Orangtua dan Pengaruhnya kepada Kompetensi Sosial Anak
Pernahkah Anda bermasalah dengan perilaku anak yang agresif? Atau apakah Anda khawatir karena anak Anda membuat jarak dan sulit terbuka dengan hampir semua orang?
Perilaku agresif merupakan salah satu manifestasi dari minimnya kompetensi sosial anak. Agresivitas yang ditunjukan oleh anak bisa berupa kekerasan fisik maupun verbal. Secara keseluruhan, perilaku agresif merupakan perilaku yang destruktif untuk anak dan orang-orang disekitar mereka (Rubin & Burgess, 2002). Munculnya perilaku agresif bisa dipicu oleh banyak hal, seperti berebut mainan, tertekan akibat nilai yang jelek, dll. Saat anak menunjukan perilaku agresif, mereka berada pada tahap dimana mereka tidak bisa mempertimbangkan bahaya/ resiko dari perilaku mereka, tidak sensitif pada intensi orang lain, dan cenderung tidak mampu berempati.
Sama seperti perilaku agresif, perilaku menarik diri dari lingkungan sosial juga adalah bentuk kurangnya kemampuan anak dalam bersosialisasi. Anak yang menarik diri dari lingkungan sosial cenderung terlalu tenang dan sulit terlibat dalam aktivitas kelompok. Perilaku menarik diri jarang dinilai sebagai perilaku bermasalah. Memang, dengan anak menarik diri mereka cenderung tidak destruktif seperti anak-anak dengan perilaku agresif. Tapi hal ini akan membuat anak menjadi lebih sulit untuk ditangani seiring berkembangnya usia. Anak yang menarik diri sulit mengembangkan kompetensi sosial yang mereka butuhkan saat mereka beranjak dewasa (contoh: tidak mengerti bagaimana menempatkan diri dalam kelompok atau merespon pada emosi orang lain). Mereka juga cenderung merasa kesepian dan tidak tahu bagaimana untuk berbagi beban.
Relasi orangtua dengan anak seharusnya menjadi pondasi terbangunnya kompetensi sosial. Menurut Hartup (1985), relasi orangtua-anak memiliki 3 peran dalam perkembangan kompetensi sosial mereka:
- Interaksi orangtua-anak adalah area dimana anak pertama kali belajar mengembangkan kemampuan sosial. Kemampuan sosial ini dibutuhkan untuk memulai dan mempertahankan relasi yang positif. Contoh: anak belajar menggunakan bahasa yang tepat, tahu kapan meminta dan kapan ia perlu menunda interaksi, dll.
- Interaksi orangtua-anak seharusnya adalah “jaring pengaman” agar anak bisa mengembangkan emosi dan kognitif yang dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
- Interaksi orangtua-anak adalah model yang memproyeksikan cara kerja relasi sosial. Ekspektasi dan cara pandang anak melihat relasinya dengan orang lain berkembang dari relasinya dengan orangtua.
Bentuk pengasuhan dan perilaku orangtua juga berdampak pada kompetensi sosial anak (Rubin & Burgess, 2002). Perilaku agresi contohnya. Beberapa tokoh mengungkapkan bahwa perilaku agresi adalah bentuk mekanisme pertahanan diri. Bagaimana bisa? Beberapa anak yang menunjukan perilaku agresif tinggal di lingkungan yang cenderung berperilaku serupa. Tumbuhnya perilaku agresi adalah hasil dari mekanisme pertahanan diri dimana mereka mengidentifikasi (menginternalisasi, mengadopsi) perilaku-perilaku yang dirasa mengganggu. Dengan identifikasi ini, mereka menyerap moral standar yang ditunjukan orangtua sehingga tidak lagi merasa perilaku tersebut (contoh: kekerasan) sebagai sesuatu yang “tidak normal” atau “tidak boleh dilakukan”.
Ketika anak sudah menginternalisasi perilaku agresif, mereka akan dengan mudah menjadikan perilaku tersebut sebagai respon terhadap stress. Ketika mereka kemarahan anak disebabkan oleh orangtua, anak akan cenderung mencari subjek/ objek lain yang lebih tidak mengancam (contoh: teman, orang yang lebih lemah, saudara).
Orangtua juga berperan untuk menumbuhkan rasa aman pada anak. Rasa aman membuat anak tidak merasa terancam atau takut akan penuduhan ketika mereka berpikir atau merasakan sesuatu. Hal ini membuat mereka lebih berani dan adaptif dalam mengembangkan kompetensi sosial. Anak yang mudah marah dan tidak aman akan cenderung memunculkan perilaku agresif. Mereka akan menyerang orang-orang disekitar mereka yang dirasa mengancam mereka. Sedangkan anak yang pencemas dan merasa tidak aman cenderung menarik diri dan menghindari keterbukaan dengan lingkungan sosial.
Yang terakhir adalah peran orangtua dalam memberikan reward dan hukuman pada anak. Jika Anda memiliki anak laki-laki, apakah Anda akan memarahinya jika ia menangis? Atau adakah rasa bangga ketika anak Anda bisa membela diri sendiri dengan memukul orang lain? Dalam beberapa budaya, kekerasan adalah simbol kekuatan dan dominasi. Terkadang, orangtua cenderung memberikan reward dan membenarkan perilaku kekerasan karena alasan tersebut. Menunjukan kerapuhan adalah hal yang lain. Beberapa orang merasa bahwa kerapuhan sama dengan ketidakmampuan dan kekurangan sehingga sebisa mungkin perilaku yang mengindikasi kerapuhan (seperti menangis, atau menceritakan masalah yang dihadapi) harus dikurangi. Saat anak menghadapi masalah, dia lebih baik daripada “membongkar aib keluarga”. Tanpa disadari, perilaku anak yang kita respon dengan positif atau negatif mempengaruhi kompetensi sosial anak dan kemudian membentuk perilaku mereka.
Referensi
- Hartup, W. (1985). Relationships and their significance in cognitive development. Social relationships and cognitive development. A. Hinde, A. Perret-Clermont, and J. Stevenson-Hinde (Eds.), Social relationships and cognitive development (pp. 66–82). Oxford, England: Clarendon.
- Rubin, K. H., & Burgess, K. B. (2002). Parents of aggressive and withdrawn children. Handbook of parenting, 1, 383-417.
Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Cover photo created by karlyukav – www.freepik.com
Others
- Photovoice: Best Practice on Data Analysis and Publication January 24, 2026
- Prepare/Enrich Certified Facilitator Training & Case Study 2026 January 24, 2026
- Mengapa Gen Z cenderung tidak tertarik menikah? September 1, 2025
- Helping Clients Heal from Father Wounds July 16, 2025
- Bisa romantis tapi gak kompak ngasuh anak? July 3, 2025

