Pentingnya Bersepakat dalam Relasi Pernikahan

Banyak pernikahan yang pada akhirnya berujung pada perceraian dengan alasan pasangan suami maupun istri memiliki prinsip yang berbeda atau tidak sepakat satu dengan lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan pasangan suami-istri terhadap tujuan yang dibuat bersama dapat meningkatkan kepuasan pernikahan (Kaplan dan Maddux, 2002). Oleh karena itu, pentingnya bersepakat dengan pasangan untuk mencapai tujuan bersama di dalam relasi pernikahan. Mengapa bersepakat ini penting untuk dilakukan?

  1. Bersepakat mengandung muatan aspek kognitif dan juga emosional. Aspek kognitif merepresentasikan keinginan bersama untuk mencapai tujuan yang sudah dirancang sedangkan aspek emosional merepresentasikan perasaan positif yang mendukung keberhasilan pencapaian suatu tujuan.
  2. Bersepakat memberikan energi untuk dapat mencapai tujuan bersama.
  3. Bersepakat merupakan sebuah proses yang menggabungkan antara “having” dan “doing”. Having meliputi segala sumber daya yang dimiliki oleh individu baik suami maupun istri (seperti: potensi, bakat, karakter, dan sebagainya) sedangkan doing mencerminkan tindakan yang diarahkan untuk meraih tujuan. Apabila pasangan sudah bersepakat maka segala sumber daya yang dimiliki oleh suami maupun istri maupun strategi dan tindakannya harus mengarah pada tujuan yang sudah ditetapkan bersama (Kaplan dan Maddux, 2002).

Baik suami maupun istri perlu menerapkan strategi untuk dapat bersepakat satu dengan lainnya. Meskipun suami maupun istri membawa tujuan pribadinya masing-masing namun sebagai satu keluarga perlu adanya tujuan bersama yang dirancang dan kemudian bersepakat untuk mencapainya. Adapun strategi-strategi yang dapat diterapkan untuk bersepakat :

  1. Miliki komitmen terhadap tujuan bersama yang sudah dirancang. Komitmen memberikan energi untuk bekerja bersama mencapai suatu tujuan
  2. Berikan apresiasi berupa pujian terhadap pasangan untuk setiap upaya atau kegiatan yang dilakukan dalam mengejar suatu tujuan
  3. Komunikasikan segala tantangan atau hambatan yang muncul dalam upaya mencapai suatu tujuan. Tantangan atau hambatan tersebut dapat diatasi bila dihadapi secara bersama-sama
  4. Belajar untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh pasangan. Jadilah pendengar aktif saat pasangan sedang mengungkapkan keinginannya, kebutuhannya, ataupun duka yang ia rasakan saat mencapai suatu tujuan.
Referensi
  • Kaplan, M., dan Maddux, J.E., (2002). Goals and marital satisfaction: Perceived support for personal goals. Journal of Social and Clinical Psychology, 21(2), 157-164.

Ditulis oleh: Stefani Virlia, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Sumber gambar: People photo created by rawpixel.com – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed