Others
- Photovoice: From Introduction to Publication 2026 April 30, 2026
- Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Emosi: Ketika Keluarga Tidak Lagi Terasa “Rumah” April 30, 2026
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025

